
"Mami!" pekik Daisha dari dalam mobil sambil melambai ke arahku.
Aku tersenyum dan membalas lamabaian tangannya, berjalan ke arah mobil Pak Raditya, "Hello Sayang, udah lama nunggunya?" tanyaku mengusap rambut Daisha dan mengecup pipinya.
"Enggak, kok, Mi. Gak lama kalo buat nunggu Mami," godanya membuat aku gemas sendiri.
"Iii ... belajar dari siapa ngegoda gitu?"
Daisha hanya menampilkan cengiran, ia ke bangku samping dan aku masuk ke bangku belakang untuk duduk berdua dengan Daisha.
"Gimana sekolahnya tadi?" tanyaku membuka percakapan setelah mobil sudah menjauh dari kawasan kampus.
"Happy, Mami. Tadi, di sana juga banyak anak-anak baru. Mereka baik-baik banget sama Daisha. Cuma, kata Buk guru seminggu lagi akan ada petunjukan."
"Pertunjukan? Petunjukan apa?" tanyaku mengalihkan pandangan ke arah Pak Raditya.
"Mereka akan menampilkan dogeng gitu, jadi Daisha dapat peran sebagai putrinya."
"Wah ... hebat, dong. Terus, kenapa Daisha sedih gini Sayang?" tanyaku menatap wajah murungnya.
"Buk guru bilang, harus bawa Papa dan Mama. Sedangkan Daisha gak punya Mama," jelasnya mengapa ia menjadi sedih.
"Eh ... 'kan ada Mami Ana. Mami akan datang dan liat kamu nanti."
"Tapi, 'kan Mami bukan istrinya Papi. Jadi, Mami bukan Mami sungguhan aku."
"Sayang ... gak papa, mau gak sungguhan atau pun sungguhan gak masalah, kok. Yang terpenting, Mami beneran sayang dan cinta sama Daisha, kok." Kubawa tubuh mungil itu ke dalam dekapanku.
Merasa iba dengan apa yang dirinya rasakan, mungkin aku memang tidak tahu apa yang tengah dirasakannya seutuhnya.
Akan tetapi, aku juga ikutan sedih ketika melihat dirinya tidak bisa seperti anak-anak lainnya yang ada di luaran sana.
Memang, kebahagian anak bukan hanya soal adanya orang tua yang utuh. Namun, orang tua yang utuh adalah pondasi kebahagiaannya.
Jika pondasinya saja belum terpenuhi, bagaimana ia bisa benar-benar bahagia dengan hal lainnya?
Kulirik ke arah Pak Raditya yang ternyata juga sedang melihat ke arah kami dari kaca spion. Aku masih tidak tahu apa alasan dia belum menikah lagi.
Terlalu lancang jika aku bertanya hal pribadi orang lain, apalagi statusku yang hanya sebagai seorang pengasuh.
"Sayang ... kita udah sampe," kataku mengusap kepala Daisha.
Suara dengkuran kecil terdengar di dalam dekapanku, "Pak, dia tidur," ucapku memberi tahu.
"Bentar!"
Pak Raditya keluar dari mobil dan membuka pintu samping, ia mengangkat Daisha, "Tutupkan pintunya, ya," titahnya dan pergi lebih dulu meninggalkan aku.
Membawa buku-buku dan tas Daisha, kututup pintu samping mobil dan keluar tak lupa menutup sebelahnya lagi.
__ADS_1
Masuk ke dalam rumah tidak lupa mengucapkan salam, kulihat Pak Raditya keluar dari dalam kamar setelah meletakkan Daisha.
"Katanya ada pasar malam di dekat sini, kita pergi nanti malam, ya."
"Baik Pak."
Pak Raditya pergi ke kamarnya sedangkan aku masuk ke dalam kamarku dan Daisha, mengganti pakaian dan meletakkan tas Daisha juga punyaku.
Suara lenguhan terdengar dari bibir Daisha, "Hay, Sayang. Udah bangun?"
"Mami, kita udah sampe rumah, ya?"
"Iya, yuk, makan siang."
"Papi mana, Mi?"
"Udah di dapur, nunggu kita."
Kubantu Daisha untuk turun dari ranjang, ia berlari ke luar lebih dulu dan meninggalkan aku.
"Papi, kok makannya gak nunggu Daisha, sih?" tanya Daisha dengan sebal saat melihat Pak Raditya telah makan lebih dahulu.
"Yah ... maaf, Sayang. Papi kira Daisha akan lama bangunnya."
"Ish! Mami aja sabar nunggu Daisha, Papi nyebelin!" Daisah bersedekap dada dengan bibir yang dimajukan.
"Mami, bantuin Daisha naik ke bangku dong!" pinta Daisha padaku yang ada di belakangnya.
