(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Cocok


__ADS_3

Selesai salat Subuh tadi, aku langsung ke dapur setelah menge-cek bahwa Daisha masih tidur. Rencananya aku akan membantu-bantu Bibik.


"Mau ke mana?" tanya suara bariton yang mengangetkanku.


"Ish, Pak! Buat kaget aja," gerutuku sambil mengusap bahu.


"Mau ke mana?" tanyanya ulang karena tak mendapat jawaban dariku tadi.


"Mau ke dapur Pak, bantuin Bibik siap-siap," ujarku memperhatikan penampilan Pak Raditya, "bapak habis salat?"


Ia malah ikut melihat penampilannya dari atas hingga bawah, "Iya, emangnya kenapa?"


"Enggak papa, Pak. Bagus, yaudah kalau gitu. Saya ke dapur dulu, ya," pamitku yang mulai tak enak.


Takut jika dia sampai mengingatkan pertanyaanku tadi malam yang terkesan tak tahu malu.


"Tunggu!" henti Pak Raditya padaku yang baru saja akan kembali melangkah ke dapur.


"A-ada apa Pak?" tanyaku sambil cengengesan.


"Tolong buatkan saya kopi dengan satu sendok gula aja," jawabnya dengan wajah datar.


"Oke Pak."


Segera masuk ke dapur takut jika ia akan memanggil lagi dan lagi, "Eh, ada apa Neng?" tanya Bibik yang melihat aku ngos-ngosan.


"Gak papa Bik, saya bantuin masaknya, ya."


"Makasih, lho," kata Bibik senang dengan niat baikku.


Aku langsung mengambil gelas terlebih dahulu untuk menyiapkan kopi yang di pesan Pak Raditya tadi.


Berjalan tanpa menggunakan nampan, kuletakkan kopi di atas meja sedangkan Pak Raditya fokus pada laptopnya.


"Gak ada roti, nih?"


"Ha?" tanyaku melihat ke arah Pak Raditya yang fokus melihat layar laptopnya.


"Gak ada roti buat temen kopinya?" tanya Pak Raditya mengalihkan pandangannya menjadi ke arahku.


"Lah, Bapak 'kan gak minta ada roti tadi. Cuma kopi," debatku dan berdiri di depannya.


"Seharusnya kau itu lebih peka Azal, masa ada orang yang ngopi tanpa ada temannya. Roti kek atau gorengan," paparnya membuatku kesal.


"Ya, Bapa--"


"Mami!"

__ADS_1


"Hiks ... Mami!"


Aku yang sempat masih ingin menjawab ucapan Pak Raditya menjadi terhenti akibat suara teriakan Daisha.


"Sayang, ini Mami!" tegurku saat ia seperti orang linglung mencari keberadaan diriku.


"Mami ... hiks." Di dekapnya tubuhku dengan begitu kuat membuat aku sampai terjatuh di sofa.


"Sayang, kenapa?" tanyaku mengusap punggungnya mencoba menenangkan.


"Daisha pikir, Mami pergi lagi kayak waktu itu. Daisha gak mau Mami pergi lagi," jelasnya membuat aku merasa bersalah karena pernah pergi begitu saja.


"Maafin Mami soal itu Sayang, udah, ya. Kamu tenang, Mami gak akan ke mana-mana, kok. Mami, akan terus ada bersama dengan kamu," terangku menenangkan dirinya.


'Bagaimana kalau seandainya Azal malah pergi dari kami? Gimana dengan Daisha nanti? Tapi, Azal juga berhak memilih hidupnya.


Tapi ... apa dari kelimatnya tadi malam, dia berharap aku suka dengan dia, ya?' batin Raditya menatap dua orang yang saling peluk di hadapannya.


"Bapak ngapain liatin saya?!" tanyaku dengan ngegas.


"Siapa juga yang liatin kau Azal, saya nunggu roti saya," kata Pak Raditya yang aku tahu itu hanya alibinya saja.


"Sayang, kita ke dapur, yuk! Bantuin Bibik habis itu siap-siap buat sekolah," bujukku sambil menangkup wajah Daisha.


Ia mengangguk membuatku mengusap pipinya yang diturunin air mata tadi, kami pergi meninggalkan Pak Raditya sendirian.


