(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Hari Pertama


__ADS_3

Turun untuk mengantar Daisha ke sekolah barunya, gurunya sudah menunggu di depan pagar.


"Sayang, belajar yang rajin, ya," kataku memberi nasihat pada Daisha sambil mengusap rambutnya.


"Cup. Belajar yang rajin, ya," timpal Pak Raditya mengecup pipi Daisha.


"Terima kasih Mami, Papi." Ia tersenyum dengan bahagia sepertinya, kupakaikan ransel ke punggungnya itu.


"Kenapa Sayang?" tanyaku saat melihat wajah murung Daisha.


"Liat Mi," tunjuk Daisha ke salah satu anak yang diantar juga dengan kedua orang tuanya.


"Kenapa?" tanyaku yang belum paham dengan apa maksudnya.


"Dia tadi di cium sama Mami dan Papinya, udah itu mereka bertiga pelukan deh. Daisha gak pernah kayak gitu, Daisha juga pengen," rengek Daisha dengan suara parau.


Glek!


Kutelan salivaku dengan sedikit susah payah, menggaruk tengkuk yang tak gatal dan menjadi salah tingkah dengan permintaannya itu.


"Sayang ... doain aja semoga Papi Daisha cepat nikah, biar Daisha bisa kayak gitu sama Mami dan Papi."


"Kan, Mami Daisha udah ada. Mami Ana."


"Mmm ... gak kayak gitu, Sayang."


"Udah, kamu belajar aja yang pinter, ya, Sayang. Gak usah mikirin kehidupan orang lain, okey?" potong Pak Raditya yang mungkin sudah merasa aku kewalahan dalam menjawab pertanyaan dari Daisha.


Sekitar sepuluh menit membujuk bocah itu, akhirnya ia mau juga masuk ke dalam kelas dengan syarat aku dan Pak Raditya mengecup pipinya secara bersama-sama.


Meskipun dengan canggung, tapi bagaimana pun hal itu harus dilakukan daripada Daisha tidak mau sekolah.


"Maafkan Daisha yang sikapnya aneh akhir-akhir ini."


"Ha? Hm ... gak papa, kok, Pak. Namanya juga anak-anak, 'kan? Hehehe."


"Saya harap kau tak risih karena hal itu Azal."


"Iya, Pak. Santai aja kalo sama saya mah," kataku mencoba mencairkan suasana.


Mobil Pak Raditya berhenti di depan gerbang kampus, aku langsung memakai tas dan memegang buku.


"Pak, makasih, ya, udah anterin saya."


"Iya, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya."

__ADS_1


"Baik, Pak. Kalau gitu, saya duluan, ya. Mari!" pamitku dan keluar dari mobilnya.


Kututup kembali pintu mobil dan menunggu Pak Raditya menjauh dari kampus, setelah tak lagi terlihat mobilnya aku masuk ke dalam gedung.


Saat tengah berjalan ke koridor setelah masuk ke ruangan dosen, handphone-ku berdering menunjukkan nama Ayudia.


Aku sampai lupa bahwa memiliki sahabat, hadeuh ....


"Iya, ada apa?" tanyaku langsung ke intinya saja.


"Ya, ampun. Kagak ada basa-basinya, dong. Padahal gue handphone lu dari kemarin-kemarin, lho.


Tapi, lu sama sekali kagak telepon balik gue. Kenapa? Udah dapat sahabat baru di sana, ya? Dapat yang lebih cakep dibanding gue, gitu?


Mangkanya lu lupain gue? Wah ... parah banget, ya, lu. Gue kira lu beda dari teman-teman yang lain, ternyata sama aja!" omel Ayudia panjang kali lebar membuatku menjauhkan handphone dari telinga.


"Udah? Udah kelar lu ngebacot, ha?" tanyaku ngegas sambil memilih duduk di bangku koridor.


"Lagian, lu dari mana aja sih Ana ...."


"Gue gak dari mana-mana, kok. Emang lagi ada urusan aja dan beberapa hari gak pegang handphone."


"Kenapa?"


"Karena sibuk di dunia nyata gue."


"Haha, buat apa? Lagian, lu juga jauh dari gue, 'kan. Udah deh, tenang aja. Inn Syaa Allah, gue gak akan kenapa-kenapa, kok. Aman-aman."