"Biar Papi aja."
"Gak! Daisha maunya sama Mami!" ketus Daisha menolak mentah-mentah niat baik Papinya.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku anak dan ayah tersebut, kubantu Daisha naik ke bangkunya.
"Ini lagian, bangkunya kenapa tinggi banget, sih!" gerutu Daisha yang menyalahkan bangku tak berdosa.
"Benar-benar seperti seorang wanita, yang salah siapa malah merembet ke mana," gumam Pak Raditya.
"Apa kata Papi?!" pekik Daisha yang ternyata mendengar ucapan Papinya itu.
"Sayang, gak boleh kayak gitu sama Papi. Gak boleh teriak-teriak gitu, lho," peringatku pada Daisha sambil mengelus rambutnya lembut.
"Mami ... Papi nyebelin, ish! Hiks ...." Daisha menangis, entah karena kesal atau hal lain. Biasanya, ia tak pernah seperti ini.
"Lah-lah, Daisha kenapa Sayang?"
"Mami ... Daisha gak suka sekolah di sini, semua temen pada punya Mama dan Papa. Kalo di sana, mereka sama kayak Daisha kadang gak punya Papa dan Mama.
Di sini, semuanya dijemput Mama dan Papanya. Mereka naik motor bareng-bareng, Daisha? Daisha gak kayak mereka."
__ADS_1
Aku terdiam dan mencoba memahami apa yang dikatakan Daisha, ternyata hal ini yang membuat dia merasa tidak nyaman.
Kubiarkan ia menangis, Pak Raditya awalnya ingin memujuk ia. Tapi, kularang dan membiarkan Daisha mengeluarkan unek-unek yang ada.
Saat hanya tinggal sesenggukan, Daisha mendongak menatap ke arahku. Kutampilkan senyuman sebisa mungkin memahami apa yang sedang dirasakannya.
"Sudah Sayang?" tanyaku lembut dan mendapatkan anggukan.
''Kamu gak boleh kayak gitu, setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing dan Daisha kisah hidupnya emang udah kayak gini.
Tau, gak? Kenapa temen Daisha gak semuanya kayak Daisha?'' Ia menggelengkan kepala pertanda tak tahu.
''Karena tidak semua mereka mampu kayak Daisha, hanya anak-anak yang hebat aja yang mampu kayak Daisha gini.''
''Papi lagian kenapa, sih, gak nikah lagi aja?'' tanya Daisha menatap sendu ke arah Pak Raditya.
''Sayang, pernikahan itu gak bisa dipaksakan. Lagian Daisha mau nanti kalau Papi dapat istri yang asal-asalan malah gak sayang sama kamu?
Daisha berdoa aja biar Allah kasih Daisha Mami yang baik dan sayang sama kamu.''
''Kalau gitu Daisha minta sama Allah biar Mami Ana aja yang jadi Mami aku, Mami udah jelas sayang sama aku dan juga sama Papi.
Daisha gak perlu lagi takut dapat Mami yang jahat sama Daisha."
''Uhuk!''
Aku yang tengah mendengar ia meminta tersedak akibat ulahnya, ''Kenapa harus Mami?"
"Karena hanya Mami yang dekat sama kami," kata Daisha dengan mata yang berbinar.
''Sayang, gak perlu meminta seseorang untuk menjadi apa yang kita inginkan. Jika dia emang udah Allah takdirkan untuk kita maka dia akan datang pada kita,'' kata Pak Raditya memberi nasihat.
''Hmm ... Daisha minta maaf, ya, Pi. Maafkan, Daisha kalau gak sopan tadi bicara sama Papi.''
''Gak masalah, kok, Sayang,'' kata Pak Raditya mengelus rambut Daisha.
''Udah-udah mending sekarang kita makan siang, yuk! Nanti malam kita ke pasar malam diajak sama Papi, tuh,'' tunjukku ke arah Pak Raditya menggunkan mulutku.
''Ha? Beneran, Pi? Kita mau ke pasar malam?!'' seru Daisha bahagia.
''Iya, dong! Kita akan jalan-jalan di aini, pokoknya buat Daisha bahagia, deh!''
''Aaaa ... makasih, Pi.'' Daisha bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Ppinya. Aku ikut bahagia melihat mereka akhirnya bisa berbaikan kembali.
Memang tidak salah keinginan Daisha tersebut yang ingin memiliki seorang Mami apalagi di umurnya yang masih kecil.
Akan tetapi, bukankah sebagai orang tua seharusnya kita bisa lebih memberi ia penjelasan soal itu?
Meskipun pasti pada akhirnya, ia akan bertanya dan meminta lagi agar merasakan apa yang orang lain rasakan.
__ADS_1