(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Bukan Pembunuh


__ADS_3

Daisha lumayan gembira setelah keluar dari ruangan Mamanya, setidaknya ia sudah bisa melihat keadaan Mamanya.


Saat masih berada di koridor dan tak jauh dari ruangan Clara, dokter beserta asistennya berlari membuat kami melihat ke arahnya.


Mereka masuk ke dalam ruangan di mana Clara di rawat bahkan polisi juga masuk ke dalam ruangan itu.


"Mama? Mama kenapa Mi? Mama!" pekik Daisha melepas genggaman tangan berlari kembali ke arah kamar Clara.


"Daisha!" panggilku ikut berlari kembali ke kamarnya.


Wajah Clara sudah di tutup selimut oleh dokter, isakan tangis suara Mamanya terdengar begitu pilu memeluk tubuh anaknya yang sudah tak bernyawa.


Aku berjalan mendekat masuk ke dalam ruangan tanpa kata, tatapanku kosong, air mata menetes tanpa bisa ditahan.


"Mama ... Daisha sayang Mama! Bangun Ma ... Mama!"


"Mama ... jangan tinggalin Daisha Ma!"


"Mama!"


"Ma!"


Daisha berteriak dan mengoncang tubuh yang tak akan pernah bisa me-respons lagi, aku segera memeluk erat tubuh Daisha agar ia sedikit tenang.


"Mami, Mama ninggalin Daisha Mi," kata Daisha dengan suara yang mulai tersekat.


"Sayang, jangan kayak gini. Kesian Mama, Daisha harus ikhlas, ya, Nak," ucapku menenangkannya dan menatap ke arah tubuh yang sudah tak bernyawa lagi.


***


Melihat pemakaman membuat aku kembali teringat dengan almarhum Papa, sekarang gimana dengan Papa, ya?


Apa beliau sudah bahagia di sana? Aku sampai lupa mengenalkan suamiku pada Papa, pasti Papa akan sangat senang jika kukenalkan menantunya.


Pemakaman Mbak Clara dilakukan hari ini juga, lebih tepatnya sore hari. Semua persiapan telah di handle oleh anak buah Tante.


Hingga, pemakaman bisa dilakukan tanpa menunggu besok. Kami sekarang berkumpul dan berdiri di salah satu liang lahat.


Perlahan, mereka menurunkan jenazah yang sudah dikafani. Aku mengalihkan pandangan tak mampu untuk melihat hal tersebut.


Rasanya sangat sakit melihat orang yang kita kenal harus berada di sana dengan dunia yang sudah berbeda dengan kita.


Daisha terus dalam dekapanku, matanya mungkin sudah bengkak bahkan suaranya serak akibat terlalu lama menangis.

__ADS_1


Selesai di kuburkan dan dibaca doa oleh Ustadz yang memimpin, satu per satu orang mengucapkan belasungkawa kepada Tante serta meninggalkan kuburan.


Mamaku juga ada di sini serta Bang Dikta, mereka pamit lebih dulu karena kesian Kak Kamelia sendirian di rumah.


"Mama sama Abang pulang duluan, ya," ucap Mama padaku dan kubalas dengan anggukan.


Sekarang, hanya tinggal kami berempat di sini. Daisha kulepas dan memeluk neneknya, ia menenangkan Tante sedangkan aku berjalan ke arah Mas Raditya yang dari tadi hanya diam saja.


Matahari mulai ingin pergi, sudah terlalu lama kami di sini. Aku mendekat dan ikut jongkok di samping Tante, "Tante, yang sabar, ya. Tante pasti bisa kuat dan Mbak Clara pasti tenang di alam sana," ucapku mengusap bahunya.


Ia mengalihkan pandangan menatap tajam ke arahku, di dorongnya bahuku membuat aku terjatuh ke kuburan yang ada di sebelah samping.


Mas Raditya langsung membantu dan menatap dengan amarah ke arah Tante hingga membuat tangannya terkepal kuat.


"Kamu yang buat anakku sampai meninggal dan seperti ini, kalau kamu tidak ada di dunia ini mungkin anakku masih ada.


Aku udah gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini dan itu sebab dirimu! Kau mengambil semua orang yang di sayangi anakku.


Kau mengambil anaknya juga suaminya, sekarang kau membuat anakku pergi dari sisiku. Pergi sekarang juga!


