
"Makasih banget, lu udah mau datang padahal dari jauh-jauh hari gue undang lu buat bahas soal ini."
"Ya, bener. Kehadiran lu itu udah kek Presiden yang ditunggu, tau!"
"Gak usah pada lebay kalian segala!" ketus Pak Raditya memukul bahu temannya itu.
"Mm ... Ana!" panggil seseorang membuat aku melihat ke arah samping.
Kami sudah akan pulang karena acara telah selesai dan hari semakin larut, Daisha bahkan sudah tidur dan di baringkan duluan di dalam mobil.
"Iya?" tanyaku menaikkan satu alis melihat Akbar menghampiriku yang tadinya tengah memperhatikan Pak Raditya dengan teman-temannya.
"Aku ... boleh minta nomor kamu?" tanyanya sambil menyodorkan handphone.
"Mmm ... boleh!" Kuambil handphone dari tangannya dan berniat mengetikkan nomor handphone-ku.
"Mau ngapain?" tanya Pak Raditya tiba-tiba yang datang sambil mengambil handphone Akbar dari tanganku.
Kami berdua langsung melihat ke arah Pak Raditya yang memasang wajah tak sukanya.
"Pak, itu Mas Akbar mau minta nomor saya," kataku dengan menyebut nama Akbar menggunakan embel-embel 'Mas'
"Buat apa? Lu mau nyewa dia jadi pengasuh juga? Anak lu mana? Lagian, dia masih ada kontrak dengan gue.
Yang ada, nanti dia lu ganggu mulu kalau kerja. Cari pengasuh yang lain aja deh mendingan!" terang Pak Raditya mengembalikan handphone Mas Akbar.
Mas Akbar memegang handphone-nya yang dikembalikan membuat aku sedikit tidak enak.
"Udah, ayo kita pulang!" ajak Pak Raditya menarik tanganku.
"Permisi Mas," pamitku sambil melalui Mas Dimas yang terdiam.
"Gue duluan, ya!" teriak Pak Raditya pamit pada temannya.
Mas Akbar memutar melihat ke arahku yang kebetulan aku juga melihat ke arahnya, tersenyum dengan sedikit mengangguk padanya.
"Masuk Azal!" titah Pak Raditya dan membuat aku langsung masuk ke dalam mobil.
Mobil keluar dari parkiran dan membelah jalanan dengan tak terlalu cepat, aku melipat tangan di dada sambil memajukan bibir.
Tak habis pikir, kenapa Pak Raditya malah ikut campur dalam urusanku tadi. Memangnya, dia siapa sampai tidak memberi izin nomorku kuberi pada Mas Akbar.
"Dia tidak sebaik yang kau lihat," ucap Pak Raditya tiba-tiba membuat aku menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Maksud Bapak?"
"Ya, mangkanya saya tak memberi izin nomormu kau beri padanya."
"Tapi, saya liat dia biasa-biasa aja. Dia juga baik gak genit juga."
"Masih banyak laki-laki yang lain, kau di sini untuk kuliah dan bekerja bersama saya. Bukan untuk pacar-pacaran dan menghabiskan waktumu dengan telponan atau chat-chat segala dengan dia!"
"Jadi, Bapak cemburu gitu saya dekat dengan dia?"
"Bukan masalah cemburu atau tidaknya, tapi masalah bahwa kau itu adalah tanggung jawab saya. Saya sudah janji dengan keluargamu!"
Aku terdiam menatap jalanan di depan sana yang sekarang cukup lenggang, tak ada lagi jawaban yang bisa kuberikan untuknya.
Kulirik ke arah Daisha, ia masih terlelap dengan pulasnya membuat aku juga ikut mengantuk dan mulai tak sadar telah terlelap.
'Tapi, apa perlakuanku tadi keterlaluan, ya? Lagian, si Akbar juga kurang ajar banget jadi cowok.
Kayak gak ada aja wanita lain, apa dia masih dendam karena dulu Clara dia inginkan tapi aku yang dapat?
Sekarang ... dia mau balas dendam dengan mengambil Azal dariku? Enggak-enggak, aku harus bilang sama Azal untuk menjauh dari laki-laki itu,' batin Raditya dan langsung melihat ke arah sampingnya di mana ada Ana.
"Azal, kau harus jauhi--," ucapan Raditya terhenti saat melihat bahwa Ana sudah terlelap di sampingnya dengan bersedekap dada.
