
Kami akhirnya sampai di Bali. Sebuah kota yang dikenal dengan sebutan pulau Dewata.
"Itu, taksi kita," tunjuk Mas Raditya saat kami baru saja turun dari pesawat dan mengambil kopernya.
"Permisi, Bapak Raditya dan Buk Ana, 'kan?" tanya laki-laki dengan senyum ramahnya.
"Iya, Pak. Ini bawa kopernya, ya."
"Baik, kita langsung ke hotel atau mau jalan-jalan dulu Pak?"
"Langsung pulang aja Pak, udah letih soalnya," timpalku yang tak bisa membohongi diri.
Padahal cuma duduk doang di dalam pesawat, tapi rasanya begitu sangat letih. Mungkin, ini rasa letih sebab panik dengan Daisha yang tinggal.
Berjalan menuju mobil dengan digandeng oleh Mas Raditya, seharusnya aku bahagia seperti pasangan pada umumnya.
Tapi, "Dih, Mas! Ngapain pegangan segala? Kita gak akan nyebrang juga!" protesku dengan menatap wajahnya.
"Ya, emangnya kenapa? Kan, udah sah. Gak ada salahnya dong?"
Kunaikkan bibirku sebelah merasa aneh dan sebal akan sikapnya ini, masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu menuju hotel.
"Pak, rekomendasi pantai yang bagus dong," ucap Mas Raditya membuka pembicaraan agar jangan terlalu sunyi di dalam mobil.
"Mmm ... banyak, sih, Pak pantai yang bagus di Bali. Ya, semua terserah Bapak. Coba Bapak cari aja di internet yang mana Bapak mau."
"Siapa yang mau ke pantai?" tanyaku menatap ke arah Mas Raditya membuat ia menatapku juga.
"Ya, kitalah. Masa, ke Bali gak main ke pantainya, sih, Sayang? Pantai-pantai di sini itu bagus banget!"
"Hm ... aku belum tertarik buat ke pantainya."
"Oh, kamu gak mau jalan-jalan, ya? Cuma mau berduaan sama aku aja di hotel? Yaudah, gak masalah kok. Aku malah seneng banget kalo itu mau kamu, kita akan jadi punya banyak waktu," bisik Mas Raditya membuatku menatapnya dengan mata yang melotot.
"Ish! Apaan sih kamu, Mas!" tegurku.
Dia hanya tersenyum sambil melihat ke arah lain, aku juga menatap bangunan-bangunan yang ada di kota ini.
Sebenarnya, aku belum menuliskan tempat yang ingin kukunjungi di kota ini. Sebab, semua terlalu mendadak menurutku.
Hanya karena dia mendengar ucapanku dengan Ayu yang sebenarnya bercanda, dia malah langsung pengen cepat-cepat ke Bali.
__ADS_1
Gini, emang, kalau punya suami gak tau bercanda, susah. Tahunya setiap yang diucapkan orang itu selalu beneran.
Sekitar 45 menit dari bandara, kami akhirnya sampai di hotel. Sopir taksi membantu membawakan dua koper masuk ke dalam hotel.
Sebelum mengayunkan langkah masuk ke dalam gedung, kulihat ke arah sekelilingnya.
"Kenapa?" tanya Mas Raditya yang ikut menatap ke arah mataku melihat.
"Ada mall, Mas. Gampang jadinya kalau mau makan."
"Ya, ampun. Ya, gampanglah Sayang. Di hotel ini, 'kan juga ada restorannya. Tinggal pesan aja, dah dateng."
"Enggak, ah! Aku mau cobain makanan di sekitar sini, bukan buatan hotel. Lagian, pasti mahal kalau makanan beli di hotel."
"Lah, emangnya kenapa? Ada harga ada kualitas Sayang, harganya mahal karena enak, bahannya juga berkualitas serta dimasak oleh chef terkenal dan berpengalaman."
"Aku gak minat, ah! Yuk, kita masuk aja habis itu liat-liat di mall ada makanan enak apa!" ajakku pergi meninggalkan Mas Raditya lebih dulu.
Satpam langsung membukakan pintu untukku, "Makasih Pak," kataku tersenyum ramah padanya dan berjalan ke arah resepsionish.
Sopir dan aku menunggu di meja resepsihionis, karena Mama memberikan tiket dan nomor booking-an hotel padanya.
