(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Hak Cemburu


__ADS_3

Aku sudah bersiap-siap, merapikan kembali kamar yang akan kutinggal pergi lagi. Hari ini, aku akan kembali pergi bersama Pak Raditya dan Daisha.


Setelah para tamu tahlilan pulang di malam terakhir, kami pun harus pulang karena besok Daisha harus masuk sekolah untuk pencocokan kostum dan latihan sebelum tampil.


"Kalian sering-sering main ke sini, ya."


"Inn Syaa Allah, Ma. Nanti, kalau semua udah beres pasti kita akan ke sini balik, kok."


"Yaudah, kalian jaga diri baik-baik, ya. Hati-hati Raditya bawa anak gadis orang!" peringat Mama dan dibalas senyuman olehnya.


Aku menyalimi Abang dan Mama, setelah itu perlahan masuk ke dalam mobil. Sebenarnya, cukup sulit untuk meninggalkan apa lagi keadaannya seperti ini.


Namun, toh ini juga salahku yang ingin pindah kampus. Otomatis, mau tidak mau aku harus pergi kembali ke sana.


Daisha sudah tidur karena kami bergerak dari rumah jam 10 malam, setengah jam setelah selesai acara tahlilan.


Hari pertama saat dikabarkan Papa meninggal, tidak ada satu pun orang yang meminta hutang padanya begitupun hari-hari berikutnya.


Aku cukup lega bahwa ternyata Papa tidak meninggalkan sesuatu yang berbentuk memberatkan ia di sana.


"Ehem!" dehem Pak Raditya dan membuatku menatap ke arahnya. Dari hari kedua hingga ketiga, kami memang tidak ada komunikasi.


Lebih tepatnya, ia menghindariku entah sebab apa. Tapi, memang sampai hari ketiga Rian selalu datang dan kembali dekat denganku.


Bukan, bukan dekat dalam rangka ingin mengambil hatiku. Tapi, aku selalu diajarkan oleh Mama untuk memaafkan semua orang di dunia ini yang berbuat salah padaku.


Ya ... jadi, tidak ada salahnya, bukan? Kalau aku mencoba memaafkan dirinya, toh, tidak ada yang salah dari hal itu.


"Kenapa Pak?" tanyaku menaikkan sebelah alis.


"Kau dekat lagi dengan dia?"


"Dia? Siapa?" tanyaku yang memang tidak mengerti.


"Laki-laki di kampusmu itu."


"Oh, Rian. Enggak juga, ya, temenan aja."


"Tidak ada pertemanan antara cewek dan cowok."

__ADS_1


"Bukannya itu buat kalimat sahabat, ya, Pak?"


"Temen juga gak ada."


"Hmm ... jadi, apa dong? Kawan, ya, kami kawan deh," jawabku sambil tertawa.


Cit!


Mobil tiba-tiba berhenti di pinggir jalan, aku hampir saja akan terjedut akibat ulah Pak Raditya jika tidak pakai sabuk pengaman.


"Dih, Bapak apaan, sih?" tanyaku dengan marah sambil memegang dada yang berdegub kencang.


Kulihat ke arah Pak Raditya, ia manatapku dengan tatapan yang aku sendiri tidak memahaminya.


Ia diam dan memukul setir bulatnya itu, "Bapak kenapa, sih?" pekikku yang malah takut dengan keadaannya sekarang.


"Jangan dekat dengan dia lagi!" tegasnya dengan dingin dan kembali menjalankan mobil.


Ha? Apa tadi dia tengah cemburu padaku? Wow sekali cemburunya, sampai semarah itu terhadap diriku.


Aku yang memang tidak tahu hal itu, tentu saja hanya diam menyikapi dirinya. Ternyata, di diamnya ia sedang cemburu dan aku tidak sama sekali tahu.


Tangannya menghidupkan musik tanpa menatapku, "Bapak ngantuk?" tanyaku saat melihat ia mengucek matanya.


Diam, tidak ada jawaban apa-apa yang keluar dari mulutnya, "Kalau Bapak ngantuk, biar saya aja yang bawa," kataku kembali.


Sama saja, tidak ada jawaban apa pun yang kudengar. Aku mendengus kesal, kalau usah jadi suami-istri mah enak.


Kalau dia marah atau ngambek gini, aku bisa tinggal peluk atau puk-puk kepalanya. Pasti lucu seperti video yang kulihat kemarin.


