(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Kabar Gembira dan Duka


__ADS_3

Makan malam ini hanya ada suara denting sendok yang saling sahut-menyahut, aku masih saja kesal dengan Ade.


Tapi, tak seharusnya aku malah mendiamkan Mas Raditya juga Daisha, 'kan? Entahlah, susah rasanya mengontrol mood dan emosiku ini.


Selesai makan malam dan melaksanakan kewajiban, kami bertiga ke ruang keluarga untuk menonton televisi juga membantu Daisha mengerjakan tugasnya.


"Gimana hari pertama masuk sekolahnya tadi, Sayang?" tanyaku pada Daisha membuat mereka berdua; Mas Raditya dan dirinya yang sedang duduk di bawah karpet menatap ke arahku.


"Seru, Mi! Banyak temen baru juga, gak kerasa susah soalnya jadinya."


"Syukur deh kalau gitu," ucapku membuat Daisha mengangguk.


"Oh, iya, ada sesuatu yang mau aku sampaikan, nih!" sambungku membuat mereka berdua sekarang menghadap ke arahku.


"Apaan Mi?"


"Ada apa Sayang?"


"Tunggu bentar, ya!" titahku dan bangkit dari tempat duduk masuk ke kamar.


Kuambil hasil dari rumah sakit tadi di dalam tas, kubawa ke ruang keluarga kembali dengan mereka berdua yang sudah penasaran.


"Nih," kataku menyerahkan hasil dari dokter tadi.


Mas Raditya langsung mengambil amplop, "Ha? Rumah sakit? Kamu habis dari rumah sakit tadi?" tanya Mas Raditya yang kaget.


"Iya, Mas. Tiba-tiba pusing soalnya tadi pas di butik."


"Terus, dokter bilang apa?"


"Kamu liat dan baca sendiri aja di situ ada hasilnya Mas," titahku padanya.


Mas Raditya langsung membuka amplop dengan cepat, dibaca fokus tulisan yang ada di kertas bahkan hal tersebut membuatku mengulum senyum.


"Papi, Daisha juga mau baca, ih!" gerutu Daisha sebab Mas Raditya tak memberi dirinya bagian untuk dibaca.


"Eh, iya, nih."


Mereka membaca bersama-sama dan saling pandangan persekian detik, aku sudah menutup mulut agar tak terlihat sedang tersenyum bahagia melihat ekspresi mereka.


"Mami hami?"


"Kamu hamil?"


Kuanggukkan kepala menjawab pertanyaan mereka berdua.


"Yee!" pekik Daisha berdiri dan meloncat-loncat sedangkan Mas Raditya langsung berhambur ke pelukanku.


"Ish, awas Papi! Jangan deket-deket sama Mami!" larang Daisha menarik tangan Mas Raditya agar tak memelukku.


"Kenapa emangnya?"


"Papi berat, nanti adik Daisha kehimpit. Kalau Daisha baru boleh soalnya Daisha masih kecil!" terang Daisha dan menggantikan Mas Raditya yang tadi memelukku.


Aku hanya bisa tersenyum serta membalas pelukan Daisha padaku, "Love you Mami," bisik Daisha.

__ADS_1


"Love you too, Sayang," balasku mengusap punggungnya.


"Nenek sama Dara udah dikasih tau Mi?" tanya Daisha menatapku setelah pelukan dilepaskan olehnya.


"Belum, Sayang," jawabku sambil mengusap ujung mata karena sedikit berair melihat kebahagiaan mereka.


"Yaudah, ayo kita telpon mereka kalau gitu!" saran Mas Raditya mengambil handphone yang ada di meja.


Daisha duduk di tengah-tengah dan menempelkan tangannya di perutku sambil menatap ke arah handphone Mas Raditya.


"Adiknya ada berapa Mi?" tanya Daisha tiba-tiba.


"Hahaha, satu aja kali, ya."


"Mmm ... dua juga gak papa, Mi. Biar Daisha bantuin jaga nanti."


"Jangan dong, kamu harus fokus sekolah."


"Ya, habis sekolah nanti Daisha biar bisa jaga mereka deh."


"Gak perlu, yang penting Daisha harus tetap fokus sama sekolah aja. Masalah adik, nanti kita pikir sama-sama, ya. Mana tau, bisa pake pengasuh mereka."


"Iya, mereka pake pengasuh Daisha gak usah, ya, Mi."


"Lah, emang kenapa?" tanyaku menatap Diasha yang terlihat memang tak bahagia semenjak Ade menjadi pengasuhnya.


"Eh, ini udah tersambung," potong Mas Raditya membuat aku mengalihkan pandangan ke arahnya saat video call sudah tersambung.


Mereka terlihat sedang berkumpul seperti biasanya di ruang keluarga, memang kebiasaan ini diterapkan almarhum Papa semenjak kami masih kecil.


Sesibuk apa pun pekerjaannya harus bercerita atau kumpul meski hanya sekadar menonton televisi bersama.


