(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Mati Tanpa Mulut


__ADS_3

Di dalam mobil, Pak Raditya berkali-kali membujukku agar tak marah padanya. Padahal, aku juga bingung aku marah karena apa, ya? Hahaha.


Tapi, lucu saja melihat wajahnya itu. Aku keluar dari mobil sebab sudah sampai di rumah Mama, rencananya kami tinggal di sini 3 hari saja dan di rumah orang tua Pak Raditya juga 3 hari agar adil, sih.


"Lah, kok pintunya malah ditutup, ya, Pak?" tanyaku melirik ke arah Pak Raditya yang baru berdiri di sampingku.


"Jadi, mau kau gimana Azal?"


"Ya, dibuka gitu. Kan, kita pengantin baru."


"Jangan kebanyakan nonton sinetron Azal dan berharap yang di sinetron itu jadi kenyataan, udah, ayo, kita masuk!" ajak Pak Raditya sambil menggandeng tanganku.


Kukulum senyum mendapatkan perlakuan seperti ini darinya, kutatap tanganku yang dipegang olehnya.


"Biar jangan dikatain gak romantis!" celetuk Pak Raditya dengan nada nyinyir membuat aku menahan tawa.


"Padahal emang bener juga," gumamku.


Tok! tok! tok!


"Assalamualaikum Ma. Yuhu ... Mama, gak langsung lupa kalo punya satu anak lagi, 'kan?" teriakku ketika Pak Raditya sudah selesai mengetuk pintu.


"Astaga, Azal. Jangan seperti itu, bagaimana pun ini rumah orang tuamu tapi adab-mu harus tetap baik. Kau ini," kata Pak Raditya mengusap wajahnya.


"Ya, lagian. Nyebelin banget, masa pintu di tutup kayak gini, sih. Seharusnya dibuka aja kali, Pak."


"Kan mau magrib, sih. Masa, pintunya dibiarin kebuka?"


Aku terdiam, ada benarnya juga kata Pak Raditya. Apalagi ada Dara di sini. Takutnya, ia pergi begitu saja tanpa bilang-bilang.


"Kok gak dibuka-buka, ya, Pak? Apa ... Mama gak ada di rumah?" tanyaku menatap ke arah Pak Raditya denga mendongak karena sudah menunggu hampir lima menit pintu tak kunjung dibuka.


"Mana saya tau," jawab Pak Raditya santai dengan menaikkan bahunya.


Kubuka gagang pintu dengan sebelah kiri, "Lah, kebuka Pak," kataku saat pintu rumah ternyata tak dikunci.


"Assalamualaikum," salam Pak Raditya yang berada di belakang-ku.


Pintu kembali kututup, "Kok gelap, ya, Pak? Ma ... Abang ... Kakak," panggilku semakin mendekat ke arah Pak Raditya.


"Tapi, mobil mereka ada di depan, kok," ujar Pak Raditya membuatku mengangguk.

__ADS_1


Ctek!


Suara lampu dihidupkan bersamaan dengan suara terompet yang ditiup membuatku kaget hingga menutup mata.


Degub jantungku langsung berjalan dengan cepat dan darah mengalir dengan deras, kubuka mata mendapati mereka semua ada di sini sekarang.


"Yee ... selamat datanga Mami dan Papi!" pekik Daisha berlari ke arah kami.


Ia memelukku membuat aku juga Pak Raditya jadi jongkok untuk menyamakan tinggi kami, "Pak, lepas dulu, ih! Saya susah meluk Daisha," gerutuku dengan berbisik ke arah Pak Raditya.


"Gak mau, saya gak mau lepas tangannya nanti kau ngedumel lagi, ngambek gak jelas lagi bilang saya gak romantis."


"Ya, Allah, Pak! Gak gini juga, dong! Jangan lebay, deh! Gimana saya mau peluk Daisha kalo gini, ha?" tanyaku dengan sengit dan mencoba melepaskan tanganku dari genggemannya.


"Gak mau!" terangnya tetap kekeh dengan pendiriannya.


Aku mengumpat dirinya, terus berusaha melepaskan tangan sedangkan Daisha menatap ke arah kami dengan keheranan.


'Berhasil!' batinku berseru kala mampu melepaskan tangan dari Om-om duda satu ini.


Kupeluk tubuh Daisha dengan erat menyalurkan rinduku, "Mami kira Daisha gak akan ke sini, Mami rindu banget sama Daisha, lho," kataku mengusap pipinya.


"Udah selesai, kok, urusan kepindahan Daisha. Zaman sekarang, apa yang susah, sih, Ana kalo uang kita ada?" celetuk Mama Pak Raditya yang kubalas dengan anggukan menatap ke arahnya.


