
"Jika ingin buat keributan, jangan di sini!" sambung Pak Raditya dengan tegas merasa tidaknya nyaman dengan tatapan orang-orang sekitar.
Bu Clara pergi meninggalkan kami dengan masuk kembali ke dalam kamar Daisha, aku menatap ke arah Pak Raditya dengan bingung kemudian laki-laki itu masuk lebih dulu meninggalkan aku.
Aku mencoba tersenyum ke arah orang-orang yang masih melihat ke arah kami tadi, sedikit kode permintaan maaf karena telah membuat keributan.
Masuk ke dalam dan melihat Daisha di peluk oleh Bu Clara, aku sampai lupa bahwa tadi Daisha sedang menangis akibat melihatku di tampar oleh ibunya itu.
"Sayang, saya ini Mami kandung kamu. Bukan dia," katanya menatap ke arahku yang berdiri lumayan jauh dari mereka.
"Seharusnya, kamu panggil Mami itu buat saya bukan dia. Sayang, mau, ya, tinggal sama Mami," bujuk Bu Clara menangkup wajah Daisha.
Daisha diam dan melirik ke arahku juga menatap Papinya, untuk urusan semacam ini aku tidak bisa ikut campur.
Gelengan dengan wajah datar dan mulut yang terkatup diberikan Daisha sebagai jawaban untuk ajakan Bu Clara.
"K-kenapa, Sayang? Kenapa Daisha gak mau ikut sama Mami?" tanyanya dengan terbata-bata, "apa karena dilarang Papi atau wanita itu?"
Lagi-lagi, Daisha menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa tidak, "Mami Ana gak pernah ngajarin Daisha yang jahat-jahat, kok, Mama.
Mama ... Daisha tau kalo Mama itu Mama kandung Daisha, tapi Daisha sakit hati pas tau kalo Mama gak mau ngurus Daisha.
Bukan Papi yang kasih tau, tapi ... Daisha tau sendiri karena kata temen Daisha di sekolahan yang dulu.
Mamanya juga gak mau ngurus dia sampe Mamanya pergi, itu adalah suatu kejahatan kata Ibu guru.
Daisha gak mau tinggal sama orang jahat walaupun Mama itu Mama Daisha sendiri," ungkap Daisha alasannya yang membuat aku tidak percaya.
Anak sekecil ini sudah bisa seperti itu jawabannya, aku kira tidak ada kesedihan di dalam dirinya selama ini.
Namun, melihat ia menjelaskan alasannya menolak dengan air mata yang berlinang membuat aku ikutan sedih.
__ADS_1
"Sayang-sayang, Ibu guru itu salah. Ini bukan suatu kejahatan tapi Mama khilaf melakukannya, sekarang biarin Mama nebus segalanya, ya?
Mama janji, apa pun yang Daisha mau akan Mama turutin sebisa mungkin. Mama akan sayang dan cintai Daisha.
Daisha, mau, ya? Tinggal sama Mama?" bujuknya dengan air mata yang juga ikut mengalir.
Daisha melihat ke arahku juga ke Pak Raditya, aku hanya bisa diam tanpa memberi tanggapan apa pun.
Ini, tetap bukan hak-ku untuk ikut campur dalam masalah mereka dan bagaimana pun Daisha adalah anak kandungnya sendiri.
"Saya akan penjarakan kalian jika sampai tidak memberikan izin anak saya untuk membawa anak kandungnya sendiri!" timpal seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan Daisha.
Kami melihat ke arah sumber suara, mataku menyipit mencoba mengingat wajah yang tidak terlalu asing ini.
Mama bu Clara datang ke ruangan dengan membawa seseorang yang mungkin adalah anak buahnya, ia berjalan mendekat ke arah ranjang sambil menyenggol bahuku.
''Dih, udah tua bukannya jadi orang baik dan banyak beramal malah makin jahat,'' gerutuku dengan mengangkat sebelah bibir.
''Kamu, gak ada hak untuk menjauhkan ank saya dari anak kandungnya. Ya, mungkin kalian memang sudah pisah tapi bagaimana pun dia ada hak atas anak itu.
''Sudah?'' tanya Pak Raditya yang dari tadi hanya diam mendengar ocehan anak dan ibu di depannya ini.
