(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Kejutan


__ADS_3

Pagi ini, aku sudah siap dengan pakaian kampusku. Keluar bersama tas ransel menuju ruang makan.


"Kau, kapan wisuda Azal?" tanya Pak Raditya begitu aku duduk.


"Mm ... nanti saya nanya Pak, mana tau saya bisa ikutan dengan yang wisuda tahun ini."


"Kau sudah mengerjakan skripsi?" tanya Pak Raditya mengalihkan pandangannya dari benda pipih itu.


Kuanggukkan kepala meskipun hatiku berdebar-debar karena takut jika banyak yang salah di skripsi ini.


"Kau bawa skripsi-nya?"


"Bawa Pak, mau minta cek nanti sama dosennya."


"Baguslah, lebih cepat lebih baik," pujinya kembali menatap benda pipih itu.


Kuambil roti dan memberi selai di atasnya, tidak lupa meminum susu sebagai teman sarapan pagi ini.


"Nanti, kalau kau sudah siap kuliah. Telpon saya, ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan ke kau," terangnya padaku.


"Apa Pak?" tanyaku kepo.


"Nanti juga kau tau."


Tin! tin!


Aku dan Pak Raditya langsung melihat ke arah pintu utama, "Eh, itu kayaknya ojek saya Pak. Saya duluan, ya. Assalamualaikum," salamku memakai kembali tas yang sempat kulepas.


'Pak Raditya, mau nunjukin apa, ya? Kok, harus banget nanti pas sekolah. Apa ini ada kaitannya dengan Daisha?' batinku yang penasaran tingkat akut.


Kota ini begitu ramai di pagi hari, namanya juga hari kerja dan sekolah pasti kendaraan akan ramai di penuhi oleh kendaraan.


Sepeda motor yang kutumpangi berhenti di lampu merah, aku menatap ke arah kanan dan kiri melihat ke wajah orang-orang.


"Masih pagi juga, dah pada lemes aja wajah-wajah mereka pada," gumamku dengan terkekeh kecil.


Kulihat ke sebelah kiri, lebih banyak mobil-mobil di sebelah sini. Mataku menyipit kala melihat ada mobil yang baru saja menurunkan kaca mobilnya.


"Lah, itu cewek yang duduk di sampingnya. Bukannya Bu Clara, ya? Cowok itu siapa?" ujarku menautkan alis bingung.


Warna rambu lalu lintas sudah berubah menjadi kuning, kuambil handphone yang ada di saku dan mengambil gambar mereka tentunya wajah Bu Clara yang harus jelas.


Tak lama, sepeda motor pun berjalan karena lampu telah kembali berubah menjadi hijau. Aku tidak habis pikir, padahal dia yang meminta habis-habisan untuk bisa merawat Daisha.

__ADS_1


Lalu, sekarang kenapa dia malah pergi meninggalkan anak itu dengan laki-laki lain? Siapa laki-laki itu? Apakah Abangnya? Atau ... adiknya?


"Neng?"


"Neng?"


"Neng udah sampe atuh ini Neng!" pekik sopir yang membuat aku kaget dan menghancurkan bayangan-bayangan yang sedang kupikirkan tadi.


"Ish, si Bapak mah! Buat kaget aja!" gerutuku memukul bahunya.


"Lagian atuh si Nengnya, udah sampe itu. Ntar telat belajarnya," jelasnya padaku.


Kubuka helm dan memberikan ongkos padanya, "Makasih, ya, Pak. Maaf, lho, udah dipukul bahunya tadi."


"Gak papa Neng, hahaha." Dia menyipitkan sebelah matanya seolah menggodaku.


"Dih, gue kasih bintang satu ntar lu Pak! Baru tau rasa!" terangku mengancam dirinya dan berlalu masuk ke dalam kampus.


Aku berjalan lebih dulu ke arah ruangan dosen, saat akan masuk ke dalam suara handphone-ku pertanda panggilan masuk pun terdengar.


"Ayudia?" gumamku dan memilih untuk duduk terlebih dahulu mengangkat panggilannya.


"Hmm ... ada apa?"


"Dih, buset! Gue telepon bukannya nadanya semangat malah malas kek gitu, keliatan banget lu kagak seneng gue nelpon!"


"Gue turut berduka cita, ya, gue kebetulan belum bisa datang ke rumah lu. Tapi, sebisa mungkin hari ini juga gue pulang, kok."


"Ha? Eh-eh, tunggu dulu. Lu ngomong apaan, sih? Gak jelas banget!" cakapku dengan tawa yang sudah berbeda.


