(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Terlambat


__ADS_3

Mereka duduk di ruang tamu, aku yang bingung memilih untuk tidak ikut duduk bersama dengan mereka.


Berjalan dengan sedikit mengendap-ngendap sedangkan mereka sibuk bercerita yang sudah pasti tak kupahami.


"Mami!"


"Mami mau ke mana?"


Seketika langkah kakiku terhenti, keringat membanjiri tubuh juga tubuh yang menegang. Dengan sedikit keberanian, kubalikkan badan meskipun dengan susah payah.


"Eh, hehe. Itu, Sayang. M-mami mau ... buatin minum! Ya, buatin minum," seruku saat ide yang masuk akal datang tepat waktu.


"Oh ... Daisha bantuin, ya!" katanya sambil berniat turun dari pangkuan.


"Gak usah, Sayang. Mami bisa sendiri, kok, hehe," jawabku dengan cengengesan karena semua orang melihat ke arahku kecuali Pak Raditya.


"Gak usah banyak gulanya, ya," peringat Mama Pak Raditya padaku.


"Oh, b-baik Buk," ucapku dengan terbata-bata.


Kembali membalikkan tubuh dan berjalan ke dapur, sesampinya di dapur kusandarkan tubuh ini di kulkas.


Jantungku berdegub kencang dan napas tak beraturan, kukeluarkan napas sebanyak-banyaknya dan mengaturnya agar tak kekurangan napas nanti ketika bertemu kembali dengan Mama Pak Raditya di depan.


Sengaja kulama-lamakan membuat tehnya, hingga 30 menit waktu berlalu aku memilih keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi teh tadi.


Mencoba untuk tetap tenang meskipun sebenarnya aku sangat-sangat gemeteran, kuletakkan teh di meja.


"Kamu mau ke mana?" tanya Mama Pak Raditya saat aku berdiri dan berniat pergi kembali.


"Eh, ini, Buk. Saya mau balikan nampannya," jawabku menunjukkan nampan yang ada di tangan.


"Udah nanti aja, sana duduk di samping Raditya," titahnya membuatku kembali kaget.


Mungkin setelah ini, aku harus periksa ke rumah sakit tentang jantungku. Takut jika terjadi apa-apa akibat situasi saat ini.


"Saya, duduk di situ aja, ya, Buk," tawarku di kursi single itu.


"Enggak, udah duduk aja di samping Raditya."


Kuanggukkan kepala pelan dan berjalan ke arah sofa dengan menunduk, aku bahkan tak berani menatap wajah Mama Pak Raditya yang sekarang ada di hadapanku.


"Jadi, sejak kapan kalian menikah?"


Refleks aku langsung mengangkat wajah dan menatap ke arahnya, mendengar pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu.


"Kita gak pernah nikah Ma," jawab Pak Raditya yang terkesan santai.


"Terus tadi?"

__ADS_1


"Biar Mamanya dia itu cepat pergi, kalau Raditya bilang belum juga punya istri bisa-bisa dia memaksa Raditya untuk terus-menerus balikan sama anaknya itu."


"Tapi, kamu tau 'kan bagaimana keluarga mereka? Jika mereka malah mencelakai wanita ini bagaimana?" Sekarang, Papa Pak Raditya yang bersuara.


Suara mereka lumayan mirip, hanya saja suara Papa Pak Raditya lebih terkesan berat dibanding anaknya.


"M-maksudnya gimana, ya, Pak?" tanyaku memberanikan diri bertanya soal apa yang baru saja dibicarakan oleh Papa Pak Raditya.


"Mereka bisa aja mengejar kamu karena mengambil Raditya dan Daisha."


"Lah, saya 'kan gak ngambil."


"Tapi, kamu 'kan tadi udah pura-pura jadi istri Raditya dan ditambah Daisha yang manggil kamu dengan sebutan Mami."


Aku mencoba memahami apa yang barusan dikatakan oleh Papa Pak Raditya.


'Oh, iya, kok gue gak kepikiran, ya? Dasar, lu, t*lol banget Azaleana. Gimana kalo permasalahan ini malah semakin panjang?' batinku mencaci diri sendiri yang tak terpikir hingga sejauh ini.


"Papa tenang aja, Raditya udah sewa bodyguard untuk melindungi mereka."


"Nama kamu siapa?"


"Azaleana Buk."


"Sudah lama di sini?"


"Baru sebulan kayaknya."


"Kebetulan lagi kuliah."