"Aman-aman mata lu peyang! Belum sampe sebulan di sana udah di culik aja, tapi lu gak papa 'kan?"


"Gak papa, kok. Cuma lecet dikit dan itu juga udah sembuh."


"Siapa yang buat lu jadi begitu?"


Aku terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Ayudia, masih teringat bagaimana dengan kondisi Clara.


Apakah dia baik-baik saja atau malah meninggal karena tak ada yang menolong? Gak, gak mungkin dia sampai meninggal.


"Hello. Ana? Lu masih di sana, 'kan?"


"Eh, iya-iya. Apa tadi?" tanyaku yang lupa pertanyaan Ayudia.


"Siapa yang culik lu? Ya, ampun nih orang kayaknya banyak banget pikiran deh! Ampun gue."


"Mmm ... mantan istri Pak Raditya."

__ADS_1


"What? Ha? Lu gak bercanda?" pekik Ayudia membuat aku kaget dan menjauhkan handphone dari telinga.


"Lu bisa biasa aja, gak, sih? Lama-lama budeg dah ini telinga gue karena suara lu itu!" ketusku sebal melihtanya. Untung saja jauh, kalau dekat? Sudah kupukul bahunya atau kututup mulutnya itu.


"Baby, ada apa?" tanya seseorang dari sebrang sana membuat mataku membulat.


"Dih, ngapain sih lu ke sini. Sana jauh! Ngerusuhin aja!" usir Ayudia.


"Kamu kenapa teriak-teriak? Ada apa?"


"Bukan urusan lu!" ketus Ayudia padanya.


"Ehem! Baby? Siapa tuh," celetukku pada Ayudia.


"Rendi. Seharusnya, lu bawa juga cowok aneh ini ke sana. Bukan malah lu tinggal di sini dan buat gue risih karena keberadaannya!"


"Eh, lu ngomongnya sadis amat dah. Awas ... lho, biasanya orang yang benci itu bisa jadi cinta," godaku dengan menutup mulut agar tawa yang keluar tak terlalu besar.


"Dih, amit-amit! Ogah baget kalo harus cinta sama dia!"


"Siapa Baby? Ana, ya?"


"Hahaha, Baby, gak, tuh," ejekku merasa lucu dengan panggilan mereka.


"Dih, lu apaan sih! Jangan malah ikutan ngobrol diantara gue sama Ana deh! Sana-sana!"


"Ya ... aku nemenin kamu di sini, takut kalau nanti kamu teriak lagi."


"Azaleana?" tanya seseorang padaku saat aku tengah tertawa dan menyimak percakapan mereka.


"Iya, Buk. Saya Azaleana," kataku sambil berdiri.


"Kamu bisa ikut dengan saya, biar saya kasih tau di mana kelas kamu."


"Baik, terima kasih Buk." Wanita tadi jalan lebih dulu di depanku, kudekatkan kembali handphone di telinga masih saja suara perdebatan yang kudengar.


"Gue udah mau masuk nih, kalian lanjut aja debatnya, ya. Bye ...!" pamitku mematikan panggilan secara sepihak meski tak tahu apakah Ayudia mendengarnya atau tidak.


Kumasukkan telepon ke dalam saku dan berjalan mengikuti langkah wanita yang mungkin dosen tadi.


"Udah, deh. Mendingan lu pergi aja, halo Ana. Halo, Ana?" Ayudia melihat handphone-nya yang sudah tidak terhubung lagi dengan Ana.


"Ish! Gara-gara lu deh ini, gue jadinya gak bisa denger cerita Ana! Awas deh lu, nyebelin banget!" ketus Ayudia dan pergi melewati Rendi begitu saja.


"Baby, tunggu aku!" pekik Rendi dan mengejar Ayudia yang sudah pergi menjauh lebih dulu darinya.

__ADS_1


"Entah kenapa Ana ninggalin dedemit ke gue, sugar dady gitu kek. Ini malah modelan begitu yang ditinggalin ke gue," gerutu Ayudia melihat ke belakang sudah ada Rendi yang mengejarnya.


Ia melangkah dengan berlari kecil agar terhindar dari kejaran Rendi yang selalu mengikutinya.


__ADS_2