"Kau sekarang adalah tanggung jawabku, jadi aku harus bisa menjagamu sebaik mungkin sebagaimana aku menjaga Daisha," gumam Raditya sambil melirik ke arah Daisha yang juga tertidur.
Mobil kembali di jalankan menuju rumah yang disewa oleh Raditya, sebenarnya bisa saja ia membeli rumah di sini.
Namun, bukankah hanya akan membuang-buang uang saja? Dia juga tidak akan pernah ke sini lagi kecuali mungkin ada urusan kerjaan.
Bahkan, biasanya ketika ada pun hanya beberapa hari dan itu menginap di hotel yang telah disediakan.
Sekitar tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah. Sebelum membangunkan Ana, Raditya memandangi wajah damai wanita itu tanpa sadar tersenyum akibat memandaginya.
"Kau kalau tertidur begini, rasanya damai sekali melihat wajahmu. Kalau bangun? Singa aja bahkan kalah seram dengan wajah atau suaramu itu," kata Raditya yang malah me-roastingnya.
"Eh, astaghfirullah. Kenapa aku natap Azal kayak, gitu?" sambung Raditya menjauh sambil mengucek matanya.
"Huft ... kendalalikan dirimu Raditya. Ingat, dia itu adalah pekerja di keluargamu!"
"Azal!"
"Azal!"
__ADS_1
Sayup suara masuk ke dalam mimpi mengusik mimpi yang entah bagaimana mulanya, aku terbangun membuka mata dan melihat bahwa sudah ada Pak Raditya yang menatap ke arahku.
"Eh, kita udah sampe Pak?" tanyaku dengan kaget refleks duduk dengan tegap.
"Iya, kau bisa jalan sendiri, 'kan? Saya mau gendong Daisha," ucap Pak Raditya membuka sabuk pengaman dan keluar dari dalam mobil.
"Bisa, Pak. Bisa, kok," jawabku sambil menutup mulut karena menguap.
"Ini ... jas Pak Raditya?" sambungku melihat ke arah jas yange menutupi tubuhku.
"Azal ... tolong bukakan pintunya dong," teriak Pak Raditya yang sudah ada di luar.
"Iya, Pak!" Aku langsung buru-buru melepas sabuk pengaman dan memegang jas Pak Raditya.
Kami masuk ke dalam rumah dengan Pak Raditya yang menggendong Daisha, "Makasih, ya, Bik," kataku setelah masuk ke dalam rumah.
Daisha di letakkan ke atas ranjang dengan perlahan oleh Pak Raditya sedangkan aku menunggu di ambang pintu kamarnya.
"Itu, kau masuklah dan tidur. Daisha juga masih tidur," kata Pak Raditya setelah selesai meletakkan Daisha.
"Iya, Pak. Terima kasih, ini juga makasih buat jasnya," ucapku memberikan jas Pak Raditya kembali padanya.
"Ya, sama-sama." Pak Raditya mengambil jasnya dariku.
"Ada apa?" sambung Pak Raditya melihat aku tak masuk ke dalam dengan tetap menatap ke arahnya.
"Bapak suka, ya, sama saya?"
"Ha?"
"Iya, kalau di drama korea. Cowok care itu tanda dia suka," jelasku tanpa merasa malu sedikit pun.
Dia menggelengkan kepala seperti orang yang sedang frustasi, "Kenapa Bapak geleng-geleng?"
"Kau sepertinya masih ngantuk, lebih baik segera tidur dan tak usah berbicara yang enggak-enggak apalagi geer soal saya yang suka denganmu." Pak Raditya berjalan pergi meninggalkan aku yang masih berdiri di ambang pintu dengan jengkel.
"Kenapa Pak?" tanyaku dengan semangat saat melihat ia berhenti dan memutar balikan tubuhnya.
"Dan satu lagi, jangan terlalu banyak melihat drama percintaan. Karena, itu semua hanya fiktif belaka!" peringatnya dan langsung pergi ke arah kamarnya.
"Ck! Menyebalkan, dia gak mau gitu jadi cowok satu-satunya yang membuat fiktif itu menjadi nyata?" gerutuku menaikkan bibir sebelah kesal padanya.
Kututup pintu kamar dan tak lupa menguncinya, langkahku terhenti kala mengingat apa yang baru saja kukatakan pada Pak Raditya.
__ADS_1
"Gila lu Ana! Ngapain ngomong kayak gitu tadi?!" makiku pada diri sendiri dengan memukul kepalaku pelan.