''Peratama, saya tau bagaimana pun Daisha adalah anak dari putri Anda. Saya tidak akan pernah lupa dengan hal tersebut. Namun, saya juga adalah ayahnya.
Kesua, hak asuh seutuhnya jatuh kepada saya karena kasus yang telah dibuat oleh anak Anda sendiri.
Ya, bukan berarti anak Anda tidak boleh bertemu dengan anaknya. Sangat boleh, saya juga tidak pernah melarang hal itu.
Ketiga, anak Anda ingin membawa Daisha padahal dia menolak untuk dibawa dan saya tidak akan pernah memberi izin Disha dibawa pergi jika yang bersangkutan tidak ingin dibawa!''
Semua diam mendengar ucapan Pak Raditya barusan, ''Dan Anda juga sangat tidak sopan, utuk apa membawa anak buah Anda ke sini? Apakah Anda berniat untuk mengambil paksa anak saya?'' tanya Pak Raditya menunjuk ke arah anak buahnya yang berdiri tidak jauh dari pintu.
__ADS_1
''Nenek ... kalau Mama mau rawat Daisha. Mama bisa di sini hari ini sampe besok, kok. Daisha masih dirawat sampe besok,'' potong Daisha memberi saran.
''Nah, bener, tuh! Buk Clara jaga aja daisha. Lagian, saya besok ada kelas dan Pak Raditya pastinya juga ada urusan lain, 'kan?'' Kutatap ke arahnya ambil menaikkan alis berkali-kali agaria setuju dengan apa yang kubilang.
''Heh, orang luar! Kau tak ada hak untuk ikut campur dalam urusan ini, kau hanya orang asing,'' papar nenenk Daisha.
''Mana ada saya orang asing, Nenk. Buktinya sampe nenek aja kenal sama saya, 'kan?''
''Apa yang diucapkan oleh Ana ada benarnya, kalau kau memang ingin merawat Daisha maka rawatlah dia hingga besok.
Jika kau memang baik merawat dia dan Daisha senang kau rawat, maka ke depannya aku akan memberi izin Daisha untuk tinggal bersama denganmu meskipun beberapa hari.''
Kulihat ke arah wajah mereka satu per satu, ibu dan anak tersebut tampak kaget dengan keputusan Pak Raditya yang mendadak.
Mimik wajah mereka menjelaskan betapa mereka sebenarnya tidak siap merawat Daisha. Namun, mereka iri denganku, mungkin?
Yang bisa dekat dengan siapapun, aku bersedekap dada dan tersenyum menunggubmereka mejawab Mata mereka saling tatap seolah sedang berdiskusi melaluimata mengenai ucapan Pak Raditya barusan.
''Dan mengenai Ana yang kalian bilang orang aasing. Dia, bukan orang asing karena sebentar lagi akan menjadi Mami Daisha secara sah!'' terang Pak Raditya secar tegas membuat mulutku seketika tercengang mendengar ucapan yang baru saja ia ucapkan.
''Lah, gak bisa gitu dong!'' protes Bu Clara yang langsung terdengar.
''Gak bisa? Kenapa?'' tanya Pak Raditya tersenyum tipis dan menatap ke arahnya.
''Y-ya ... Daisha, 'kan lagi sakit. Gak mungkin kalian mau nikah dengan keadaan Daisha yang sekarang seperti ini,'' katanya dengan terbata-bata.
''Oh, tentu saja tidak. Nanti, kok, saya nikahnya tenang aja,'' jawab Pak Raditya dengan santai.
Dia menampilkan wajah yang marah, bangkit dari ranjang Daisha pergi begitu saja keluar dari ruangan tanpa berkata apa pun.
''Sayang?'' panggil Mama bU Clara berniat menahan kergian anaknya, ''tunggu dulu, kami aan mengambil keputusanya nanti. Kami akan ke sini kembali!''
__ADS_1
Mereka pergi dari ruangan sedangkan akumasih syok dengan apa yang dikatakan oleh Pak Raditya.
'Pak Raditya, tadi itu dia ngomongnya becanda, 'kan?' batinku bertanya-tanya dan melihat ke arah anak dan ayah yang sedang berpelukan di ranjang pasien.