(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Mana Cukup


__ADS_3

"Kalian sehat-sehat, ya, jangan lupa dipake kado buat Mama. Masih ada waktu beberapa hari, bolehlah Daisha di titipin bentar sama orang rumah kamu Ana.


Pasti, mereka gak akan keberatan, 'kan? Apalagi Mama liat Daisha dan juga Dara kayaknya deket banget udahan," tutur mertuaku saat kami sudah berada di bandara.


"Hehe. I-iya, Ma. Nanti kalo emang ada waktu yang cocok, pasti dipake kok kado dari Mama," jawabku dengan sedikit terbata-bata.


"Ingat, lho, harus dipakai. Mama udah booking apartemen dengan view terbaik soalnya di Bali yang langsung mengarah ke pantai, oke? Kalian pasti suka deh sama pilihan Mama."


Kuanggukkan kembali kepala dan suara peringatan bahwa pesawat mertuaku akan segera berangkat pun berbunyi.


"Semoga, Mama ke sini lagi udah ada dede bayinya, ya," ungkapnya sembari mengelus perutku.


Aku hanya bisa tersenyum, entah mengapa rasanya seolah aku di ngebet banget buat hamil dengan orang-orang sekelilingku.


Setelah Mama masuk ke dalam juga melambaikan tangan ke arah kami, kami pun berjalan kembali ke mobil.


Padahal, pernikahanku sangat-sangat baru dimulai. Entah kenapa aku sudah merasa seakan tertekan dengan hal semacam ini.


Apalagi, kerjaan di butik masih banyak yang harus aku handle. Belum lagi mikirin semua ini, bukan aku gak mau hamil. Tapi?


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mas Raditya di dalam mobil saat aku hanya diam dan mungkin ia melihatku murung.


Kugelengkan kepala pelan dengan wajah yang datar juga mata berkaca-kaca, "Jangan bohong, kamu kenapa? Cerita sama Mas, ada masalah? Hmm?"


Ia menangkup wajahku dan menatap dalam mata berwarna cokelat milikku, "Mas ... Ana ngerasa seolah orang-orang ngebet banget atau bahkan maksa banget Ana agar segera isi.


Ya ... Ana tau, kok. Pasti semua orang maunya begitu, tapi, 'kan gak perlu itu mulu yang dibahas. Entah mengapa, Ana jadi risih dan merasa tertekan akan hal ini.


Kayak, emangnya harus banget baru nikah udah hamil? Gak boleh ditunda dulu apa? Setahun atau dua tahun?


Kita juga belum pacaran, kita belum pernah treveling berdua jauh-jauh. Aku masih mau rawat Daisha dulu Mas," keluhku yang baru saja merasakan dunia pernikahan.


Aku kira, orang-orang di sekelilingku tak akan se-excited ini dalam hal menyuruh untuk cepat-cepat punya anak.


Ternyata, lelah juga, ya, jika disuruh seperti ini setiap hari. Ya ... walaupun baru dua hari rasanya saja sudah melelahkan.


"Gimana dengan orang-orang yang belum punya anak sampe bertahun-tahun, ya, Mas? Pasti ... capek banget ngadepin orang-orang yang ngomong dan nanya begitu," sambungku menunduk.


"Sutt ... Sayang, jangan sedih. Maafin Mas, ya, maaf banget kalo becanda Mas terkesan seolah jadi memaksa kamu.

__ADS_1


Mereka juga gak berniat begitu, kok. Mereka itu mendoakan kita, agar segera diberi cucu. Apalagi Mama Mas, dia pasti mau Mas segera punya anak lagi.


Agar, dia bisa gendong bayi lagi. Bukan bermaksud ngebet-in kita atau kamu buat segera punya anak Sayang.


Jangan suudzon sama orang lain, ya? Mas gak akan paksa kamu, kalau kamu emang belum siap untuk punya anak gak masalah, kok.


Mas ... akan selalu menunggu dan sayang sama kamu, lagian Daisha masih bisa dibedung kok. Atau di gendong menggunakan gendongan," kata Mas Raditya dengan suara lembutnya.


Cup!


Ia mengecup keningku membuat aku mendongak menatap ke arahnya, suara yang dulu suka membuat aku kesal.


Sekarang malah menjadi suara yang membuat aku tenang, kupeluk ia mengeluarkan bulir bening kekesalan.


