(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Khawatir


__ADS_3

Suara lantunan ayat-ayat Al-qur'an terdengar hingga ke dapur, aku keluar dari kamar setelah salat Isya.


Lebih tepatnya sebab dipaksa oleh Mama, karena aku belum makan sama sekali seharian. Mama dan ibu-ibu sedang menyiapkan teh juga cemilan untuk tahlilan.


"Kamu cari siapa?" tanya Mama dengan suara yang masih serak.


"Pak Raditya, mana, ya, Ma?" tanyaku sambil clingak-clinguk mencari keberadaan laki-laki itu.


Sebab, setelah pulang dari kuburan aku tidak melihat dan mencari tahu dia ada di mana.


"Mama juga gak tau, tadi pas dari kuburan. Dia gak ikut pulang sama kamu?"


Kugelengkan kepala dengan wajah yang merasa bersalah, "Lah, kenapa gak sama kamu? Kalau dia kesasar, gimana?"


"Gak mungkin kesasar, sih, Ma."


"Ya, terus? Mmm ... mungkin dia ada di depan, bantuin Abang. Udah, kamu makan dulu."


Kuanggukkan kepala dan kembali menyuap nasi ke dalam mulutku, sambil sesekali merasa gelisah mencari keberadaan Pak Raditya.


Acara selesai jam sembilan malam, semua orang sudah pergi dan bangku sudah di susun paling besok malam baru di tata kembali.


Aku terduduk di lantai ruang tamu, ruangan yang semulanya menjadi tempat yang begitu favorit. Kita, menjadi sumber luka.


Abang melintas dari depanku, "Bang!" panggilku membuat ia berhenti dan menatap ke arahku.


"Iya?"


"Liat Pak Raditya?"


"Gak ada tuh, emangnya dia ke mana?"


"Ya, kalo tau ngapain Ana pake nanya ke Abang?" tanyaku dengan sedikit sebal ke arahnya.


"Haha, ya, Abang gak tau dia di mana. Mungkin, lagi pulang ke rumahnya." Abang berlalu ke dalam entah mengambil apa.


Ada benarnya juga, bisa jadi Pak Raditya tengah pulang ke rumahnya. Ngambek karena aku usir tadi pagi.


"Ehem! Kalau khawatir mah, ya, tinggal telepon aja kali. Ngapain nanya-nanya ke orang lain?" sindir Mama berjalan ke arahku sambil membawa air minum dan lebihan makanan.


"Ish, apaan, sih, Ma? Siapa juga yang khawatir?"

__ADS_1


"Orang yang dari tadi nyariin dan nanya-nanya ke mana Raditya berada."


"Ih, Ana gak khawatir cuma--"


"Cuma kangen, Ma!" potong Abang yang juga ikut duduk di samping Mama.


"Abang, ih!" kesalku memajukan bibir.


Tok! tok! tok!


Pintu memang sudah di tutup setelah merasa bahwa semua orang telah pergi, kami saling pandang karena melihat sudah sangat larut.


"Siapa, Ma?" tanyaku ke arah Mama yang mengunyah dengan begitu pelan.


"Ya, mana Mama tau. Kamu kira Mama punya mata batin bisa ngeliat orang tanpa buka pintu dulu?" papar Mama dengan sedikit sewot.


Abang yang merasa bahwa ia laki-laki dan harus lebih berani juga bisa melindungi kami, bangkit memilih membuka pintu untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini.


Ceklek!


Pintu dibuka Abang dengan lebar, "Mami!" pekik seseorang yang langsung berlari ke arahku dengan kencang.


Hampir saja aku akan terjatuh karena sangking kuatnya ia berlari dan memelukku, kulihat ke arah pintu tidak lama setelah Daisha masuk.


"Assalamualaikum Tante," salam Pak Raditya menyalim tangan Mama.


"Waalaikumsalam, Raditya."


"Daisha mau menemani Mami, Daisha mau menghibur Mami biar gak sedih."


"Kalian kenapa gak datangnya pagi aja? Kayak gini malam-malam mana Daisha baru dari rumah sakit juga," timpal Mama mengusap rambut Daisha dengan alis yang tertaut.


"Daisha sendiri yang mau malam ini juga Tante," jelas Pak Raditya tersenyum dengan bibir tipisnya itu.


