(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Memperbaiki


__ADS_3

Raditya dipersilahkan masuk ke dalam rumah oleh Mama Azaleana, ia akhirnya bertemu dengan keluarga dari wanita itu.


"Jadi, Mami mana Nek?" tanya Daisha kembali mencari keberadaan sosok yang membuat mereka datang ke sini.


"Dia udah pergi tadi pagi ke tempat neneknya, dia juga udah pindah kuliah ke sana. Kami gak bisa melarang dia karena emang dia kekeh pengen pindah ke sana. Waktu itu, tiba-tiba aja dia mau minta pindah."


"Huwa ... Mami pindah kok gak ngajak Daisha? Kalo Mami kenapa-kenapa di sana gimana, Nek?"


"Enggak, dia di sana gak akan kenapa-kenapa. Kamu tenang aja, Sayang."


"Daisha mau sama Mami, Pi."


"Kalau saya boleh tau, di mana tempat tinggal neneknya Azaleana, Tante?"


"Di Bandung, dia bantu-bantu di toko Neneknya juga di sana."


"Boleh saya minta alamat lengkapnya?" tanya Raditya menatap ke arah Mama Azaleana.


"Buat apa kamu ketemu sama dia? Mau kamu buat dia lagi sakit hati sampai pergi jauh dari kami, ha?" bantak Pradikta dengan rahang yang mengeras.


Semua yang ada di ruangan kaget terutama Mama Azaleana, dia tak menyangka bahwa Pradikta akan marah hanya soal seperti itu.


"Sayang ... kamu jangan begitu," bujuk Mamanya mengusap bahu Pradikta.


"Kalau kamu datang hanya untuk membuat dia masuk ke dalam masalah kamu, lebih baik gak usah bertemu dengan dia lagi selamanya!" tegas Pradikta pergi meninggalkan ruangan.


Mama melihat ke arah Pradikta yang menjauh dari ruangan dengan amarah, ditatapnya ke arah Raditya dengan rasa bersalah.


"Kamu tenang aja, Tante akan kasih izin, kok. Hal biasa seorang Abang khawatir dengan adiknya, bukan?"


"Maafkan saya Tante."


"Iya, gak papa."


Senyuman tertampil di wajah Mama Azaleana membuat semuanya lebih tenang, Daisha bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Mama Azaleana.


"Makasih, ya, Nenek. Maafkan Daisha yang buat Mami sedih, nanti Daisha gak akan buat Mami sedih lagi, kok."


"Haha, janji?"


"Janji Nek!" seru Daisha sambil menatap ke arah Mama Azaleana dengan mangacungkan jari kelingking.


"Jagain Mami, ya."


"Siap Nek!"


Dengan perasaan bahagia, Raditya dan Daisha pulang dengan membawa alamat rumah Nenek Azaleana di Bandung.


"Kenapa Mama kasih alamat Nenek di sana?"


"Emangnya kenapa, sih? Gak ada salahnya, 'kan?"

__ADS_1


"Dia nanti yang ada buat masalah lagi Ma di sana dan buat Ana pergi makin jauh lagi karena dia."


"Kamu menyalahkan dia seolah kepergian Ana itu sebab dia semuanya, tanpa kamu ketahui bahwa dia juga pergi akibat ulah kamu!


Kamu ingat, gak, apa yang membuat dia pertama kali berani pergi dari rumah? Bahkan, dia harus menghemat uang kuliahnya.


Bekerja menjadi pengasuh di rumah laki-laki tadi yang syukurnya dia baik, kalau enggak? Mungkin, kita udah gak bisa liat Ana lagi sampe detik ini.


Harusnya kamu yang ngaca bahwa yang buat dia pergi itu karena kamu yang terobsesi dengan wanita gak benar itu!" jelas Mama dan meninggalkan Pradikta sendirian di ruang tamu.


Pradikta tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Mamanya, memang semua itu sebab dirinya. Ia terlalu buta karna cinta hingga tak bisa melihat mana yang salah dan benar.


Dihapus air mata dengan cepat agar tak ada yang melihatnya, Pradikta sebenarnya sangat terpukul saat kepergian Ana saat itu.


Hanya saja, ego masih sempat-sempatnya memenuhi hatinya meskipun pikirannya terus memikirkan Ana.


