
Aku, Ayudia, Mama dan Daisha tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam karena siang tadi masih ada sisa untukku, Ayudia dan Daisha makan.
Mama dan Abang juga ada keperluan sehingga tidak makan di rumah sedangkan Pak Raditya memang pastinya tidak akan makan siang di sini.
"Jadi, dua hari lagi Daisha mau ada acara, ya?" tanya Mama sekali lagi pada Daisha.
Ia bercerita soal akan jadi pemain di acara lulusan nanti padahal dirinya baru saja pindah ke sekolah itu.
"Iya, Nek. Nanti, nenek datang, ya."
"Mmm ... kalau Daisha kasih izin, Nenek datang, kok."
"Yee ... Daisha akan kasih izin banget dong, Nek. Masa, gak Daisha kasih izin Nenek buat datang. Nenek akan jadi tamu spesial Daisha."
"Ihh ... kamu gemesin banget, sih!" Mama mengecup pipi Daisha gemas sedangkan aku dan Ayudia hanya terkekeh melihatnya.
Tok! tok! tok!
"Biar aku aja, Ma," ucapku dan bangkit dari duduk untuk membuka pintu.
"Assalamualaikum," salam seseorang dari luar.
"Waalaikumsalam, bentar!" jawabku dan membuka pintu, "iya, cari siapa?"
Aku terdiam menatap siapa yang ada di depanku sekarang, seseorang yang tidak pernah terbayangkan bahwa ia bisa melakukan hal seperti itu padaku.
"Mau ngapain kau ke sini?" tanyaku dengan tidak ramah.
"Maaf, aku datang terlambat. Soalnya ada kesibukan," jawabnya yang sangat tidak menyambung.
"Aku bilang ngapain kau ke sini, bukan kenapa kau datang terlambat. Jadi orang kok gak nyambung banget, sih?"
"Siapa, woy? Lama amat lu di pintu," tegur Ayudia yang pasti ingin tahu juga siapa tamunya karena melihat aku tidak kembali-kembali ke dapur.
"Dih, si Kunyuk. Ngapain lu datang ke sini? Om udah di rumah barunya, kalo mau datang ke sono aja.
Kami juga udah gak sedih, besok malah akan ada dj di sini. Sono lu pergi!" usir Ayudia yang malah lebih kejaman dia dibanding aku.
"Apa kalian masih marah padaku? Maaf, aku belum sempat menyampaikan kata itu untukmu Ana.
Maafkan aku atas apa yang telah aku buat, aku tau kalo kesalahanku gak akan pernah kau lupakan.
__ADS_1
Tapi, aku mohon maafkan kesalahanku. Entah bagaimana aku bisa menjadi orang yang sejahat itu."
"Terus? Kami harus bilang wow, gitu?" celetuk Ayudia membuatku menahan tawa.
Padahal, Rian sedang menampilkan wajah sedihnya tapi malah dijawab seperti itu oleh dirinya.
Aku sebagai orang yang selera humornya anjlok tentu saja tidak tahan melihat hal seperti ini.
"Udah, santai aja. Gue juga udah lupain hal itu, kok," kataku yang ingin jahat juga berkata tapi kasian sebab Ayudia sudah terlalu sadis perkataannya.
"Ini buat kau Ana."
"Woy, yang meninggal itu Papanya bukan Ananya. Ngapain Ana yang lu kasih bunga? Ke pemakaman sono kasih tuh bunga ke kuburan Om.
Lu kasih anaknya, ntah untuk apaan. Aneh banget sih lu jadi cowok, dah kena sarap nih orang keknya," caci Ayudia dengan menunjuk ke arah Rian.
Aku tertawa, sudah tidak bisa lagi menahan tawa akibat ulah Ayudia. Ya ... dia tidak seutuhnya salah, sih.
Kan, yang meninggal Papa kenapa aku yang dikasih bunga? Kalau aku sakit, ya, bisa jadi dikasih bunga, gitu.
Ini ... aku sehat dan baik-baik saja, malah aku yang dikasih bunga.
"Ada siapa, sih? Kok kayaknya lucu banget," celetuk Mama yang ikutan menghampiri kami.
"Eh, ada nak Rian. Ayo, masuk!" ajak Mama dan membuka sebelah lagi pintunya, "kalian ini, bukannya diajak masuk malah ngobrol di depan gitu. Gak sopan, tau!"
