
"Mami!"
"Daisha pulang Mami!"
"Buka pintunya Mami!"
Raditya, Daisha juga Mamanya baru sampai di rumah. Pintu dibuka oleh pembantunya membuat Daisha yang memang sudah menangis sedari tadi masuk begitu saja ke dalam rumah.
"Bibik, Mami mana?" tanya Daisha dengan sesenggukan.
"Mami tadi pergi, Bibik gak tau ke mana," jawab Bibik jujur karena memang tak tahu apa yang terjadi.
"Aaaa ... Mami!" Daisha berlari ke kamar Azaleana mencari wanita tersebut.
"Dia pergi sama siapa Bik?" tanya Mama Raditya yang iba melihat cucunya itu.
"Gak tau sama siapa Nyah, cuma tadi sama cowok."
"Cowok?" gumam Raditya dengan wajah pasrah.
"Iya, Pak. Gak tau siapa, Neng Ana juga gak ngasih tau dia mau ke mana. Emangnya ada apa Pak?"
"Azal berhenti kerja."
"Ha?" tanya Bibik dengan kaget hingga menutup mulutnya.
"Mami beneran gak ada, ini semua salah Papi! Hiks ... Daisha benci sama Papi dan Nenek! Kalian udah jahat sama Mami Daisha! Huwaa ...." Daisha berlari ke dalam kamarnya saat tak mendapatkan apa-apa di kamar Azaleana.
"Kamu harus segera cari dia dan luruskan kesalahpahaman ini!" tekan Mama Raditya meninggalkan putranya sambil memijat keningnya yang terasa pusing.
"Maaf Pak, saya pamit ke belakang dulu, ya."
Raditya menjambak rambutnya frustasi dan teriak, ia mengambil handphone untuk menghubungi nomor Azaleana.
"Si*l tuh cewek! Nomornya udah gak aktif!" maki Raditya yang tak tahu bahwa Azaleana akan secepat ini pergerakannya.
Mama Raditya berjalan di depan anaknya dengan pakaian yang sudah berganti, wanita itu masuk ke dalam kamar Daisha.
"Semoga dia bisa tidur dengan Mama," harap Raditya berjalan ke arah kamarnya.
"Sayang ...," sapa Mama dan duduk di pinggir ranjang.
Daisha membelakangi neneknya dengan menutup tubuh, suara sesenggukan masih terdengar.
"Sayang ... Nenek sama Papi gak punya maksud jahat sama Mami, kok. Tadi, Papi cuma gak sengaja marahi Mami."
"Terus, kenapa Papi gak ngejar tadi kalo emang gak sengaja Nek? Kenapa Daisha gak dikasih izin buat kejar tadi?!" marah Daisha menatap tajam ke arah neneknya.
"Eh, Sayang. Kamu gak boleh kayak gitu ngomongnya sama nenek," peringatnya tapi dengan tetap lembut.
__ADS_1
"Nenek sama Papi sama-sama jahat! Daisha benci sama kalian!" teriak Daisha kembali membelakangi wanita itu.
"Sayang ... Nenek minta maaf, tolong jangan benci sama nenek juga Papi, ya."
Daisha tak menjawab, hanya air mata yang mengalir tanpa dipinta dari kedua bola matanya. Hingga, rasa kantuk menyerang sedang air mata tetap menetes.
Setengah jam Mama bercerita dan meminta maaf pada Daisha hingga suara sesenggukan sudah tak terdengar lagi.
Wanita itu berniat melihat Daisha, ia merapikan selimut dan tak lupa mengecup kening Daisha sebelum keluar dari kamar.
Mama berjalan ke arah kamar Azaleana, ia membuka kamar tersebut dan hanya ada baju yang baru dibelinya tadi di atas ranjang.
"Saya tidak tau bahwa kau sudah mengambil hati cucu saya, atau bahkan sekarang juga anak saya? Haha ... semoga kau segera ditemukan, ya."
Ia kembali keluar dengan membawa baju tersebut agar bisa dicuci besok pagi oleh bibik atau bahkan dirinya.
***
Jam enam tepat, Raditya sudah bangun lebih dulu dan sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia berjalan ke kamar Daisha untuk men-cek apakah anaknya itu sudah bangun atau belum.
