
Raditya mencari ke mana-mana untuk menemukan Ana, hingga kakinya berhenti saat melihat orang yang dicari asyik dengan ibu-ibu di dapur.
"Jadi, menurut ibu saya masih cocok jadi anak gadis, ya?" tanyaku dengan fokus menatap ibu tersebut.
"Cocok banget atuh, Ibu kira tadi emang belum nikah. Mau ibu jodohkan sama anak Ibu, soalnya jarang ada cewek cantik mana masih muda mau bantu-bantu di dapur gini.
Kalo nikahan, pasti mereka mau di depan biar bisa diliat-liat sama laki-laki. Tebar pesona gitu atuh Neng," ungkap si Ibu membuatku semakin tersanjung bukan tersandung.
"Ah, Ibuk bisa aja," kataku memukul bahunya pelan membuat dia hampir terjatuh akibatku.
"Ehem!" dehem seseorang yang tak asing di telingaku, si Ibuk lebih dulu menatap ke arah suara.
"Eh, nyari siapa Dek?" tanya si Ibuk membuat aku perlahan mendongakkan wajah.
"Cari istri saya Buk, tadi dia kayaknya tinggal di sini. Ibuk liat?" tanya Mas Raditya dengan tatapan tajam melihatku.
"Enggak, emangnya gimana istri Adek? Mungkin, dia ada di depan, ya?" jawab si Ibuk dengan polosnya.
Aku kembali memakai tas juga hells, "Lah, Neng? Udah kelar? Mau ke mana? Masih ada ini," papar si Ibuk menatap ke arahku.
"Hehe, suami saya udah jemput Buk," jawabku menunjuk ke arah Mas Raditya menggunakan mulut.
"Oalah, ini ternyata suami kamu toh? Pantesan ganteng banget, pas! Ganteng sama cantik," puji si Ibuk tersenyum menatap ke arahku.
Aku hanya cengengesan, "Woiya, dong, Buk! Kalau gak ganteng, saya juga gak mau. Masa, udah galak malah jelek juga," ujarku sedikit berbisik ke arah si Ibuk membuat dia tertawa.
"Jagain istrinya Dek, cakep lho ini. Mana baik juga, zaman sekarang susah nyarinya!" pesan si Ibuk menunjuk Mas Raditya yang dari tadi menampilkan wajah datarnya.
"Iya, Buk."
Aku berdiri dan merapikan pakaian, "Yaudah, kalau gitu saya ke depan dulu, ya, Buk."
"Iya, nanti Ibu kasih, ya."
"Aman, bye Buk. Assalamualaikum," pamitku dan pergi bersama dengan Mas Raditya keluar dari rumah.
__ADS_1
Di perjalanan kembali ke bangku, Mas Raditya hanya diam saja tak berbicara apa pun.
"Kenapa gak diangkat telepon saya?" tanyanya melirik ke arahku.
"Lah, kamu nelpon aku Mas?" Aku langsung membuka handphone dan melihat lebih dari 10 kali panggilan tak terjawab dari Mas Raditya.
"Ya, ampun Mas. Aku lupa, ini handphone-nya aku silent jadi gak denger deh kamu nelpon. Maaf, ya," ucapku berbohong. Padahal, aku memang sengaja melakukan hal itu padanya agar ia jera untuk tak terbiasa meninggalkan aku.
Dia hanya diam tanpa merespons jawabanku, atau bisa dibilang alasan, sih.
"Lagian kamu itu, aku malah ditinggal sendirian. Kalau aku diculik tadi, gimana? Mau kamu jadi duda lagi?"
Langkahnya spontan berhenti dan menatap ke arahku, aku yang melihatnya sedikit takut karena tatapan yang ia berikan tak biasa. Apakah dia marah?
"Jangan pernah berkata seperti itu dan jangan pernah berpikir untuk berpisah denganku!" tegasnya membuat aku menelan saliva.
Kuanggukkan kepala dan dirinya kembali melangkah ke bangku kami dengan menggandeng tanganku.
Cukup horor, ygy, tatapannya tadi. Akan tetapi, apakah sebesar itu cinta dia sama aku mangkanya tatapannya begitu menakutkan?
