(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Makan Terlebih Dahulu


__ADS_3

Kukerjapkan mata saat mendapati perutku sedikit berat, kusingkap selimut ternyata sudah ada tangan kekar yang melingkar di perutku.


Pemilik wajah teduh yang kadang; menyebalkan, mengerikan dan menjengkelkan tengah tertidur dengan bibir yang melengkung.


"Dih, mimpi apaan dah?" tanyaku menautkan alis menatap wajahnya.


Kulihat ke arah jam dinding sudah hampir Asar, melepaskan tangan Mas Raditya perlahan agar tak mengusik tidurnya.


"Tunggu, sebentar lagi. Aku masih capek," gumam Mas Raditya dengan suara serak membuat aku menatap ke arahnya dengan kaget.


Kuhela napas dan membiarkan posisinya kembali, tanganku terulur mengusap kepalanya meskipun dengan sedikit ketakutan.


Usapanku tak hanya ke kepalanya, aku ingin mengusap wajah yang terpahat dengan sempurna di depanku kini.


Matanya terbuka dengan perlahan dan membuatku menghentikan aktivitas-ku tadi, "Mas terganggu, ya? Maaf, ya," kataku yang ingin menarik tangan dari kepalanya.


Ia menggelengkan kepala dan mengambil tanganku, di kecup dengan waktu yang cukup lama.


"Terima kasih, terima kasih sudah menungguku selama tiga tahun lamanya. Terima kasih sudah menolak yang hadir untuk takdirmu ini.


Maaf, jika nanti atau bahkan beberapa hari yang lalu. Selama menjadi suamimu, aku belum bisa berperan dengan baik.


Jika nanti ada kesalahanku yang membuat kau terluka, aku mohon beritahu aku dan jangan pergi meninggalkanku begitu saja. Bisa?"


Kuanggukkan kepala dengan tersenyum, wajahnya mendekat ke wajahku. Terasa ada yang menempel di keningku, ia kemudian menjauhkan tubuhnya.


"Yaudah, yuk, salat! Biar aku imamin," aja Mas Raditya.


Selama di rumah Mama memang jarang sekali dia jadi imam salatku, sebab dirinya akan salat di Masjid dekat rumah sedangkan aku di rumah tentunya.


Kalau di sini? Kami belum menemukan Musala atau Masjid sekitar hotel. Jadi, lebih baik di hotel saja berjamaah.


Selesai mengerjakan kewajiban dan terlebih dahulu mandi tentunya, Mas Raditya mengajak aku untuk mencari makan.


"Aku udah laper banget Ana, kenapa kita gak makan di hotel aja?"


"Mau makan di mall aja Mas, sekalian cuci mata dan beli jajan."


"Kapan kita akan mulai jalan-jalan?"


"Besok aja Mas, nah, hari ini kita beli memang jajanannya."


"Hmm, padahal di tempat wisatanya juga pasti akan ada makanan."


"Harganya beda Mas, kita harus hemat."

__ADS_1


"Buat apa hemat? Bukannya kita berdua sama-sama bekerja, lantas untuk apa bekerja jika gak bisa dinikmati? Lagian, bukan setiap saat kita liburan.


Aku yakin, baru kali ini kau datang ke Bali, 'kan?" tebak Mas Raditya membuatku mengerucutkan bibir.


"Mas kayak ibu-ibu rempong aja deh, banyak ngomongnya. Udah, kali! Ikut aja apa mau istri Mas yang cantik dan baik hati ini.


Lagian, Mas tenang aja. Uang Mas akan habis aku buat, kok. Gak perlu panik begitu hanya karena belanja ke mall dikira akan hemat," geramku memeluk tangannya sebelah.


Kami hanya perlu berjalan dari hotel ke mall karena jarak yang tak terlalu jauh, masuk ke dalam mall dan mengambil troli.


"Mas bawain, ya," titahku menyerahkan troli.


"Kita makan dulu aja, yuk!" ajak Mas Raditya menatap ke arahku. Aku diam dan melirik ke arah troli.


"Yaudah, yuk! Mas udah laper banget kayaknya, ntar malah ada berita gara-gara mendorong troli dan tak makan. Pria yang sedang berlibur di Bali pingsan," ejekku meletakkan kembali troli ke tempatnya dan berjalan membawa Mas Raditya ke arah restoran yang ada.


