
"Daisha, Mami turun duluan, ya!" terangku dan lebih dulu keluar dari mobil setelah sampai di depan rumah.
Betisku terasa sakit dan perut seperti di ramas, mood-ku juga seketika berantakan. Aku ingin melihat apakah si tamu tak diundang telah datang?
"Siang, Neng. Non Daishanya, mana?" tanya Bibik membukakan pintu.
"Masih di dalam, Bik. Saya duluan, ya," pamitku masuk ke dalam kamar dengan sedikit berlari.
Kasur. Tempat yang sudah aku rindukan untuk bisa merebahkan tubuh terlebih dahulu ketika nyeri haid tiba.
Tapi, tidak! Aku harus mengecek-nya terlebih dahulu memastikan hal tersebut, "Kan, bener!" gerutuku kala telah men-cek keadaan.
Memilih membersihkan diri terlebih dahulu meskipun sambil menahan sakit mens di hari pertama.
Suara pintu dibuka menandakan bahwa Daisha sudah masuk ke dalam kamar, sebelum memutuskan ke kamar mandi.
Syukurnya, aku sudah mengambil baju ganti juga handuk karena memiliki feeling bahwa akan ada hari pertama.
"Mami, Mami di mana?!" teriak Daisha yang mungkin tidak mendengar suara air dari dalam kamar mandi.
"Mami lagi mandi, Sayang!" pekikku dari dalam kamar mandi.
Entah dia mendengar atau tidak, tapi sudah tak ada lagi suara teriakan. Keluar dari dalam kamar mandi dengan kerudung yang tadi.
"Kok belum ganti baju, Sayang?" tanyaku dengan merintih kesakitan.
Mungkin, jika ada yang merasakan nyeri pada mens di hari pertama. Ia akan tahu sakitnya begitu luar biasa.
Banyak orang yang tidak merasakan hal itu, aku ingin dapat merasakan hal tersebut. Tidak perlu harus menahan sakit hingga kadang sampai membuatku meneteskan air mata karenanya.
"Nunggu Mami," jawabnya singkat sedangkan aku meletakkan handuk ke jemurannya.
"Sayang ... ganti baju sendiri, ya. Mami lagi gak kuat dan mood Mami gak stabil," jawabku memilih merebahkan tubuh ini.
"Mami? Mami kenapa? Wajah Mami kenapa putih banget?" tanya Daisha sambil memegang pipiku.
"Gak papa, kamu ganti baju aja Sayang."
"Papi!" pekik Daisha keluar dari kamar memanggil Pak Raditya sambil berlari.
Kucoba bangkit dan bersandar di pada ranjang, menutup kaki dan memeluk bantal guling menyalurkan sakitnya.
"Kau kenapa Azal?" tanya suara bariton yang membuat mataku kembali terbuka.
Aku baru ingat bahwa pintu tidak di tutup, pantas saja Pak Raditya bisa masuk begitu saja. Kulihat ke arah Daisha, sudah basah wajahnya dibuat oleh air mata.
"Sayang, kamu kenapa nangis?" tanyaku mengulurkan tangan ke arahnya.
"Mami kenapa? Mami sakit, ya?" tanya Daisha berjalan dan memeluk tubuhku dari samping.
"Kau kenapa Azal?" tanya Pak Raditya sekali lagi karena pertanyaannya sebelumnya kuabaikan.
"Biasa, Pak. Hari pertama," jawabku mengatur napas menahan sakitnya.
"Separah itukah sakitnya? Kenapa wajahmu sampai pucat seperti itu?"
Kuanggukkan kepala karena malas menjawab pertanyaan bahkan ingin bicara saja aku enggan.
__ADS_1
"Bentar, saya buatkan air hangat dan masukkan ke kantong. Semoga aja di sini ada benda yang seperti itu," ujarnya dan pergi meninggalkan aku.
Tak kujawab, aku hanya diam dan membiarkan dia melakukan apa yang diinginkannya, "Sayang, ganti baju dulu sana," suruhku pada Daisha sambil mengusap pipinya.
"Enggak, Daisha mau sama Mami aja biar Mami cepat sembuh."
"Lah, Mami gak sakit, kok."
"Tapi, muka Mami dan itu Mami pegang perut Mami."
"Hmm ... iya, Sayang. Ini sakitnya beda."
"Tetap aja sakit, 'kan Mami?"
Kugelengkan kepala dan membiarkan ia merebahkan tubuhnya di sampingku dengan tangan dan kaki naik ke tubuhku ini sudah seperti memeluk guling.
"Nih, apa lagi yang kau butuhkan di hari pertama?" tanya Pak Raditya memberikan sebuah kantong yang memang khusu untuk air panas di dalamnya.
"Mmm ... boleh belikan saya pembalut Pak? Sekalian kiranti, ya."
"Pembalutnya yang gimana?"
"Nanti, saya kirimkan ke WA Pak."
"Apalagi?"
"Udah, itu aja."