"Assalamualaikum," salam kami serempak menatap ke arah mereka.


"Waalaikumsalam, ada apa, nih?"


"Hay, Dara!"


"Kak Daisha, Dara rindu!"


"Kayaknya, kita perlu nelpon pake handphone lain, deh," kataku. Pasalnya malah Daisha dan Dara yang menguasai kamera, bahkan jidat mereka paling terlihat.


"Benar, telpon ke nomor Kakak aja dek," titah Kak Kamelia.


"Iya, Kak. Bentar, ya!"


Handphone diberikan Mas Raditya ke Daisha, Daisha langsung duduk di karpet dan bercerita pada Dara.


"Udah, aku aja!" larang Mas Raditya saat aku hendak mengambil handphone ke kamar.


"Ih, gak papa Mas. Ana bisa, kok."


"Gak usah, nanti kamu capek. Tunggu bentar, ya!" Mas Raditya langsung bangkit dan berjalan menuju kamar untuk mengambil handphone-ku.


Kutatap punggung yang menjauh dan masuk ke dalam kamar, kugelengkan kepalanya melihat sikapnya yang berubah.

__ADS_1


"Apa? Wanita itu hamil? Gak bisa dibiarin, nih. Aku harus segera lapor ke nenek peyot," ucap Ade yang menguping pembicaraan keluarga itu dan bergegas masuk ke kamar.


Setelah Mas Raditya membawa handphone-ku, kami langsung menghubungi keluargaku di sana.


"Jadi, ada apa nih? Gak mungkin kalian nelpon karena gak ada sebab," ucap Bang Dikta yang sudah menebak bahwa ada sesuatu.


"Jadi ... sebentar lagi ... Mama akan punya cucu lagi!" pekik Mas Raditya membuatku sampai kaget.


Persekian detik mereka terdiam, hingga akhirnya saling berteriak histeris bahagia bahkan Mama meneteskan air mata mendengar kabar ini.


"Aaa ... selamat, ya, dek. Kamu mau Kakak buatkan apa? Kalo ngidam sesuatu langsung kasih tau Kakak, ya!"


"Iya, Abang juga!"


"Kayaknya Mama harus terbiasa mandiin bayi lagi, nih."


"Aaa ... makasih, semuanya."


"Bro, lu harus jadi suami yang siaga buat dia. Ingat, dia itu anak bungsu pasti manja banget nanti dan ngidamnya juga akan aneh-aneh. Jadi, persiapkan diri lu!"


"Aman, Bro! Udah siap banget soal itu, kok mangkanya deh dibuat. Kalo belum siap gak akan buat."


Plak!


Secara bersamaan aku dan Kak Kamelian menepuk bahu suami kami masing-masing.


"Kamu Mas! Ngomongnya malah kayak gitu, udah tau ada anak di sini," kataku menegur dirinya.


"Hehe, iya, maaf, Sayang," ujarnya dengan cengengesan. Kulihat ke arah Daisha dia mendongak menatap ke arah kami dengan wajah polos.


Selesai memberi kabar dan bertanya bagaimana keadaan masing-masing, video call langsung dihentikan ketika suara azan berkumandang.


Kami juga langsung ke kamar untuk menerjakan salat, "Mami, Papi. Daisha mau ke kamar dulu, ya. Udah ngantuk soalnya," keluh Daisha mengucek mata.


"Tunggu dulu, Papi mau ngomong sesuatu juga," larang Mas Raditya saat mulutku terbuka untuk menyuruh Daisha pergi ke kamarnya.


"Mas, kamu mau ngomong apa?" tanyaku menautkan alis.


"Papi mau ngomong apa?" tanya Daisha yang berada di sampingku.


Mas Raditya tampak berpikir, mungkin sedang mencari kalimat yang baik untuk memberi tahu kami.


Ia mengusap kepala Daisha yang masih tertutup oleh mukena, "Sayang, kamu, 'kan udah besar, ya?" tanya Mas Raditya pertama-tama membuat Daisha mengangguk.


"Ada apaan, sih, Mas? Langsung aja ke intinya!" tegurku sudah tak sabar membuat ia menoleh ke arahku.


Helaan napas terdengar, Mas Raditya menatap lekat ke arahku, "Sayang ... aku harus pergi ke luar negri selama sebulan," ungkap Mas Raditya seketika membuat aku kaget.


"Papi ngapain ke luar negri? Kalau Mami nanti kenapa-kenapa, gimana?" tanya Daisha yang langsung tak terima.


Sedangkan aku hanya diam dan mengendalikan diri agar bisa mengerti posisi dirinya.


"Karena itu, Sayang. Daisha, 'kan udah gede Papi titip Mami dan dede bayi, ya. Jagain, sebentar aja selama Papi di sana."


"T-tapi--"

__ADS_1


"Kapan kamu akan pergi Mas?" potongku dengan tersenyum getir.


__ADS_2