
Aku disuruh oleh Pak Raditya untuk menemani Daisha di kamar saja dan dia yang melanjutkan cuci piring tadi.
Kutatap jariku yang sudah berbalut plester, seketika senyum merekah tercipta. Sebisa mungkin kutahan agar tak terlihat oleh Daisha meskipun anak tersebut sudah tidur.
Kurebahkan juga kepalaku di samping Daisha dan ikut tertidur di ranjang yang sama siang hari ini.
"Azal!"
"Azal!"
Samar-samar suara masuk ke dalam mimpi bahkan membuat mimpi yang terkesan indah akhirnya menghilang.
Kubuka mata dengan mengercap-ngercapkan melihat ke arah sekitar, di sebrang ranjang sudah berdiri seseorang dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana.
"Eh, ada apa Pak?" tanyaku gelagapan yang terciduk malah tidur siang.
"Saya mau ke kantor, kau jaga dia dan ketika saya pulang dia udah harus mandi dan rapi!" titah Pak Raditya padaku tentang Daisha.
"Iya, Pak."
"Masih sakit jarimu?"
Kulirik kembali ke arah jari sambil menggelangkan kepala, "Udah enggak, Pak."
"Nanti akan ada gojek yang bawa makan untuk makan malam nanti, siapkan memang atau kalau tidak memberatkan tolong hangatkan, ya."
"Baik Pak!"
"Yaudah kalau gitu, saya pergi dulu. Jangan lupa rumah kembali di kunci."
Anggukan kembali kuberikan sebagai jawaban, aku akhirnya ikut keluar dari kamar Daisha dan berjalan mengikuti Pak Raditya.
Dia sudah keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil yang diantar oleh sopir, kuperhatikan mobil tersebut hingga keluar dari pekarangan rumah.
Setelah tak terlihat, ketutup pintu tak lupa menguncinya juga. Kulihat ke arah jam menunjukkan pukul tiga sore.
Padahal sudah sore, tapi Pak Raditya malah tetap ke kantor. Mungkin ada kerjaan yang penting di sana.
Segera kuambil penyapu, kemoceng dan pengepel, "Huh! Padahal rumahnya besar banget, kenapa pembantu cuma satu, sih? Ini, nih, keliatan bos pelit," caciku pada laki-laki pemilik rumah ini.
Kumulai membersihkan meja-meja tempat barang-barang dan pajangan di letakkan. Tanganku malah membuka laci-laci yang ada, kepo.
"Eh, kok gak dipajang gambarnya?" tanyaku melihat ada bingkai foto yang belum terlihat fotonya.
Kubalikkan untuk melihat gambar apa yang ada di bingkai tersebut, sebuah gambar di mana dua orang tengah tersenyum bahagia.
Dengan wanita yang tengah mengandung, alisku tertaut dengan wajah bingung, "Kayaknya, ini Mami Daisha deh. Ini Pak Raditya dan ini pas hamil Daisha.
Emangnya, Maminya sekarang ke mana? Kalo mereka cerai karena Pak Raditya selingkuh keknya enggak deh.
__ADS_1
Istrinya cantik begini, aku aja kalah. Atau ... istrinya yang selingkuh juga enggak, Pak Raditya gak jelek-jelek amat, kok."
Beberapa detik kemudian, kututup mulutku karena merasa ada kalimat yang salah, "Dih, kenapa aku jadi muji Pak Raditya?"
Kulihat di bawah bingkai tadi, ada selembar kertas putih. Kuambil dari dalam laci dan membacanya.
Dengan cepat kubaca isi dalam surat tersebut yang membuatku kaget, istri Pak Radityalah yang menggugat cerai laki-laki itu.
Bahkan, dia juga yang menyerahkan anaknya padahal baru saja lahir. Aku berpikir bahwa Pak Raditya yang menggugat ternyata dia digugat.
"Mami!" pekik Daisha yang membuat aku kaget hingga bahuku terangkat.
Untung saja bingkai yang ada di tanganku ini tak terjatuh akibat karet, segera kumasukkan kembali dengan buru-buru takut jika Daisha tahu.
"Mami!" teriak Daisha lagi dengan suara pintu kamar yang terdengar.
"Iya, Sayang? Ada apa?" tanyaku dengan menstabilkan wajah kaget.
"Mami ngapain, sih?" tanyanya dengan mengucek mata dan berjalan gontai ke arahku.
Aku berjalan ke arahnya setengah berlari saat melihat dia akan menabrak sofa, "Hati-hati Sayang!" tegurku berdiri di depannya hingga akulah yang ditabraknya.