Dengan gaun putih dan diamond sebagai penghiasnya, juga rambut panjang dibiarkan terurai.
Ayu, bangkit dari singganannya dengan dibantu oleh Rendi yang telah sah menjadi suaminya itu.
"Pertama-tama, saya tentunya berterima kasih kepada Allah sebab mempertemukan saya dengan jodoh saya," ucap Ayu menatap ke arah suaminya itu dengan penuh cinta.
"Mungkin, para hadirin yang datang sedikit atau bahkan banyak heran. Kenapa, nama calon saya berbeda dengan yang ada di undangan.
Ya ... mereka memang berbeda dan tidak sama, laki-laki yang ada di undangan adalah laki-laki pengecut!
Sedangkan laki-laki yang sekarang ada di hadapan saya ini, adalah laki-laki pemberani juga sangat-sangat baik.
Dia teman kuliah saya, saya kenal dia bukan tanpa sebab. Melainkan, melalui sahabat saya sendiri.
Di sini, saya mau memberi tahu buat yang hadir baik sedang pacaran atau pun tunangan. Untuk perempuan, jangan mudah untuk percaya apalagi berharap dengan laki-laki.
__ADS_1
Begitu pun sebaliknya, karena ketika kita berharap dengan manusia. Yang akan kita dapatkan hanya rasa sakit semata.
Untuk laki-laki terutama, jangan jadi laki-laki pengecut! Jika dari awal kau hanya bermain-main saja sama wanitamu.
Jangan pernah memberi dia perhatian apalagi janji-janjimu itu! Karena, selain ucapanmu. Apalagi yang bisa kami sebagai wanita pegang?
Tapi, saya juga dapat pelajaran dari apa yang menimpa saya ini. Bahwa ... mau seberapa lama kita kenal orang tersebut, tidak menjamin bahwa dia akan beneran baik seperti yang kita lihat.
Juga ... tak ada yang tau jodoh manusia, kita bisa berencana jatuh cinta dengan siapa dan nikah dengan siapa pula. Namun, kita tidak bisa menjamin bahwa dia benar-benar adalah jodoh dan takdir kita.
Intinya, percayalah kepada seseorang sebagaimana dirimu sanggup menerima kekecewaan.
Terima kasih untuk yang telah datang juga spesial untuk sahabat saya, Ana. Serta, suami saya ... Rendi."
Tepukan tangan dan berdirinya tamu membuat semua orang terpukau dengan apa yang disampaikan oleh Ayu barusan di depan sana.
Aku bahkan sampai meneteskan air mata, dengan cepat kuhapus menggunakan tanganku agar tak merusak make-up ini.
"Mas, masih ada gak make-up aku?" tanyaku menatap ke arah Mas Raditya.
"Masih kok masih," jawabnya dengan malas. Sangat-sangat menyebalkan! Gak ada happy-nya jadi suami, gitu. Seneng dikit, kek. Menyebalkan!
Kami akhirnya makan dengan hidangan yang telah di sediakan, sebagai wanita yang tahu bahwa suamiku tidak se-sosweet yang ada di cerita-cerita.
Kuambil sendiri lauk-pauk juga nasi yang disediakan, suamiku hanya mengikuti istrinya dari belakang.
Kulihat ke arah penjaga, mereka tampak centil menggoda laki-laki yang ada di belakang-ku ini. Ya ... dengan sikap kami yang dingin seperti ini, gak heran sih kalau mereka ngira bahwa kami bukanlah pasangan.
"Ehem!" dehemku membuat wanita penjaga makanan menatap ke arahku, "udah punya istri dia Mbak. Suami orang, tuh!" Aku menampilkan senyum terpaksa dan memamerkan cincin ke arah wanita itu.
Wanita itu hanya cengengesan dan sedikit menahan malu, sedangkan Mas Raditya masih dengan wajah datarnya seperti triplek itu.
Kembali duduk di bangku dengan wajah yang ikut datar dengan Mas Raditya, aku tak paham kenapa dia diam-diam saja.
Apakah dia malu membawa diriku? Kulihat sekali lagi ke baju juga melihat make-up melalui handphone.
__ADS_1
Tak ada yang salah bahkan make-up-ku terkesan natural dengan blus on yang tak terlalu merah seperti di KDRT.