(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Bertemu Dengannya


__ADS_3

"Kita mah masak apa?" tanya Kak Kamelia dengan membantuku mendorong troli.


"Kakak ambil bahan masakan favorite buat Bang Dikta dan aku buat suami tercinta tentunya," godaku padanya.


"Okey!"


"Okey!" balasku.


Kami mulai ke bagian perdagingan terlebih dahulu, kuambil secukupnya saja dan melimpir melihat minuman yang ada.


Tak lupa memilih buah-buahan yang letaknya tak terlalu berjauhan, kubeli beberapa buahan dengan masing-masing 1kg agar ada stok buah di rumah.


"Kenapa banyak banget?" protes Kak Kamelia melihat aku memasukkan buahan dengan sedikit kesusahan.


"Biar ada penghuni kulkas, jangan sepi bener kayak kuburan," kataku dan kembali melihat-lihat barang serta buahan yang sekiranya dibutuhkan.


"Wah ... bahagia banget yang jadi perebut kebahagiaan orang, ya? Awas, karma berlaku," ucap seseorang yang berada di belakangku.


Aku langsung membalikan badan setelah mendengar ucapannya, mataku menatap tak percaya.


"Gimana rasanya ngambil bekas anak saya?" sambungnya.


"Tante?"


"Oh, kau sudah lupa dengan saya? Hahaha, ya, gak heran sih. Setelah semuanya kau dapatkan pasti akan lupa dengan orang yang kau sakiti.


Ingat satu hal, dunia ini adil. Hari ini kau tertawa di atas kesedihan orang, belum tentu besok kau akan tertawa kembali.


Dan aku, menunggu saat kau menangis sedangkan aku tertawa bahagia melihat tangisanmu itu!" tekannya dan pergi begitu saja.


"Ana!" panggil Kak Kamelia yang berlari ke arahku terdengar dari langkah kakinya.


"Dia ngapain kamu Ana?" tanya Kak Kamelia memegang pundakku sedangkan aku masih menatap kepergian Mama Clara.


"Ana, denger ini baik-baik. Kamu, bukan perebut milik orang lain. Mereka sudah sah secara agama dan negara berpisah, lalu kalau kamu datang ke kehidupan mereka pantas disebut perebut? Kan, enggak."


Kualihkan pandangan menatap ke arah Kak Kamelia dengan bibir yang terangkat tersenyum, "Udah, Kakak tenang aja. Aku baik-baik aja, kok. Yuk, kita belanja lagi. Sekalian beli pakaian si Dede, gimana?" tawarku menatap ke arah Kak Kamelia.


Menenangkan dirinya yang sepertinya panik melihat ekspresi wajahku berubah akibat ulah wanita tadi.


Padahal, aku belum sempat menjawab ucapannya itu. Dia malah sudah pergi lebih dulu, dikira aku adalah wanita lemah seperti di sinetron kali, ya?

__ADS_1


Kami mendorong troli yang penuh ke meja kasir, melihat dan mengingat apa lagi yang kurang.


"Masih ada yang kurang?" tanya Kak Kamelia.


"Kayaknya udah cukup deh, Kak," jawabku menatap ke arahnya. Ia mengangguk sambil melihat antrean.


Aku sempat mengajak Kak Kamelia untuk membeli baju atau mainan, tapi dia menolak karena melihat aku yang sudah berbeda.


Dia akhirnya membawa mobil ke taman, entah untuk apa ke sini tapi aku hanya menuruti saja.


"Kamu duduk di sini dulu, ya. Kakak mau beli jajanan dulu," titah Kak Kamelia membuatku mengangguk.


Kujatuhkan bobot tubuh ke bangku besi yang ada di taman, karena masih pagi keadaan taman cukup sunyi. Biasanya akan ramai mungkin saat akan sore.


Kuhela napas mengingat apa yang dikatakan oleh Mama Clara tadi, aku sebenarnya ingin melihat bagaimana kondisinya setelah kehilangan anaknya.


Setahuku, dia hanya tinggal dengan anaknya setelah suaminya meninggal dunia. Aku ingin melihat bagaimana dia menjalani hidup seorang diri.


Tapi, bagaimana ingin melihat. Tidak sengaja bertemu saja dia sudah semarah itu padaku, aku kira dia akan baik dan luluh dengan kubujuk Daisha waktu itu untuk bertemu dengan anaknya.


Ternyata, semua itu tak ada arti bagi dirinya. Aku tetaplah orang yang bersalah atas bercerai dan meninggalnya Clara.


"Nih, makan ice cream biar mood kamu semakin baik," ucap Kak Kamelia menyodorkan ice cream.