"Hehe, maafin Daisha Mi. Daisha masih ngantuk," keluhnya sambil beberapa kali menguap.
"Jadi, kenapa bangun?" tanyaku jongkok menatap dirinya.
"Abisnya, Mami gak ada sih. Daisha, 'kan jadi kecarian Mami."
"Kan, hari ini Daisha pengen selalu Mami temenin. Hehe."
"Ish, kamu ini!" kataku dengan mencubit pelan pipi gembulnya itu.
"Papi mana Mi?" tanyanya mengedarkan pandangan ke seisi rumah.
"Balik ke kantor," ucapku bangkit dan menepuk paha.
"Mami mau ngapain?"
"Mami, mau bersih-bersih," ujarku dengan tersenyum padannya.
"Ha? Bersih-bersih?" tanya Daisha menaikkan satu alisnya.
"Iya, bersih-bersih." Aku mengangguk dan tersenyum padanya.
"Daisha mau ikut bersih-bersih, dong! Boleh, ya, Mi?" tanya Daisha dengan memohon di depanku.
"Mmm ... gimana, ya? Boleh atau enggak, ya?" tanyaku seolah berpikir sambil mengetuk-ngetuk dagu menggunakan jari.
"Plis ...."
__ADS_1
"Boleh dong!"
"Yeee ...."
Daisha kuberi tugas hanya mengelap sofa saja dan lainnya aku yang mengerjakan, tidak berat karena beberapa pekerjaan dibantu oleh alat karena diberi tahu oleh Daisha.
Tepat jam lima sore, pekerjaan sudah selesai dengan kamar Daisha juga yang kuganti pewangi ruangannya.
Ia langsung kuperintah mandi dan tak lupa kusiapkan pakaiannya, "Mami tau, gak? Daisha seneng banget punya Mami kayak Mami, meskipun Daisha tau.
Kalo Daisha mau Mami tetap ada di sini, Daisha harus buat Papi nikah sama Mami."
"Uhuk!"
Aku tersedak air liurku sendiri, dari mana dia bisa tahu hal itu? Aku yang tengah fokus memakaikan baju jadi terhenti akibat ucapannya.
"Mami kenapa?" tanya Daisha membalikkan tubuh menatapku.
"Sayang, siapa yang ajarin kamu tentang itu?"
"Temen-temen, mereka bilang Mami dan Papi mereka dulu menikah dulu mangkanya mereka boleh manggil Mami dan Papi.
Kalau orang yang belum nikah sama Papi itu gak boleh dipanggil Mami," jelasnya yang seketika membuat kepalaku berdenyut.
Kupijit pelipisku dengan menutup mata, "Sayang, emang bener dan seharusnya kamu panggil saya itu dengan sebutan Kakak. Tapi, gak papa. Selama saya masih ada di sini kamu boleh panggil apa aja."
"Selama masih di sini Mi?"
"Iya, karena nanti Mami pasti akan pergi dari rumah ini kembali pulang ke keluarga Mami," jelasku yang membuat Daisha terdiam seperti berpikir.
Entah anak ini paham dengan apa yang kumaksud entah tidak, tapi mengingat IQ-nya cukup tinggi pasti dia paham dengan ucapanku.
'Kalo kamu mau Mami kamu tinggal sama-sama, kamu harus bujuk Papi kamu biar mau nikah sama Mami kamu.' Perkataan teman Daisha di sekolah tadi berputar di otaknya.
"Oke, sudah selesai Princess," kataku setelah selesai menyiapkan Daisha dengan baju tidur dan rambut yang di gerai akibat masih lembab.
"Wah ... Daisha cantik banget, ya, Mi," kata Daisha berputar-putar padahal tidak memakai dress.
Aku tertawa melihat tingkahnya, hingga suara bell juga salam dari seseorang membuat kami berjalan untuk membuka pintu.
"Udah dibayar, Pak?" tanyaku mengambil makanan dari kurir.
"Sudah, kok, Buk."
"Baik, terima kasih, ya."
"Iya, Buk. Sama-sama."
Kututup kembali pintu tak lupa menguncinya, menggenggam tangan Daisha menuju sofa, "Sayang, kamu di sini sambil nonton dulu, ya. Mami mau mandi sebentar dan letakkan ini ke dapur," titahku dan diangguki oleh Daisha.
__ADS_1
Kuhidupkan televisi dan Daisha duduk di sofa sambil bersandar serta memeluk bantal kecil, segera ke dapur meletakkan makanan tadi dan berlari ke dalam kamar untuk mandi.