"Pak, ini rotinya," ujarku meletakkan roti di samping kopinya yang sudah habis.


"Buat roti atau candi? Lama banget."


"Udah untung dibuatin, Bapak 'kan punya tangan dan kaki. Kenapa gak buat sendiri, ha?" omelku yang emosi mendengar ucapannya tadi.


Kutinggalkan kembali dia daripada harus bertengkar pagi-pagi gini, lagian aku dan Daisha harus bersiap-siap untuk pergi.


"Mami, jadi sekolah Daisha di sana gimana dong?" tanya Daisha saat rambutnya tengah kukucir.


Ia menggunakan baju biasa karena memang belum memiliki baju sekolah di sini, kebetulan pemilik sekolah TK itu adalah teman Pak Raditya.


Ya, aku saja sampai melongo karena hampir semua orang adalah temannya. Sungguh sangat terkenal sekali dirinya.


Padahal, untuk menjadi teman dia terbilang cukup sombong dan tak mau banyak bicara. Kenapa orang-orang banyak yang ingin berteman dengannya?


Hmm ... mungkin, karena kaya atau seorang pebisnis yang hebat. Itu sebabnya ia cukup banyak teman dan di kenal di mana-mana.


"Gak gimana-gimana, Sayang. Nanti, kita akan pindah balik, kok."


"Kalau temen di sini pada nakal, gimana?"

__ADS_1


Aku terdiam dan menghela napas, merasa bahwa ini salahku. Aku membuat Daisha jadi ikut pindah sekolah karena keegoisanku ini.


"Sayang, kalau kita baik. Maka, kita akan diterima dengan baik di mana aja kita berada," ucapku sambil memegang bahu Daisha memberi dia semangat.


"Gitu, ya, Mi?" tanya Daisha masih bimbang.


"Iya, Sayang. Nanti, kalau ada apa-apa. Daisha kasih tau ke Buk guru atau ke Mami, ya."


"Iya, Mi."


"Yaudah, sekarang kita sarapan dulu, yuk!" ajakku sambil membawa tas ransel milik Daisha juga tas milikku.


Kami keluar dari kamar dengan bergandengan tangan, sudah tak ada lagi Pak Raditya di sofanya itu.


"Papi mau ke mana?" tanya Daisha saat melihat sudah ada Papinya di ruang makan dengan pakaian yang rapi.


"Papi mau kerja dong, Sayang," jawabnya dengan mengecup pucuk kepala Daisha.


"Lah, kerjaan Papi. Papi bawa ke sini?"


"Bukan, tapi Papi memang ada kerjaan baru di sini. Jadi, Papi kerjain deh mumpung lagi ada di sini."


Daisha menanggapi dengan anggukan meskipun aku sedikit tak paham apakah dia mengerti dengan yang Papinya katakan atau bukan.


Kuambil nasi dan lauk untuk Daisha, "Daisha makan sendiri, ya, Mi."


"Iya, Sayang," jawabku dengan tersenyum mendengarnya.


"Pertama kali liat Neng sama Bapak, saya kira kalian tuh suami-istri, lho. Karena cocok banget gitu.


Belum lagi tadi malam, udah kayak pangeran sama putri banget. Ditambah si Non manggil Neng dengan sebutan Mami.


Kenapa gak beneran nikah aja Pak? Kan, Neng juga anak kuliahan bukan anak petani kayak saya dulu hahaha."


Perkataan Bibik yang sedang menuang susu ke gelasku dan Daisha membuat kunyahan di dalam mulutku semakin melambat.


"Iya, 'kan Nek. Papi sama Mami cocok, 'kan? Daisha juga selalu doa semoga Papi dan Mami mau nikah," harap Daisha sambil melihat ke arahku dan Pak Raditya bergantian.


"Makasih Bik," kataku sambil meminum susu yang telah dituangkan Bibik.


"Saya permisi, ya," pamitnya dan pergi kembali ke belakang.


"Lanjutin makannya, Sayang," suruhku pada Daisha.


Kulirik ke arah Pak Raditya yang ternyata sedang terdiam mungkin sebab mendengar ucapan Bibik tadi.


"Gak usah dipikirkan Pak, santai aja," cakapku sambil mengunyah makanan kembali.

__ADS_1


"Hmm ... ya," balasnya dengan singkat.


__ADS_2