"Kamu tau, Dek? Kita itu gak bisa membuat semua orang menyayangi kita, kita gak bisa membuat semua orang memaafkan kita.


Karena, gak semua hati manusia itu sama. Jadi, kamu gak perlu memaksakan orang lain agar memaafkan atau berlaku baik pada kamu.


Kamu cukup berlaku baik saja pada dia dan lupakan jika dia pernah berlaku baik pada kamu. Kamu jangan sekali-kali menyalahkan diri sendiri.


Itu semua bukan salah kamu, ini namanya takdir. Dia saja yang belum bisa menerima takdirnya itu," kata Kak Kamelia menasehati.


"Iya, Kak. Makasih nasehatnya."


"Sama-sama."


Bercerita dan makan ice cream bersama, sesekali berghibah suami masing-masing juga saling curhat bagaimana kehidupan menjadi seorang istri.


Kami memutuskan untuk pulang saat Mama menelpon kami sambil marah-marah, "Katanya mau buatkan suami makan siang! Ini udah jam berapa, ha? Kalian di mana?" omel Mama di telepon beberapa menit yang lalu.


Sehingga membuat kami dengan buru-buru pergi meninggalkan taman dan pulang ke rumah.

__ADS_1


"Assalamualaikum," salam kami serempak dan berjalan menuju dapur sambil membawa kotak juga kresek.


"Waalaikumsalam," jawab Mama di belakang kami.


Kuletakkan barangnya di meja makan dan mulai mengeluarkan semuanya, Kak Kamelia sudah memakai celemek untuk masak.


"Ih, sebentar kali Kak! Ini dulu rapihin!" ajakku mengeluarkan semua barang.


Mama duduk di bangku melihat kami yang sibuk sendiri, "Kalian gak mau hidangkan Mama apa dulu kek, Mama jadi jurinya ini, lho," celetuk Mama membuat kami menatapnya dengan sedikit tertawa.


"Buah Mama mau?" tanya Kak Kamelia karena ada juga ciki serta cokelat kubeli tadi.


"Boleh."


"Bentar, ya."


Kak Kamelia mulai mengambil buahan dan mencucinya sedangkan aku mengambil bahan masakan dan menyusun di kulkas yang sekiranya tak diperlukan untuk memasak kali ini.


"Ma, Kamelia mau nanya dong," ucap Kak Kamelia membuatku yang sedang menghadap kulkas melirik ke arahnya sebentar.


"Nanya tinggal nanya, lho. Ngapain bilang-bilang?" tanya Mama yang emang orangnya tak suka berbasa-basi.


"Mama kenapa perlakukan Kamelia begitu baik? Padahal, banyak banget kasus di luar sana yang mertuanya jahat.


Bahkan, Mama gak pernah mau ikut campur dengan rumah tangga Kamelia dan Bang Dikta. Mama juga gak pernah membela Bang Dikta meskipun dia anak Mama.


Maksud Kamelia, Kamelia, 'kan dulu seorang janda. Lantas, kenapa Mama gak pernah mempermasalahkan itu juga kenapa Mama baik banget sama Kamelia.


Mama juga waktu itu nyuruh Kamelia untuk panggil Mama, bukan Ibu atau yang lainnya. Kata Mama, biar sama kayak anak-anak Mama yang lainnya," terang Kak Kamelia dengan suara serak.


Aku berjalan ke arah meja di mana ada dirinya juga Mama sebab bahan makanan yang akan dimasukkan ke kulkas sudah kosong di tanganku.


"Entahlah, mungkin orang lain ngerasa Mama aneh, ya? Padahal, di mana-mana kayaknya seorang mertua itu jahat, kejam atau gak bisa akur sama menantu.


Menurut Mama, ketika anak Mama menikah dengan seseorang berarti seseorang itu juga menjadi anak Mama.


Mama gak memperdulikan status dirinya, mau kaya atau miskin atau bahkan sederhana. Gadis atau janda menurut Mama sama saja.


Selagi dia bisa menjaga kehormatannya, kenapa enggak? Lagian, Mama punya seorang anak perempuan.


Bagaimana dia mau diperlakukan baik dengan mertuanya nanti jika Mama memperlakukan anaknya dengan tak baik?

__ADS_1


Masalah ikut campur dan membela, bukannya seorang ibu adalah hakim terbaik untuk anak-anaknya?


Waktu anaknya masih kecil dan salah pasti di marahi, lantas sudah menikah dan dewasa kenapa malah anak orang yang dimarahi padahal sudah jelas-jelas anaknya yang salah?"


__ADS_2