"Ana? Jangan bilang, keluarga lu belum ngasih tau?"


"Lu apaan, dah? Ngasih tau apa, sih? Siapa yang meninggal di keluarga gue?" tanyaku sambil berdiri dari dudukku tadi.


Jawaban dari Ayudia membuat air mataku langsung turun begitu saja, aku berlari keluar dari gedung ini dan mengurungkan niatku.


Berlari, mencari transportasi apa saja yang ada di jalan. Berjalan di trotoar dengan air mata yang sudah tak tertahankan.


"Gak, enggak! Papa belum meninggal, Ayudia pasti bohong, 'kan Pa? Papa gak mungkin meninggal!" pikirku berbicara sembari berlari.


Tin! tin!


Suara klakson mobil tak kuhiraukan, selama aku berada di trotoar kurasa tak ada yang salah bahkan tak mengganggu pejalan lainnya.

__ADS_1


"Azal!"


"Azal!"


Suara bariton yang tidak asing kembali kudengar, aku tak peduli berapa kali ia memanggil bahkan klakson mobilnya bunyi.


"Azal-azal! Kau tenang dulu!" hentinya yang berhasil memegang kedua tanganku membuat aku berhenti berlari.


"Awas, Pak! Saya mau pulang, saya mau ketemu sama Papa. Ayudia pasti salah, gak mungkin. Gak mungkin Papa pergi ninggalin saya begitu aja!


Papa gak boleh meninggal, Papa belum melihat saya wisuda. Papa belum melihat putrinya yang manja ini menjadi wanita karir nan sukses Pak."


"Azal, kau tenanglah. Tenangkan dirimu terlebih dahulu."


"Tenang Bapak bilang? Papa saya, Pak! Papa saya dikabarkan meninggal dan saya tau hal itu dari orang lain.


Emangnya, saya ini siapa mereka? Kenapa malah orang lain lebih dulu tau dibanding saya, ha?" Tangisan tak dapat lagi kutahan, aku marah dengan segalanya; keadaan, takdir, juga keluarga.


"Azal, bisa kau tenang sebentar? Bagaimana kau bisa datang ke sana dengan posisimu yang seperti ini?"


"Awas, Pak! Bapak ngapain malah menghalangi saya, saya mau pergi! Saya mau melihat Papa saya!" Aku kembali memberontak meminta aar tanganku di lepaskan dari genggamannya.


Aku terdiam kala Pak Raditya membawaku ke dalam dekapannya, menangis sejadi-jadinya di dalam dekapannya ini.


"Kalau aku berlari, kau membutuhkan waktu mungkin seharian dan pasti tidak akan sempat bertemu dengan Papamu.


Jadi, ayo saya antar. Saya akan mengantarkanmu dengan catatan, kau sudah tenang dan tidak gegabah seperti tadi. Bisa?" tanyanya melihat ke arahku.


Aku menjauh dari dirinya dengan mendongak, anggukan kuberikan sedangkan air mata mengalir tanpa jeda.


Kami masuk ke dalam mobil dan langsung pergi ke rumahku, seketika kenangan Papa masuk berputar di dalam ingatan.


Tawa, nasehat, marahnya terbayang-bayang. Air mata kembali jatuh dengan derasnya ketika takdir membuat hancur semua bayangan.


Ya, aku tahu bahwa yang bernyawa pasti akan meninggal dan meninggal itu suatu hal yang misteri.


Tapi, kenapa harus Papaku pergi secepat ini? Saat anaknya masih belum menjadi apa-apa bahkan sekarang masih menjadi anak yang membebani keluarga saja.


Beruntung Pak Raditya memilih jalan tol, sehingga tak perlu waktu yang lama kami akan sampai di rumahku.


Sekitar dua jam lebih dengan kecepatan tinggi, akhirnya kami sampai di rumahku. Sudah ada bendera hijau dan orang yang bergiliran masuk juga keluar dari rumahku.


Kubuka pintu mobil dengan cepat dan melihat ke arah rumahku, rumah yang seharusnya berwarna dan ceria seketika tampak suram.

__ADS_1


Berlari dari kerumunan warga yang berjalan, aku sudah tidak peduli jika dianggap tidak sopan karena menyenggol mereka.


'Mimpi? Apakah ini hanya mimpi Tuhan? Ini pasti hanya mimpi, bukanlah suatu hal yang nyata,' batinku berdiri di ambang pintu dan melihat seseorang terbujur di tutupi oleh kain hingga wajahnya.


__ADS_2