"Raditya!" pekik Mamanya ketika Raditya baru membuka pintu dan berdiri di ambang pintu Daisha.
"Kenapa Ma?" tanya Raditya ikut khawatir karena raut wajah Mamanya.
"Daisha badannya panas! Cepatan siapkan mobil!"
Dengan perasaan yang campur aduk, Raditya langsung berlari keluar dari rumah untuk menyuruh sopirnya menyiapkan mobil.
Mamanya berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas sedangkan Raditya berlari dengan menggendong Daisha masuk ke dalam mobil.
"Cepetan Pak!" titah Raditya yang begitu cemas dengan keadaan anaknya.
"Pak! Bisa cepat gak, sih?" bentak Raditya lagi dan lagi.
"Pak, Bapak tenang. Ini jalanan juga lagi macet, sepertinya ada festival jalan santai. Saya juga udah cepat ini, kok," jelas sopir yang mencoba menenangkan Raditya.
"M-mami," serak suara Daisha terdengar di dalam dekapan Raditya.
"Iya, Sayang. Ada apa? Daisha tahan dulu, ya, kita lagi menuju rumah sakit kok ini. Bentar lagi juga sampe," kata Raditya menatap Daisha di dalam dekapannya.
"M-mami."
"Apa, Sayang?" tanya Raditya yang memang tak mendengar ucapan Daisha karena terlalu pelan.
"M-mami."
Deg!
'Azal! Kau sebenarnya ke mana? Apakah perlakuanku terlaku kasar hingga kau pergi begitu saja?
__ADS_1
Bukankah kau sayang dengan Daisha? Kenapa kau tak memikirkan dia? Sekarang, dia sakit akibat memikirkan dirimu,' batin Raditya.
"Sabar, ya, Sayang. Nanti, Mami pasti akan datang buat jenguk Daisha, kok."
"M-mami."
"Iya, Sayang iya." Raditya mengusap wajah dan kepala anaknya dengan lembut.
Sesampainya di rumah sakit, Raditya langsung berlari ke dalam gedung tersebut menuju ruangan temannya.
"Tolong bantuin Daisha!"
"Dia kenapa?"
"Cek aja! Tolong segera bantu dia!"
"Oke-oke, lu jangan lupa daftar dulu."
"Biar Mama yang urus," potong Mama yang berada di dekat pintu.
"Lu keluar dulu."
Raditya paham dengan prosedur rumah sakit yang ada, ia keluar dari dalam ruangan dan membiarkan Daisha ditangani oleh temannya.
Duduk di bangku ruang tunggu depan ruangan, Raditya memukul kepalanya merasa gagal menjadi seorang ayah.
Ia merogoh saku celana dan mengambil handphone, mencari satu nama dan panggilan langsung terhubung.
"Cari tau soal wanita yang saya kirim fotonya sekarang juga dan kalau bisa bawa dia hari ini juga!"
Klik!
Raditya mengirim foto Azaleana yang diambilnya secara diam-diam beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya, sudah lama Raditya ingin mencari tahu latar belakang Azaleana.
Hanya saja, dia merasa bahwa itu tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah dia baik menjaga dan merawat Azaleana.
"Gimana keadaan Daisha?" tanya seseorang yang baru sampai dengan tergopoh-gopoh.
Raditya mendongak dan menautkan alisnya ketika melihat siapa yang ada di hadapannya kini.
"Mama yang ngasih tau dia," potong Mama sebelum aku bertanya dari mana dia tahu soal Daisha.
"Ngapain kau di sini?" tanya Raditya sambil berdiri menatap wanita yang ada di hadapannya.
"Daisha bagaimana pun adalah anakku, tentu saja aku berhak untuk melihat dia."
"Sekarang? Sekarang banget baru diakui sebagai anak? Dulu ke mana aja?"
"Radit, ini rumah sakit. Jangan buat keributan," peringat Mama.
__ADS_1
"Argg ... Mama urus deh semuanya!" Raditya pergi dari ruangan menuju taman yang ada di halaman rumah sakit guna mendinginkan pikirannya.
'Azal, maksud aku bukan begitu. Aku bukan bermaksud merendahkan dirimu di hadapan mereka, tolong kembali Azal. Aku ingin meminta maaf atas perlakuanku padamu,' batin Raditya menatap langit yang biru.