
Keinginan tidak sesuai dengan harapanku, berharap semua hanya mimpi ternyata salah. Berkali-kali aku berharap apa yang terjadi padaku hari ini hanyalah mimpi.
Seru, ya, Tuhan. Saat aku tengah mencoba menjadi kebanggaannya, tapi dirinya malah kau panggil secepat ini.
Sekarang? Atas alasan apa lagi aku untuk berjuang? Tidak ada lagi alasan utamaku untuk berjuang di dunia ini.
Semua terasa menggelap dan hampa ketika tanah mulai menghimpit dan menutup tubuhnya, bayang-bayangnya kini telah hilang dari pandang.
Ke mana lagi aku sekarang harus mengadu? Pelukan siapa yang sehangat dirinya? Suara siapa yang bisa menmbuat aku terdiam?
Cinta pertamaku sudah hilang di dalam pandanganku, satu per satu orang pergi dan memeluk diriku sambil berucap dengan kalimat yang sama.
''Sabar, ya.''
''Ikhlas, ya.''
Tapi, apakah mereka tahu rasanya yang sesungguhnya? Mengapa mereka dengan mudah berucap hal yang belum mereka rasakan?
''Sayang, ayo kita Pulang,'' ajak Mama sembari mengusap bahuku.
''Duluan aja Ma, aku masih mau di sini.''
''Tapi?''
''Tante pulang aja biar saya yang jaga Azal di sini,'' suruh Pak Raditya pada Mama.
''Tolong jaga temani dia, ya.''
''Iya, Tante.''
Gundukan tanah yang berwarna merah dan taburan bunga di atasnya, kutatap tanah tersebut masih dengan perngharapan yang sama.
''Pa, Ana udah mau ngasih skripsi, lho hehehe. Eh ... malah Allah ngasih plot twins yang gak terduga kayak gini.
Sekarang gimana Pa? Ana harus gimana dong sekarang? Lanjutin aja atau sama kayak anak-anak yang lain?
Memilih untuk lama lulusnya dengan dalih tidak ada yang menunggu ia wisuda dan gak ada yang berharap dia cepat menggantikan peran orang tersebut.''
''Ehem! Azal, kau tidak boleh seperti ini, seharusnya wisudah adalah kado untuk Papamu di sana dan bukti bahwa apa yang ia lakukan selama ini untukmu tidaklah sia-sia.''
__ADS_1
Kulirik ke arah Pak Raditya yang ternyata sudah ikutan jongkok di sampingku, ''Bapak pulang aja, saya mau sendirian,'' kataku melirik ke arahnya sebentar.
"Ya, nanti gak ada yang denger apa yang sedang kau rasakan. Minimal, saya bisa membantu menjawabnya meskipun Papamu pasti mendengar hal itu."
"Saya gak butuh jawaban!"
"Huft ... yuk, kita pulang!" ajak Pak Raditya yang membuatku geram.
"Bapak pergi aja sendiri, ngapain ngajak-ngajak saya sih? Saya juga tau jalan pulangnya!" terangku dengan suara tinggi.
"Ini udah mau sore, kau belum makan. Ayo, kita makan dulu dan bantu-bantu di rumahmu yang pasti sedang berantakan.
Kau mau seberapa lama di sini gak akan merubah keadaan, seseorang yang sudah pergi gak akan kembali lagi.
Mau kau menangis darah sekalipun, dia tidak akan pernah kembali apalagi bangkit dari dalam sana!"
"Gak bisa kembali Bapak bilang?" tanyaku menatap ke arahnya dengan menaikkan sebelah alisku, "mantan istri Bapak, buktinya bisa balik lagi!"
Aku bangkit dan pergi meninggalkan, kusapu air mata dengan cepat dan berjalan setengah berlari kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, masih banyak orang yang membantu merapikan. Ada juga yang menyusun bangku di luar rumah karena akan ada tahlilan sampai tiga hari berturut-turut nantinya.
Tak kuhiraukan dan terus berjalan masuk ke dalam kamar, kujatuhkan tubuh kembali menangis untuk ke sekian kalinya.