Aku tak mau melihat wajah sok polosmu itu! Kau pembunuh, kau yang membunuh anakku!" hardiknya menunjuk ke arahku dengan kebencian yang terlihat jelas.


Ada rasa sakit yang tak bisa terucapkan ketika ia mengatakan bahwa aku adalah seorang 'pembunuh'


"Dengar, ya, Tante! Kalau Tante bilang saya mengambil anak juga suami dari Clara, maka Tante salah!


Jika saya melakukan hal itu, saya ogah menemani mereka untuk bertemu dengan Clara bahkan seharusnya saya gak ngasih izin mereka.


Tante bilang saya pembunuh? Hahaha, kalau saya pembunuh. Saya juga gak tertarik membunuh anak Tante itu.


Satu hal lagi yang harus Tante renungkan, seharusnya Tante berubah dengan apa yang sudah terjadi atas hidup Tante.


Bukannya malah tetap menjadi orang yang seperti ini, gimana gak azab Allah datang mulu ke kehidupan Tante kalo gitu?


Ayo, Daisha kita pulang! Biarin aja dia sendirian, orang yang gak tau dikasihani gak pantes ditemenin. Biarin aja dia sendirian di sini!" ajakku pada Daisha mengulurkan tangan ke arahnya.


Daisha bangkit dan menggenggam tanganku, kami pergi meninggalkan dirinya benar-benar sendirian.


Aku kira, ia akan berubah. Jika dia melakukan hal itu karena kaget atau karena kehilangan anaknya satu-satunya.


Sangat tidak pantas hal itu ia lakukan, apalagi dengan kata-katanya tadi, "Kamu gak papa, Sayang?" tanya Mas Raditya melihat ke arahku.


Tangannya mengusap ke bajuku yang kotor akibat ulah Tante tadi, "Gak papa, kok, Mas. Cuma kotor aja jadinya bajunya," jawabku dengan tersenyum kecut.

__ADS_1


Mobil melaju menjauh dari TPU, maunya sih singgah ke tempat Papa. Cuma, mood-ku berubah menjadi buruk karena hal ini.


"Hiks ... hiks."


"Eh, kenapa Sayang?" tanyaku menatap ke arah wajah Daisha yang ada di pangkuanku.


"Maafin Daisha, ya, Mi. Karena Daisha ajak Mami ke pemakaman, Nenek jadi buat jahat sama Mami."


"Gak papa, mungkin Nenek kamu lagi sedih banget. Mangkanya kayak gitu, Sayang," ucapku menenangkan Daisha.


Kami sampai di rumah, aku merapikan kembali pakaian takut Mama melihat dan bertanya padaku.


"Assalamualaikum," salamku dan masuk ke dalam rumah yang kebetulan tak dikunci.


"Waalaikumsalam, eh, baju kamu kenapa kotor kayak gitu?" tanya Mama mendekat dengan menggendong anak Kak Kamelia menatap heran ke arahku.


"Gak papa Ma, ini tadi cuma kepeleset doang di kuburan."


"Kenapa bisa? Bukannya licin di sana tadi."


"Ana gak liat-liat jalan, jadi kesandung deh."


"Ya, ampun. Hati-hati Ana, udah punya anak dan suami masih aja gak bisa hati-hati kalo jalan!"


"Hehe, maaf Ma."


"Yaudah, mandi sana!" titah Mama dan langsung kuangguki sambil mengenggam tangan Daisha mengajak ia masuk ke kamar juga.


"Raditya juga permisi, ya, Ma."


"Iya."


Begitu kamar di tutup, Daisha kembali menangis dengan pelan membuatku menatap ke arahnya, "Kenapa, Sayang? Kok, Daisha nangis terus, sih? Rindu sama Mama, ya?"


"Enggak, Mi. Gara-gara nenek, Mami sampai bohong gitu. Hiks ... maafin Daisha, ya, Mami."


"Ya, ampun. Ini bukan salah kamu, Sayang. Udah, ih! Lebih baik sekarang kita mandi habis itu main sama dede bayi juga makan malam sekalian salat berjamaah bareng nenek. Oke?!"


"Oke Mami!"


"Hapus dulu, dong air matanya. Masa, mau mandi sambil nangis gitu?" Daisha dengan cepat menghapus air matanya.


"Udah Mi," katanya dengan cengiran membuat aku tertawa akibat tingkah polosnya.

__ADS_1


__ADS_2