"Kuliah? Baru masuk atau udah lama?"


"Lumayan lama."


"Lah, artinya kamu bukan orang kalangan bawah, dong. Kenapa bisa jadi pengasuh Daisha?" tanya Mama Pak Raditya dengan bingung.


Ia melihat ke arah suaminya dengan penuh tanya, bahkan wajah diriku dan Pak Raditya juga tak tertinggal di tatap olehnya.


Pak Raditya akhirnya menceritakan dari awal hingga akhir, aku hanya diam saja dengan beberapa kali bersuara saat Mama Pak Raditya memberi pertanyaan.


"Kalau kayak gini, Mama gak akan ada alasan lagi buat gak kumpul sama geng Mama. Mama bisa bawa Ana ke tempat kumpul Mama dan bilang kalo Ana menantu Mama."


"Ma, gak bisa gitu dong. Jangan malah membuat hal ini semakin rumit dengan begitu."


"Ye ... Daisha ikut, ya, Nek!" seru Daisha dengan mengangkat tangannya ke atas.


"M-maaf Buk, saya gak bisa soalnya. Mungkin, bentar lagi saya juga akan berhenti dari sini."


"Kenapa?" tanyanya dengan kaget.

__ADS_1


"Saya rasa, ini udah bukan urusan saya. Saya takut ikut campur dalam masalah Pak Raditya terlalu panjang dan dalam nantinya."


"Terlambat."


"Maksud Papa?" tanya Pak Raditya pada Papanya dengan wajah yang datar itu.


"Kamu sudah mau mengakui dirimu istri Raditya di depan wanita tadi maka kamu sudah masuk ke dalam masalah.


Kalau kamu pergi begitu saja, yang ada masalahnya akan lebih besar atau bahkan mengancam nyawa kamu."


Kutatap wajah Pak Raditya, bulir bening seketika ingin tumpah karena apa yang baru saja diucapkan oleh Papa Pak Raditya.


Aku tak pernah tahu bahwa masalahnya malah akan seperti ini, aku kira semua akan selesai begitu saja setelah tadi.


Bangkit dan berlari ke kamar, tak perduli dengan mereka yang mungkin menganggapku tak sopan setelah ini.


Kusapu air mata dan menutup pintu kamar, merebahkan tubuh menutup wajah menggunakan bantal.


Kerinduan akan kehidupan yang dulu seketika hadir, aku rindu di mana tak perlu memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.


Yang perlu kupikirkan hanya; jajan, jalan, kuliah dan meminta uang saja. Tapi, sekarang? Semuanya berubah seiring dengan berjalannya waktu.


Terjebak di permasalahan seseorang, seorang duda lebih tepatnya malahan. Ingin pergi pun sebenarnya aku tak tahu harus ke mana.


Balik ke rumah? Belum tentu aku akan diterima lagi, bahkan uang saku saja tak kunjung di kirim hingga saat ini.


Tok! tok! tok!


"Azal, saya mau kita bicara berdua. Apa boleh saya masuk?" Suara Pak Raditya terdengar dari luar pintu kamarku.


Kutarik tisue untuk membuang cairan dari hidung dan mengelap wajahku dari air mata. Padahal aku nangis belum terlalu lama.


Namun, rasanya mataku sudah sembab, "Masuk aja, Pak! Gak saya kunci pintunya," teriakku dengan duduk di pinggir ranjang.


"Baik, saya masuk!"


Ceklek.


Pintu tak di tutup kembali dan Pak Raditya masuk ke dalam kamarku, ia menarik kursi meja rias dan duduk di dekat pintu yang terbuka tadi.


"Azal ... maafkan saja."


"Bapak kenapa gak bilang kalau setelah ini akan semakin panjang ceritanya? Seharusnya Bapak ngasih tau plus dan minus setelah saya pura-pura ngaku sebagai istri Bapak dong.


Ini, Bapak cuma ngasih tau plusnya doang dengan uang jajan yang besar. Sekarang gimana? Gimana kalo saya di bunuh sampe mati?"


"Kau tenang aja Azal, saya akan mengubur kau."


Ha? Wait-wait, apa yang baru saja keluar dari lambenya itu. Rahangku langsung mengeras bahkan tanganku terkepal sendiri.

__ADS_1


Dari dalam tubuhku sudah ada yang meronta-ronta ingin dikeluarkan berupa amarah dan amukan untuk laki-laki yang ada di depanku sekarang.


__ADS_2