Ternyata, seberat ini rasanya ditinggal seseorang yang paling berarti dalam hidup kita, ya? Bagaimana ke depannya nanti?
Apakah aku bisa menjalaninya kembali seperti biasa atau malah aku mengambil jalan pintas untuk ikut dengannya?
Astaghfirullah ... pikiran apa yang terlintas di dalam benakku, bukankah hal tersebut adalah perbuatan paling dibenci Allah?
"Ana, Abang izin masuk, ya," ucap Abang memberi tahu.
Tak lama, suara pintu terbuka terdengar. Aku tetap dengan posisiku tidak peduli ia sedang melakukan apa.
"Ana ...," panggil Abang dan duduk di sampingku.
"Ana ... kau tidak boleh seperti ini, Papa pasti akan sangat sedih jika melihat dirimu malah menjadi anak yang pemurung seperti ini.
Papa udah tenang di alam sana, Papa udah bahagia. Papa ... akan sedih jika melihat kita malah berlarut-larut dalam kesedihan.
__ADS_1
Bukannya kau juga sudah belajar bagaimana caranya jika saat kematian seseorang yang kita sayangi datang waktu di kajian dulu?
Bagaimana ... kita seharusnya sebagai hamba menyikapi kematian seseorang itu dengan tidak meraung-raung.
Apalagi sepertimu ini, bukankah kau tak kasian pada Papa karena melihatmu berperilaku seperti ini?"
"Kenapa? Kenapa aku gak dikasih tau kalo Papa meninggal?!" tanyaku dengan mencoba duduk.
"Sudah, kau sudah melihat handphone-mu? Sudah ada pesan yang Abang kirimkan dan saat Abang mau mengabarimu lewat telpon tapi nomormu di luar jangkauan."
Aku terdiam karena memang belum melihat pesan meskipun memang ada beberapa pesan yang masuk ke aplikasi hijau-ku.
"Sudah, ya, jangan terlalu meratapi yang sudah pergi. Biarkan dia tenang di alam sana dan kamu jangan berpikiran untuk mengakhiri segalanya yang sekarang sedang kau usahakan.
Masih ada Abang juga Mama yang menanti kesuksesan dirimu dan Papa juga pasti melihat dari sana.
Jika kau sukses, dia juga bangga dan bahagia hanya saja tidak terlihat oleh mata tapi terlihat oleh mata hati kita.
Jadi, terus berusaha setidaknya untuk yan masih ada. Abang ke luar dulu karena masih ada kerjaan, kalau kau sudah merasa baikan.
Ke luar, bantu Mama dan yang lainnya juga," terang Abang mengusap kepalaku lalu pergi dari kamar.
Kulihat ke arah kaca, mata yang sudah sembab dan hidung merah. Kerudungku bahkan sudah diganti Mama menjadi mukena karena takut kalau kerudung itu tersingkap nantinya.
Berjalan dengan lesu dan duduk di depan kaca hias, sekarang sebelah sayapku telah patah dan tak tersisa.
Aku ... hanya bisa mengandalkan sebelah sayapku lagi. Kalau dia ikutan patah? Mungkin, aku juga memilih untuk ikutan musnah.
"Ana ...!" pekik seseorang yang masuk ke dalam kamar. Ayudia, ya, dia yang baru saja masuk ke dalam kamar ini.
"Kamu kuat, ya, iya, aku tau kamu pasti kuat!" sambungnya yang langsung memeluk diriku.
Ia menangis di dalam dekapanku, sedangkan aku hanya diam tanpa ekspresi sama sekali. Air mata mungkin sudah kering akibat terlalu lama menangis.
"Maaf bangat aku ngabari kau di saat ingin menyerahkan skripsi, aku niatnya hanya ingin menanyakan kepastian. Ternyata, kau sama sekali belum tau hal itu."
"Gak papa, makasih juga udah ngasih tau. Kalo enggak? Aku mungkin gak tau kalo Papaku meninggal."
"Intinya, kau harus tetap semangat. Jangan sampai berhenti mengejar cita-citamu hanya karena ini. Om pasti akan sangat sedih jika hal itu terjadi!"
__ADS_1
"Ya, akan aku coba. Makasih, ya," kataku tersenyum ke arahnya.