"Kamu kira, saya selemah itu?"


"Ya, yang ngerengek mau makan dari tadi itu siapa? Mas, 'kan? Bukan aku!" gertakku dengan tatapan sinis.


"Lagian, masa mau disuruh-suruh tapi gak dikasih makan dulu. Harus dikasih makan biar semangat saya bisa bertambah."


"Iy-in," jawabku singkat melihat-lihat restoran yang ada, "makan di mana?"


"Ke situ aja," tunjuk Mas Raditya berjalan lebih dulu sambil menggandeng tangan.


"Mas, bagus ya tempat--" Aku terdiam dan menautkan alis ketika melihat ia mengarahkan handphone ke aku.


"Mas, kamu foto aku diam-diam, ya?" tanyaku curiga.


"Enggak, siapa juga yang foto kamu?"


"Itu tadi, kenapa arah ponsel kamu ke aku?"


"Aku lagi cek kerjaan ini," tunjuknya padaku isi layar handphone-nya.


Aku hanya diam sambil memajukan bibir, "Dih, padahal dia kayak habis foto-in aku tadi," gumamku mengambil handphone yang ada di dalam tas.


Kuhidupkan kuota internet yang beruntungnya di sini juga ada sinyalnya bahkan terbilang lancar.


[Kak, Daisha mana?] tanyaku pada Kak Kamelia yang terlihat sedang aktif.


[Lagi mandi sama Dara]


[Siapa yang ngejaga Kak?]

__ADS_1


[Ini, Kakak lagi liatin mereka. Mereka mandi di luar sambil siram bunga katanya, biar kayak di kolam renang gitu.]


[Haha, udah makan mereka Kak?]


[Sudah, ini nanti mau aku kasih susu hangat biar gak masuk angin mereka.]


[Makasih, ya, Kak]


[Iya, sama-sama. Udah, kamu sama Raditya fokus honemoon aja. Daisha aman, kok, sama Kakak.]


[Iya, Kak. Nanti sebelum tidur, video call bentar, ya, Kak. Aku mau nanya gimana dia di sekolah, biasanya aku akan nanya begitu pas malam sebelum tidur.]


[Oke, habis Isya aja nanti, ya. Mana tau kalian jam 9-an mau dinner romantis. Takut ganggu hehe.]


[Ish, apaan, sih Kak? Yaudah, ya, Kak. Sekali lagi makasih.]


[Sama-sama.]


Aku keluar dari aplikasi hijau ketika melihat sudah tak ada lagi pesan penting, paling hanya grup alumni kuliah juga pesan dari berbagai aplikasi belanja online yang terhubung ke situ.


Kembali lagi ketika tak sengaja melihat status aplikasi hijau, ada Ayu yang mengunggah video memperlihatkan dirinya ada di ....


"Mas!" panggilku membuat Mas Raditya menatap ke arahku.


"Iya, ada apa?"


"Ayu ada di Bali juga!"


"Terus?"


"Gimana kalau kita sama-sama jalannya sama mereka?"


"Enggak, ah. Lagian, kita ke sini itu mau liburan berdua. Bukan malah couple date, mereka juga mau mesra-mesraan. Kalau kita ada, mereka gak enaklah," tolak Mas Raditya membuatku terdiam.


Aku mengangguk kala merasa bahwa apa yang diucapkan Mas Raditya ada benarnya, menatap ke arah pelayan yang tak kunjung datang.


"Lama banget, sih?" keluhku menatap kembali ke arah Mas Raditya.


"Lah, kamu 'kan gak laper. Kenapa gelisah gitu makanannya lama datang?"


"Ya, biar kita bisa lama belanjanya Mas. Kalo kayak gini lama datang makanannya, kita gak bisa lama-lama belanja dong," ungkapku alasannya membuat Mas Raditya menggelengkan kepala.


Keluar dari aplikasi hijau dan beralih ke aplikasi berlogo kamera itu, sudah lama banget aku tak mengunggah foto di aplikasi ini.


Kulihat ada cerita di akun yang padahal terbilang sangat jarang mengunggah kehidupannya di media sosial.

__ADS_1


Mataku berbinar dan bibir tertarik ke angkat, aku bahkan menutup mulutku agar tak disangka kurang waras oleh orang-orang karena senyum-senyum sendiri.


__ADS_2