(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Demen Hewan


__ADS_3

Aku menikmati prosesi pernikahan yang terjadi, meletakkan piring dengan beberapa makanan yang ada sisa di meja.


Bangkit untuk berniat memberi ucapan karena aku sudah mulai tak betah jika dipaksa dekat dengan Mas Raditya.


"Mau ke mana?" tanya Mas Raditya menatap ke arahku.


"Salaman habis itu pulang," jawabku dengan singkat.


Berjalan sendiri tak menunggu dirinya, 'Kalau emang ngambek, gak perlu gitu juga kali! Aku juga lakuin itu gara-gara dia yang dari awal diam mulu sama aku.


Gimana aku mau betah kalo dia aja gak buat aku betah, hmm ... gini banget, ya, nikah dengan orang yang sepertinya masih ada rasa sama wanita di masa lalunya.


Apa ... Mas Raditya masih sayang sama almarhumah Clara? Tapi, masa aku cemburu sama orang yang udah gak ada, sih?' batinku memikirkan hal yang tak seharusnya kupikirkan.


Kupeluk Ayu dan mengucapkan selamat padanya, "Semoga lancar segalanya dan segera diberi momongan, ya."


"Aamiin, eh, lu udah anu belum?" tanya Ayu dengan berbisik membuat alisku tertaut.


"Anu? Apaan?"


"Udah gak perawan lagi, gak?"


Plak!


Kupukul bahunya membuat kedua laki-laki yang ada di samping melihat ke arah kami, Ayu tertawa sedangkan mereka hanya kebingungan sebab Ayu berkata sangat pelan.


"Udah, ya?" tanyanya kembali menggodaku dengan manaik-turunkan alisnya.


"Kagak," jawabku dengan pelan juga.


"Lah, kenapa? Jangan-jangan, dia gak tertarik sama lu lagi?"


"Enak aja lu! Jadi, tertarik sama apaan? Hewan? Udah, ah! Lu malah buat gue kesal, sekali lagi selamat, ya. Semoga lu segera dapat momongan."


"Aamiin, makasih. Lu juga, ya."


Kuanggukkan kepala dengan cepat dan melihat banyak orang yang antre ingin salaman juga pada mereka.


Aku berjalan di samping Mas Raditya menuju keluar dari tempat nikahan, "Neng!" pekik seseorang yang membuat aku melirik ke arah belakang tapi tetap dengan berjalan.


Tangannya melambai ke arahku membuat aku melirik ke sekeliling mana tahu bukan aku yang dipanggil.


"Ih! Dipanggil bukannya berhenti malah jalan terus!" gerutu si Ibuk memukul bahuku pelan.


Aku hanya cengar-cengir dan berhenti bersamaan dengan Mas Raditya yang juga menatap ke arah si Ibuk.


"Ada apa Buk?"


"Nah, ini salad dan makan-makanan yang Neng mau. Mana tau, si Baby-nya ngidam lagi hehehe."


Selain ucapannya itu, aku juga kaget kala tangan si Ibuk mengusap perut datar yang isinya hanya cacing doang.


"Semoga segera isi, ya. Yaudah kalau gitu, Ibuk balik ke dapur. Banyak kerjaan!"

__ADS_1


"Makasih, ya, Buk."


"Sami-sami," jawabnya melambaikan tangan padaku.


Kantong kresek berwarna hitam di tanganku kini, kubuka sedikit untuk melihat apa yang ada di dalamnya.


"Salad Mas," kataku memberi tahu pada Mas Raditya karena dirinya ikut melirik ke arahku.


"Kamu minta?"


"Enggak, dikasih sama si Ibuk. Kan, aku bantu-bantu tadi. Mangkanya deh dikasih," kataku berjalan lebih dulu meninggalkan Mas Raditya dengan menenteng kresek tadi.


Sepanjang jalan menuju parkiran, aku bersenandung gembira mendapatkan hadiah seperti ini.


"Mas, cepetan! Lama banget, sih!" keluhku menatapnya.


"Hmm ... sabar kali, mau buru-buru banget."


"Kesian Daisha di rumah, udah lama banget kita tinggal," ujarku yang teringat akan anak itu.


Kami meninggalkan lokasi pesta dan menuju ke rumah Mama, rumah Mas Raditya sudah hampir selesai, sih.


Namun, masih ada bagian yang belum kelar. Rencananya, kami akan pindah ke sana saat kondisinya sudah 100% selesai dan siap untuk di tempati.


"Mas, tadi kenapa sih diam mulu? Aku salam apa, emang?" tanyaku menatap wajah yang fokus pada jalanan.