Rian akhirnya masuk bersama dengan Mama, sedangkan mulut Ayudia tidak ada hentinya komat-kamit entah apa yang dikatakannya.
"Udah-udah, ntar malah jatuh cinta, lho," kataku memperingati sambil mengelus bahunya.
"Dih, lu bisa gak sih kalau doain gue suka sama orang. Orangnya tuh yang real manusia tanpa campuran dedemit apalagi hewan gitu."
"Ya ... jodohnya cerminan diri sendiri hahaha." Kutinggalkan dia takut kena omelan atau pukulan mentah.
"Eh, maksud lu apaan?" pekik Ayudia yang tentunya tidak terima dengan apa yang aku katakan barusan.
Akhirnya, Rian membantu juga kami memasak. Dia bercerita-cerita dengan Mama sesekali Ayudia ikut mencampuri pembahasan mereka.
Mama bukan tidak tahu masalah waktu itu, di mana Rian ingin mencelakaiku dari atap kampus. Tapi, bukanya semua orang memang bisa saja membuat khilaf?
Ya ... anggap saja itu khilaf dari Rian meskipun terlalu ekstrem.
__ADS_1
"Assalamualaikum," salam suara bariton yang tidak asing berdiri di ambang dapur.
Kami langsung melihat ke arahnya serempak, "Papi!" pekik Daisha berlari dan memeluk Pak Raditya.
Laki-laki itu sudah menggunakan baju casual-nya, terlihat biasa saja tapi sungguh sangat tampan.
Eh, salah-salah. Mmm ... ya, terlihat cocok dan pas di tubuhnya yang tegap tersebut. Kulirik ke arah Ayudia, ia merapikan rambutnya juga bajunya.
"Dih, ngapain lu?" gerutuku dengan suara yang pelan.
"Mau menyambut Ayang pulang," jelasnya yang lagi-lagi membuatku tersenyum sembari menggelengkan kepala.
Ada saja memang tingkah Ayudia yang mampu membuatku tertawa, kalau kita lagi sedih emang lebih pas datang ke dia, deh.
Otomatis bukan sedihnya hilang, tapi kejiwaan kita yang langsung terganggu wkwkwk. Becanda, kok.
Pak Raditya menatap ke arah Rian dan ke arahku dengan tatapan seolah bertanya kenapa ada dia, sedangkan Rian menunduk seperti malu dilihat oleh Pak Raditya.
Aku hanya tersenyum menjawab tatapannya padaku, "Sini Nak Raditya, cobain masakan Mama. Nak Raditya ini ternyata jago banget masak, lho.
Bahkan, masakannya bisa ngalahin Mama. Apalagi ngalahin masakan Ana, beuh ... jauh deh rasa masakan dia," hina Mama yang padahal aku sudah diam karena takut berkata. Takut jika dihina, eh, ternyata tetap saja.
"Haha ... calon menantu paket lengkap, ya, Tante? Udah; ganteng, kaya, bisa masak, sabar, beuh ... lampu hijau gak, nih, Tante?" celetuk Ayudia yang lagi-lagi sangat tidak tepat waktu.
Kupukul tangannya setelah berkata seperti itu dengan pupil mata kubesarkan agar dia merasa takut.
Eh, bukannya takut malah cengengesan tidak jelas melihat ke arahku. Pak Raditya juga berjalan ke arah Mama untuk merasakan masakannya itu.
"Woiya jelas dong, bukan cuma lampu hijau aja ini. Besok nikah juga langsung dikasih!" seru Mama sambil menatap ke arah Pak Raditya yang sudah merasa masakannya.
"Uhuk!" Pak Raditya tersedak mendengar ucapan Mama. Aku hanya bisa sabar dan mencabut wajahku.
Setidaknya, harus kusembunyikan beberapa waktu dari sini terlebih dahulu.
"Apa lagi Pak? Udah lampu hijau tuh!" seru Ayudia semakin menjadi-jadi.
"Hati-hati nak calon mantu," kata Mama sambil mengusap punggung Pak Raditya.
Tuhan ... tolonglah, hilangkan mereka berdua dari sini sekarang juga. Atau ... Om Jin, aku sangat butuh satu permintaan itu.
Ternyata, mencabut wajah saja tidak cukup. Harus menghilangkan mereka berdua juga dari sini rupanya.
__ADS_1