Eh-eh, malah treveling nih pikiran sampai aku dan dia jadi pasangan. Hadeuh ... kebiasaan, sih!


"Pak ... maafin saya, ya. Saya gak niat buat Bapak cemburu apalagi sampe marah kayak gini, ya, saya emang gak tau aja," kataku menatap ke arahnya.


Kembali mobil ia berhentikan dan menatap lurus ke depan, "Turun!" titahnya padaku.


"Pak, Bapak nyuruh saya jalan kaki ke sana? Bapak, kok, tega sama saya? Lagian, kalo saya deket sama dia hubungannya sama Bapak apa?


Gak ada tuh di kontrak kerja tertulis gak boleh pacaran, jadi gak masalah juga dong kalau saya pacaran sama dia," jelasku panjang kali lebar karena takut jika sampai di tinggalkan di jalan dengan keadaan malam seperti ini.

__ADS_1


"Udah?" tanyanya sambil melihat ke arahku dengan tatapan malas.


"Belum!" larangku, "bapak juga aneh tau, masa Bapak cemburu untuk seseorang yang bukan milik Bapak.


Ya ... setidaknya harus jadi milik Bapak dulu dong baru Bapak boleh cemburu. Jangan berharap saya bisa ngertiin Bapak kalo Bapak gak ngomong.


Saya bukan paranormal atau pembacar pikiran juga hati seseorang, saya hanya manusia biasa Pak."


Aku terdiam kembali dan ingin mengambil napas, "Tunggu dulu, Pak! Saya belum selesai!" potongku saat ia ingin bersuara.


Akhirnya, Pak Raditya mendengarkan apa saja yang aku ucapkan. Wajah yang tadinya datar kini tersenyum tipis entah apa sebabnya.


Kalau kalian ingin tahu gimana dia sekarang melihat aku, sama persis seperti di dalam drama-drama luar negri.


Di mana, perempuannya berbicara panjang kali lebar laki-lakinya hanya diam dan mendengarkan wanitanya itu.


"Sudah?" tanya Pak Raditya saat aku terdiam sekitar lima menit karena memang sudah bingung mau ngomong aku.


Kuanggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaannya tadi, "Okey, kalo gitu. Ayo kita keluar karena kita jadi lebih lama di mobil lebih tepatnya hampir setengah jam di mobil," terangnya membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil lebih dulu.


'Apa?' batinku yang kaget dan langsung melihat ke arah samping. Kupukul keningku karena merasa beg* pada diri sendiri.


'Gue kira dia mau nurunin gue mangkanya berhenti, ternyata udah sampe! Mana gue tadi ngomongnya aneh-aneh, lagi,' batinku menyesali apa yang aku katakan.


"Tenang aja, kalau kau ingin aku punya hak untuk cemburu. Akan kubuat hak itu nanti, sekarang kau cukup fokus ke skripsimu Azal," jelas Pak Raditya yang berada di belakang karena ingin membawa Daisha.


Aku hanya menutup mata untuk menutupi rasa malu, ia pergi dengan menggendong Daisha masuk ke dalam rumah.


"Astagaa Ana, lu kok makin lama makin bego, sih? Kuliah bukannya pintar malah bego, eh, tapi di kuliah juga gak ada pelajaran soal cinta.


Jadi, wajar sih kalo aku bego. Nanti, kalau aku jadi guru atau dosen. Aku mau buat mata pelajaran tambahan.


Biar jangan ada generasi bego lagi soal percintaan t*i kucing itu," geramku mengambil tas dan segera keluar dari dalam mobil kesal.


"Tidurlah, sudah malam. Besok kau harus ke kampus," titah Pak Raditya yang baru saja keluar dari kamar Daisha sedangkan aku berdiri di depan pintu.


Aku mengangguk dengan kepala yang tertunduk, sepatunya menjauh dari sisiku. Aku langsung masuk ke dalam kamar ketika merasa ia sudah pergi jauh.


"Aaa!" pekikku saat ingin menutup pintu dan melihat ternyata masih ada orang.

__ADS_1


"Hahhaa, mangkanya jangan biasain. Orang ngobrol malah nunduk," tegur Pak Raditya yang berhasil membuat aku panik sampai mengelus dada.


__ADS_2