"Kamu gak jawab telepon aku dan kamu juga gak nyariin aku, seharusnya kalau kamu mau bantu. Kamu kasih tau dulu, mana tadi kamu cerita sama Ibuk itu sampe dia mau jodohin kamu sama anaknya.


"Oh ... jadi, karena cemburu gitu? Denger, ya, Mas! Aku gak suka di diemin, kalo kamu gak suka sama aku atau cara aku.


Ya, kamu tegur kali. Masa istrinya di diemin kayak gitu, kamu juga tadi di goda sama Mbak-mbak jaga prasmanan tuh!


Kamu diem aja, kagak negur mereka. Kalo aku gak disitu tadi, mungkin dia udah kamu ajak akad juga tadi di situ!" cetusku yang tentunya tak terima hanya disalahin.


"Hmm ... tapi setidaknya, saya tidak respons dia, 'kan?"


"Sama aja, kali! Mungkin karena ada aku, coba kalo gak ada? Bisa-bisa bukan cuma kamu respons Mas! Tapi, kamu ajak dia akad saat itu juga! Udah, ah! Diem kamu, malesin aja!" potongku yang kelas padanya.


Kusandarkan punggung pada kursi dan bersedekap dada melihat ke arah lain, mulutku komat-kamit mencerca suami yang ada di sampingku ini.


Biarin saja, daripada aku ngomong langsung yang ada tambah emosi aku. Lebih baik diam gitu sambil ngatain dia.


Helaan napas terdengar keluar dari mulutnya, aku tak mengubris apalagi melirik ke arahnya, "Yaudah, maafin kelakuan saya tadi. Gak seharusnya saya diemin kamu seperti itu," kata Mas Raditya meminta maaf padaku.


Aku tetap tak mengubris dan diam saja, membiarkan rasa kesal ini hilang terlebih dahulu.


"Ana? Kamu dengar apa yang saya bilang, 'kan? Saya minta maaf, Ana."


"Ana?"


"Sayang?"


"Bidadariku?"

__ADS_1


"Cantikku?"


"Apa?!" ketusku. Gagal sudah pertahanan mau ngambek padanya, ah, sangat mudah sekali aku baper dibuat laki-laki satu ini.


"Hahaha, katanya gak boleh diemin kalo marah. Kamu, malah marah sama aku," beonya mengingatkan kembali kata-kataku tadi.


"Y-ya, aku 'kan beda Mas. Kalo aku boleh, kalo Mas baru gak boleh."


"Lah, gak adil dong itu namanya? Hahaha."


"Biarin!"


"Udah, jangan ngambek lagi. Maafin aku, ya." Tangannya mengusap kepalaku, dah, kalah deh aku mah.


Besok-besok, cari di internet deh cara agar gak mudah melting sampai salting dibuat oleh suami sendiri.


Kutahan senyuman dengan merasa pipiku sudah merah dan panas akibat ulahnya ini.


"Gak dimaafin, nih?" tanyanya melirik ke arahku yang kebetulan aku juga melirik ke arahnya.


"Udah!"


"Nah, gitu dong. Oh, iya, kamu tadi ngomong apaan sama Ayu? Kok, kamu sampai pukul dia begitu?"


"Uhuk!" Aku tersedak oleh air liurku sendiri akibat pertanyaan dari Mas Raditya.


"B-bukan apa-apa, urusan cewek Mas. Biasalah," gelagapku.


"Besok, kita ke Bali-nya, ya?"


"Ha?"


"Kenapa?"


"Kok mendadak?"


"Biar aku gak dikira demennya sama hewan," celetuk Mas Raditya membuat mataku membulat kala ternyata tahu dia mendengar ucapan kami tadi.


Tetiba aku panas dingin mendengar ucapannya itu, bukan apa-apa. Aku belum siap untuk melakukan hal ituan. Membayangkannya saja sudah membuat aku ketakutan duluan.


Aku bergedik ngeri dan menutup mata kala membayangkannya, "Kamu kenapa?" tegur Mas Raditya.


"Gak papa Mas."


"Kenapa wajahnya panik gitu?"


"Gak ada."


"Oh, kamu bayangkan besok kita di hotel, ya? Tenang aja, kamu bersama orang yang sudah berpengalaman. Jadi, tenang aja Sayang."


Plak!


"Mulut kamu, ya, Mas!" tegurku setelah memukul mulutnya yang mengeluarkan kalimat tak sepantasnya, "dasar, suami otak mesum!"

__ADS_1


__ADS_2