'Abang akan jemput kamu Ana, kamu harus bahagia di sini sama-sama bukan malah di sana sendirian seolah tak punya keluarga,' batin Pradikta yang ingin memperbaiki semuanya seperti semula.


***


"Hello epribadeh! Yuhuu ... Nenek!" pekik Ana begitu tiba di rumah Neneknya.


Rumah sederhana tanpa pagar itu diketuk oleh Ana beberapa kali, di rumah itu hanya ada satu orang saja.


Kakek Ana sudah lama pergi meninggalkan Neneknya sendirian akibat sakit yang di derita olehnya.


"Nenek ... ih! Ana capek, nih. Di mana, sih, Nenek?"


"Eh, makasih Buk."


"Iya, sama-sama. Mari!"


"Ke mana Buk?"


"Mau ke depan, nyari bakso Neng."


"Yaudah, yuk!" Aku ikut dengan Ibuk yang mengajak diriku tadi, koper kubiarkan di depan rumah Nenek.


Ibu tersebut tampak bingung, lah bukankah dia yang mengajak aku tadi? Ngapain harus dia yang terlihat bingung?


Mie ayam bakso menjadi pilihanku dengan teh manis dingin, lumayan ramai orang yang membeli di warung bakso ini.


"Neng dari mana? Kok saya gak pernah liat Neng datang ke rumah Nenek?"


"Oh, saya emang jarang ke tempat Nenek Buk. Ini juga kebetulan karena mau kuliah di sini."


"Baru masuk kuliah?"


"Enggak, sih, Buk. Udah semester enam bentar lagi juga wisuda."


"Emangnya bisa pindah padahal sudah semester enam, ya?"

__ADS_1


"Hehe, ya, kebetulan bisa Buk. Karena saya jago bujuknya."


"Hebat, ya."


"Begitulah Buk."


Tak lama, pesanan kami datang. Aku langsung menambah bumbu pelengkap agar mie ayam baksonya semakin mantap.


Segera kumakan dengan sedikit mengembus panasnya agar reda, "Enak, ya, Buk."


"Iya, ini emang udah langganan saya bei di sini."


"Oh," ucapku sambil mengangguk melihat suasana yang ada.


"Ana!" pekik seseorang membuat aku menatap ke arah sumber suara.


"Nenek?" tanyaku memastikan saat melihat seseorang dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.


Dia mengangguk yang berada agak jauh dari meja kami, aku segera bangkit dari bangku plastik dan berlari ke arah wanita itu.


Hiasan yang ada di leher dan gelangnya, terlihat seperti nenekku ini suka dengan dunia fashion meskipun terbilang norak barang yang dia pakai.


"Pak, bakso saya dibayar sama Ibuk itu, ya!" pekikku menunjuk ke arah Ibuk yang tadi mengajakku.


Kami pergi meninggalkan warung bakso dengan merangkul nenek ke arah pulang.


"Lah, kok malah jadi saya yang bayarnya? Padahal, dia yang makan juga!" gerutu si Ibuk yang tak terima menjadi korban.


Diperjalanan ke arah rumah nenek, aku banyak bertanya-tanya. Meskipun nenek sudah lama tak melihatku secara langsung.


Namun, ternyata ingatan Nenek juga penglihatannya sangat bagus. Ia bisa mengenali aku.


"Jadi, kamu akan lama di sini?"


"Ya, sampe wisuda aja deh Nek."


"Diusir dari rumah?"


"Enggak, kok. Ana yang emang mau ke sini, rindu sama nenek biar nenek ada temennya."


"Halah kamu itu, giliran sekarang aja baru ngomong kayak gitu. Dulu ke mana aja?"


"Dulu, 'kan anu Nek. Menikmati suasa rumah yang ada, mangkanya gak bisa ke sini."


"Halah! Gayamu itu, menikmati-menikmati," sinis Nenek padaku membuat aku tertawa melihat wajahnya itu.


"Nenek tau aku ada di situ dari siapa?"


"Kan lewat tadi, gak sengaja liat kamu. Mama kamu yang ngabari kalau kamu udah sampe di sini kayaknya. Lagian kamu itu, kenapa gak ada ngabari siapa-siapa, sih? Kalo kenapa-kenapa di jalan tadi gimana?"


"Hadeuh ... bisa panjang, nih, omelan Nenek sama aku," gerutuku dengan nada pelan agar tak di dengar oleh Nenek.

__ADS_1


__ADS_2