"Eh, Bro. Lu tau, gak? Tadi ... tuh, ya, ada yang nyariin lu, lho. Beuh ... keknya panik banget liat lu gak balik-balik dari pemakaman tadi," terang Abang mengejekku membuat aku membulatkan mata.


Bisa-bisanya ia malah cepu banget, ngasih tahu Pak Raditya soal itu, "Dih, apaan, sih Abang!" tegurku mendorong bahunya.


Pak Raditya tersenyum menatap ke arahku dengan tatapan tajam yang meneduhkan miliknya sedangkan Mama pun ikut tertawa.


"Daisha? Daisha sakit apa, Nak?" tanya Mama menatap ke arah Daisha yang ada di pangkuanku.

__ADS_1


"Cuma kecapean Nenek, karena bentar lagi Daisha akan tampil di sekolah. Nenek sama Om datang buat liat, ya."


"Wah ... tampil apa?"


"Jadi, di sekolahnya emang ada acara tiap tahunnya untuk pelepasan anak murid Ma. Kebetulan, Daisha terpilih."


"Oh, iya, Tante. Mama dan Papa saya turut berduka cita, maaf mereka gak bisa datang ke sini soalnya lagi di luar kota."


"Iya, gak papa kok."


"Yaudah, ayo kita tidur! Udah malam ini," potong Abang mengingatkan jam yang tanpa sadar sudah ke angka sepuluh.


"Kalau gitu, Raditya tidur di kamar Tante aja. Tante tidur bareng Ana dan Daisha. Boleh Nenek tidur sama kamu, 'kan, Sayang?" tanya Mama seolah meminta izin kepada Daisha sambil mencolek dagunya.


"Boleh dong Nek!" seru Daisha yang pastinya memang akan sangat senang.


"Yaudah kalau gitu, yuk, kita masuk duluan!" ajak Mama dengan menggandeng tangan Daisha. Mereka berdiri pergi meninggalkan aku yang masih menyimak pembicaraan mereka tadi.


"Bro, gue masuk duluan juga, ya. Biar Ana nanti yang nganter lu ke kamar Mama," pamit Abang yang juga ikutan pergi.


"Lah-lah?" protesku mendongak melihat ke arahnya yang malah ikut pergi juga.


Keadaan hening dan canggung seketika, "Ehem! Bapak ... udah mau tidur?" tanyaku basa-basi menatap ke arahnya.


"Mmm ... bentar lagi, deh. Soalnya badan saya masih agak pegal."


"Lah, Daisha baru aja Bapak ambil dari rumah sakit?" tanyaku yang kaget mendengar alasannya tadi.


"Bukan, tapi pas dari pemakaman saya liat CCTV dari handphone saya. Clara melukai Daisha dengan memaksa Daisha memakan bubur.


Padahal, Daisha menolak seharusnya dia bisa membujuk dengan cara yang baik-baik. Malah, ketika Daisha gak mau, dia biarkan begitu aja dan pacaran dengan laki-laki lain di ruangan itu.


Hingga ... Daisha ingin minta minum tidak dihiraukan oleh Clara, Daisha hampir jatuh akibat susah mengambil air minum yang ada di nakas.


Beruntung, saya tepat waktu datang di situ hingga tidak terjadi hal yang gak diinginkan seperti itu. Daisha juga udah dibolehin pulang, karenanya saya bawa.


Sebenarnya, dia belum tau kalau Papa kamu meninggal. Hingga sampai di rumah di kota ini, dia nanya kenapa kau tidak ada.


Ya ... saya kasih tau alasannya, dia malah merengek bahkan menangis sejadi-jadinya ingin bertemu denganmu meskipun sudah saya bujuk buat ketemunya besok pagi aja."


Aku mengangguk paham mendengar penjelasan Pak Raditya barusan, "Saya juga liat Bu Clara sama cowoknya itu, sih, tadi pagi di lampu merah," timpalku menatap ke arah Pak Raditya.

__ADS_1


Ia hanya menaikkan alis acuh dengan apa yang kukatakan, "Udahlah, biarin aja apa yang mau dia lakukan. Bukan urusan saya," jawab Pak Raditya.


__ADS_2