"Baiklah," jawabnya dengan dingin dan pergi dari kamar tidak lupa menutup pintu kembali.
Kuletakkan benda tadi ke dalam perut agar meredakan rasa sakit tadi, tak lama suara pintu dibuka pun kembali terdengar.
"Ini, kau makan dulu buah-buahan juga roti. Sebentar lagi Bibik akan mengantarkan makan siangnya, selagi nunggu Bibik kau makanlah dulu ini," titah Pak Raditya memberikan piring berisi apel yang sudah di potong-potong juga jeruk yang sudah tidak ada lagi kulitnya.
"Siapa yang ngupas dan potong buahnya Pak?" tanyaku tidak yakin jika Pak Raditya yang melakukannya.
"Menurutmu?"
"Bibik," jawabku dengan cepat.
"Ck! Apakah aku terlihat seperti bos yang tidak peduli dengan pekerjanya? Aku pergi dulu!" terangnya berlalu begitu saja sembari kembali menutup pintu.
Kututup mulut yang ingin mengeluarkan teriakan bahagia, "Artinya, Pak Raditya yang memotong buahnya, dong?" tanyaku pada diri sendiri.
"Aaaa ... romantis banget, sih!"
Segera kuraih handphone dan mengirimkan gambar pembalut yang biasa kupakai, sebenarnya aku sedikit tidak enak melakukan hal ini.
Tapi, siapa lagi yang mau kusuruh atau kumintai tolong? Sedangkan stok pembalut hanya ada satu itu pun terselip di koper yang kucari-cari.
[Pak, ini pembalutnya, ya. Gak pake sayap, makasih banyak Bapak☺] pesan kukirim tak lupa dengan emot sok manis tentunya.
Setelahnya kuletakkan kembali handphone dan memakan buah tadi, kuusap pelan pipi Daisha agar bangun.
"Sayang, ganti baju dulu, yuk!" ajakku setelah matanya sedikit terbuka.
Ia memang sangat manja padaku, segala kebutuhan atau apa pun yang akan ia lakukan maka aku yang menyiapkannya.
__ADS_1
"Mami udah sehat?" tanya Daisha sembari mengucek mata.
"Lumayan, ayo!" Kuletakkan benda kompres tadi dan turun dari ranjang untuk mengambil baju juga mengambilkan handuk Daisha.
"Kamu mandi dulu tapi, ya, Sayang."
"Iya, Mami," jawabnya menuruti ucapanku.
Memilih duduk sambil menunggu di tepi ranjang, aku sesekali bersenandung lagu-lagu cinta seolah orang yang lagi kasmaran.
"Sudah, Mi!" kata Daisha seketika menyadarkan aku dari lamunan.
"Okey!" seruku mulai mengelap dan memakaikan baju padanya.
Setelah selesai, kusuruh Daisha memakan roti yang diberikan oleh Pak Raditya padaku tadi. Ia memakannya dengan lahap.
Kulihat handphone yang sudah ada notif chat masuk beberapa menit yang lalu.
[Yang ini?] pesan dari Pak Raditya menunjukkan pembalut juga Kiranti yang kuinginkan.
[Iya, Pak.]
[Ok.]
Tersenyum melihat dia yang berhasil mendapatkan apa yang kuinginkan.
"Mami kenapa?"
"Ha? Gak papa, kok, Sayang. Kamu mau buah?"
Dia mengangguk dan membuatku tersenyum, sembari menunggu Pak Raditya aku dan Daisha memilih untuk keluar dari kamar duduk di sofa.
Makan siang sudah siap dan hanya tinggal menunggu kedatangannya saja.
"Perut Mami masih sakit?"
"Lumayan, Sayang."
"Jadi, gak bisa ajarin Daisha buat pentas, dong, ya?"
"Nanti, sama Papi, ya."
"Oke Mi!"
Suara mesin mobil mati terdengar, "Nah, itu Papi!" seruku yang malah bahagia seolah-olah Pak Raditya adalah suamiku.
"Iya, Mi!" kata Daisha yang tersenyum bahagia sedangkan aku cengengesan mencoba mengendalikan diri.
"Assalamualaikum, Papi pulang!" salam Pak Raditya masuk ke dalam dengan membawa kresek yang begitu banyak membuat tangannya penuh.
"Waalaikumsalam," jawabku dengan lemah bingung menatap apa saja yang ia bawa.
"Yee ... Papi pulang!" seru Daisha berlari memeluk ke arahnya sedangkan ia berjalan ke arahku yang masih duduk di sofa.
"Nih, ini pembalutnya. Ini Kiranti, ini ada salad, buah-buahan juga snack yang sehat," jelasnya memberi tahu isi satu per satu plastik yang ada.
"Buat apa pembalut sampe satu kresek ini, Pak?" tanyaku tak habis pikir dengan jalan pikirannya.
__ADS_1
"Stok," jawabnya santai dan pergi berlalu bersama Daisha meninggalkan aku.