Bukan aku marah atau tak suka dengan ucapan orang-orang, hanya saja mungkin aku kaget ditanya atau bahkan terkesan menyuruh cepat-cepat hamil oleh orang-orang.


"Makasih, ya, Mas. Makasih banget udah ngertiin Ana," ucapku menatap ke arahnya.


Ia mengangguk, "Sama-sama, Sayang. Udah, ah, jangan nangis. Ntar ...."


"Cantinya ilang?" sambungku dengan mengusap air mata.


"Dih, nyebelin banget, sih!" kataku memukul bahunya dan ikut memasang sabuk pengaman juga.


"Nyebelin-nyebelin, tapi sayang, 'kan?"


Cup!


"Pede bener, ini juga kenap main cium-cium seenak jidat tanpa izin dulu, ha? Dipenjara mau karena cium-cium orang?!"


"Hahaha, mana ada suami di penjara karena cium istrinya Azal. Yang ada tuh suami nikah diam-diam, baru tuh bisa dipenjarakan."


"Ngapain nyari tau soal begituan?"


"Ya ... biar mikir-mikir buat lakuin hal itu," jawabnya santai sambil menatap ke arahku dengan senyuman.


"Apa?"


"Becanda Sayang becanda," katanya klarifikasi sebelum aku nge-reog.

__ADS_1


Aku mendengus kesal melihat tingkah jahilnya yang tak kunjung hilang meskipun sudah lama tak saling ada sapa di antara kita.


Kutatap bangunan awal mula segalanya, di mana rumah ini menjadi tempat aku kabur atau lebih tepatnya di usir dari rumah.


Tak ada yang berbeda, hanya terlihat rumahnya lebih suram saja karena tak berpenghuni. Sebenarnya ada orang, itu pun hanya sopir yang memilih tidur di pos daripada di dalam rumah ini.


"Bapak lama banget, sih, pulangnya? Saya suka merinding liat ini rumah mana gede, kosong pula," keluh Pak Parto.


"Kenapa gak berhenti aja Pak pas Mas Raditya pergi dari sini selama 3 tahun?" tanyaku padanya.


"Yo, ndak bisa dong Nyonya. Wong saya masih butuh duit!" ucapnya membuat aku tertawa.


"Gak perlu panggil Nyonya kali Pak, panggil Ana aja. Dulu juga manggil saya Ana doang, kok."


"Kan, dulu sama sekarang beda status kali Nyonya."


"Ya ... gak usah panggil itu. Panggil Neng aja, gimana?" tawarku merasa tak pantas dengan sebutan itu, "saya masih muda Pak, kalo dipanggil begitu kesannya saya tua banget."


Alasan sesungguhnya pun kuuangkap membuat Pak Parto tertawa, "Oh, iya, Pak. Nanti kalau tukang datang ke sini, langsung panggil saya, ya."


"Mau diapain emangnya Pak?"


"Mau diganti cat, sama perbaiki beberapa tempat sesuai kemauan Ana Pak."


"Wah ... sekarang dah punya istri, ya, Pak. Apa-apa harus sesuai sama kemauannya, ya?"


"Haha, gak gitu kok Pak. Biar ada suasana yang baru aja," jelasku tak mau salah paham.


"Iya, bagus itu Neng. Harus ada suasana baru di rumah ini, saya juga bosen kalo liat modelnya di situ aja. Mana gak keren," ucap Pak Parto berbisik.


"Pak ... mau gajinya saya potong?" tanya Mas Raditya mengancam sebab tahu bahwa model tataan barang di rumah adalah ide dari Mas Raditya semua.


Aku hanya tertawa hingga kami memilih pamit untuk masuk ke dalam rumah, melihat-lihat bagian mana yang harus diperbaiki atau barang mana yang sebaiknya diganti.


"Kalau rumahnya kayak gini, mah. 11 anak mana cukup," gumamku dengan nada pelan ingin menjahili Mas Raditya yang fokus ke ruangan lain.


"Ha? Apa kamu bilang Sayang? Gak masalah, kita akan buat rumah yang lebih gede lagi. Kamu tenang aja, rumah ini bisa investasi kita aja. Gimana?" tanyanya dengan menggebu memegang tanganku.


"Hahaha, giliran soal anak aja. Tajam banget pendengar kamu Mas, dasar mesum!" ejekku melepaskan tanganku dari genggamnya.

__ADS_1


__ADS_2