"Dara udah gak boleh lagi, dong, tidur sama Tante?" tanyanya dengan wajah sendu.


"Boleh! Malam ini Dara sama Daisha boleh tidur sama Mami juga Tante, kok. Gimana?" tawarku pada mereka dengan tersenyum.


"Beneran Mi?"


"Beneran Tante?"


Kuanggukkan kepala dengan pasti, mereka meloncat dengan kegirangan, "Dek, gak sekalian si Baby ini kalian jaga? Kami juga mau tidur duaan, nih," timpal Abang saat aku berdiri dari jongkok.


"Jangan begitu Bro, ini aja aku udah lemes karena gak dapat jatah malam ini," ujar Pak Raditya dengan wajah lesu.


Kubulatkan mata saat ia berkata seperti itu, "Kesian banget, dah. Cari yang lain aja malam ini Bro, banyak tuh 500K dah full service," jawab Bang Dikta membuat aku mebulatkan mata menatap ke arahnya bersamaan dengan Kak Kamelia.


"Abang! Apaan sih, astaghfirullah. Abang pernah pake begituan, ya?" dugaku menunjuk ke arahnya.


"Eh, mana ada. Orang Abang biasa denger dari teman-teman, kok," jawabnya dengan wajah mulai ketakutan.

__ADS_1


"Awas, ya, Mas kalo kamu sampai berani macem-macem kayak gitu!" tekan Kak Kamelia menatap tajam ke arah Abang.


"Tenang Kak, aku akan bantu Kakak kalo sampe dia berani macem-macem!" timpalku yang juga emosi dengan ucapannya barusan.


"Haha, langsung gak berkutik dah kaum laki-laki kalian buat. Yaudah, ayo, kita makan dulu. Ayo-ayo!" ajak Mamaku bersama dengan besannya diikuti oleh Abang juga Kak Kamelia.


"Kau cantik banget marah kayak gitu tadi Azal," bisik Pak Raditya saat aku ingin ikut melangkah ke dapur juga.


Aku terdiam mendengar apa yang ia katakan barusan, sepertinya semu merah juga muncul di pipi sawo mateng milikku ini.


Tersenyum berjalan ke arah dapur sendirian, tentu saja Pak Raditya sudah meninggalkan aku dan pergi duluan.


Kan, dirinya memang sangat tidak ada romantisnya. Padahal, kami baru saja menjadi suami-istri. Satu hari pun belum ada, mungkin efek kelamaan sendiri jadi ia tak paham bagaimana memperlakukan seorang istri.


Ya ... mencoba berpikiran positif sajalah aku meskipun rada kesal pada sikapnya itu.


"Oh, iya, Ma. Papa mana?" tanyaku menatap ke arah Mama yang duduk di samping Mamaku.


"Papa kamu besok baru sampe di sini, soalnya tadi ada meeting penting di kantornya," jawab Mama sambil mengunyah makanan.


"Udah lama pindah di rumah ini Besan?" tanya Mama mertuaku ke arah Mama.


"Ya ... lumayanlah, udah lama juga."


"Jadi, sekarang masih jadi guru?"


"Udah enggak."


"Mama jadi juragan kontrakan Tante," celetuk Abang dengan tertawa."


"Wah ... keren juga, tuh. Tante juga jadi mau, di Yogyakarta, 'kan banyak pelajar dari kota lain di situ.


Kalau buat kost-kostan juga oke kayaknya, cari tanah yang dekat sama kampus favorit di situ."


"Biasanya harganya mahal tapi Tan."


"Ya, iya, sih. Tapi, 'kan nanti akan terjamin kalau laku di situ kost-nya."


"Udah, deh, Ma. Mama gimana ngaturnya nanti? Mama fokus urus Papa aja di luar sana, tau sendiri cewek di luar sana sangat-sangat gimana," timpal Pak Raditya membuatku menatap ke arahnya intens.


"Yap! Tepat sekali kata Radiya, Tante. Mending Tante urus Om aja, deh. Awas, ntar lepas bahaya lho," celetuk Abang.

__ADS_1


"Kalian berdua mau ada kejadian dua laki-laki mati tanpa ada mulut sebab bahasnya cewek mulu, ha?" tanyaku menatap tajam ke arah mereka.


Tak habis Fikri di luar Nurul, pembahasan mereka hampir semua bahas cewek mulu. Apa jangan-jangan, laki-laki kalau kumpul dengan temannya memang lebih banyak bahas soal wanita? Aku jadi curiga ....


__ADS_2