Ia berjalan ke arah kami dan kembali mengeluarkan uang dari dompetnya, "Pak, Bapak antar kami sampai sini saja. Ini bonus buat Bapak, ongkos sudah saya bayar melalui aplikasi, ya."
"Baik Pak, terima kasih. Kalau gitu, saya pamit."
Mas Raditya mengangguk dan mengambil alih kopernya, "Sini Mas, aku aja yang bawa satu."
"Gak usah, nanti kamu capek."
"Dih, lebay banget! Yaudah kalau gak mau dibantuin mah," jawabku melongos berjalan duluan ke arah lift.
Lantai tiga tak terlalu tinggi, artinya cukup mahal pula Mama membayar penginapan kami di sini. Karena, semakin jauh kamar maka harganya akan semakin murah. Hotel ini ada 8 lantainya.
Berjalan di lorong melihat kanan-kiri ke arah pintu yang tertutup rapat tentunya, berhenti di nomor kartu dan melihat pintunya terbuka.
"Maaf, Pak, Buk. Tunggu sebentar, ya, kami sedang hias kamarnya," ucap salah satu pelayan hotel yang keluar dari kamar.
"Ck! Bintang lima, tapi bisa telat gini mempersiapkan kamar," cetus Mas Raditya bersandar pada dinding menatap malas.
"Ya, mungkin emang lagi rame Mas. Jadi, mereka belum sempat ngerapihin. Udah sabar aja sabar," kataku menenangkan dirinya dengan memukul-mukul bahunya agar tenang.
__ADS_1
Sekitar 10 menit menunggu di luar, ketiga pelayan hotel keluar dari kamar kami. Aku kira, hanya satu pelayan saja di dalamnya.
"Maaf untuk keterlambatan kami Pak, Buk."
"Hm," jawab Mas Raditya singkat dan melongos masuk begitu saja dengan wajah datar.
"Iya, gak papa kok Mbak. Kalau gitu, kami masuk dulu, ya."
"Iya, silahkan."
Aku masuk ke dalam dengan membawa badan dan hanya tas ransel saja, menutup kembali pintu hotel berjalan ke arah kasur.
Sudah ada bunga mawar yang menghiasai ketika aku baru berjalan ke dalam, di sebelah kanan dekat pintu ada kamar mandinya.
Di ranjang sudah ada sepasang angsa serta bunga-bunga membentuk hati, balon juga lilin menghiasi ruangan ini.
Dan ada ... Mas Raditya yang sudah terbaring di kasur dengan telungkup. Kuletakkan tas di meja televisi yang cukup besar berjalan ke pinggir ranjang.
"Cantik banget, mana wangi pula," pujiku terpanah dengan dekorasi yang ada.
"Biasa aja juga, udah lama. Kirain akan ada apa banget di dalam, ternyata cuma beginian dong. Buat berserakan aja," timpal Maa Raditya dengan posisi masih telungkup.
"Bagus tapi ini Mas, gak mudah lho buat beginian."
Kurasa ada pergerakan dari ranjang, ia bangkit dan duduk di sampingku memegang bahu ini membuat aku menatap ke arahnya.
"Kau suka Ana?"
Kuanggukkan kepala dengan cepat dan tersenyum ke arahnya, "Syukurlah, aku kira kau tak akan suka hal semacam ini."
"Ya ... sesekali gak papalah, Mas. Lagian, nanti yang beresin juga pelayan. Kecuali kalau kamu buat beginian di rumah, baru aku akan marah. Karena, capek nyapunya!" jelasku sambil tertawa membuat Mas Raditya tersenyum dengan begitu manisnya.
Mungkin, pas pembagian senyuman manis Mas Raditya maju paling pertama sehingga dia paling banyak dari yang lainnya.
"Yaudah kalau gitu, ayo kita tidur dulu nanti baru rapikan baju ke dalam lemarinya. Akan aku bantu nanti."
Kuanggukkan kepala, "Mas, pas masih kecil pernah dilempar sama gula dan juga madu gak sih wajahnya?" tanyaku dengan serius.
"Ha? Enggak tuh, emangnya kenapa?" jawab Mas Raditya hingga membuat keningnya berkerut mendengar pertanyaanku.
"Soalnya manis kamu kelewatan, lho!" paparku tertawa puas dan langsung berlari naik ke atas ranjang.
__ADS_1