(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Masakan Instan


__ADS_3

Pagi sekali aku sudah berada di dapur, karena pembantu juga belum pulang dari kampungnya. Selesai menunaikan kewajiban aku langsung buru-buru ke dapur selagi orang rumah masih terlelap.


"Aku masak apa, ya?" tanyaku melihat kulkas yang hanya ada daging dan juga sayur-sayuran.


"Hmm ... buat sarapan simple aja, deh."


Kuambil bahan seperlunya, tak lupa mencuci tangan terlebih dahulu agar makanan yang kumasak bersih dan higienis.


Satu jam aku bergelud di dapur, daging lebih dulu kuolah baru sayurannya. Sarapan telah siap dengan tertata di piring masing-masing.


Aku bergegas ke kamar Daisha saat melihat jam menunjukkan pukul enam lebih, "Sayang, ayo, bangun!" ucapku mengusap rambutnya pelan.


Melihat ia tak kunjung bangun, kubuka gorden dan jendela agar udara dingin dan bersih masuk ke dalam kamar.


Suara musik dari pos satpam yang di isi oleh Pak Sopir membuatku mengulum senyum, ia tampak tengah berjoget sambil mengelap mobil-mobil.


"Mami," sapa Daisha dengan suara serak. Kualihkan pandangan melihat ke arahnya seraya tersenyum.


"Iya, Sayang? Ayo, bangun! Udah pagi, kita harus siap-siap sekolah."


"Mami juga mau sekolah?"


"Iya, nanti Daisha Mami yang anter."


"Yeee ...!"


"Oke, sekarang Daisha mandi dulu, ya."


Daisha mengangguk dan turun dari ranjangnya, aku langsung menyiapkan pakaian sekolahnya hari ini.


"Sayang, pakai baju sendiri dulu, ya. Mami mau mandi juga," pesanku dari balik kamar mandi.


"Iya, Mi."


Berlari dari kamar Daisha ke kamarku agar cepat, setelah itu kulihat Daisha sudah menunggu di ruang tengah.


"Kenapa gak ke ruang makan? Nenek emangnya belum bangun?"


"Sudah, Mi. Daisha mau sama Mami."


"Yaudah, yuk, kalau gitu!"


Aku sampai di ruang makan, semua sudah ada di situ. Mereka menatap ke arahku dengan aku yang bertanya-tanya sebabnya apa.


"Siapa yang masak?" tanya Mama Pak Raditya menatapku.


"Saya Tante, emangnya ada yang kurang, ya?"


"Kamu yang buat?" timpal Pak Raditya.


"Iya Pak."


"Ini masakan instan yang kamu sebut?"


"Iya, Pak."

__ADS_1


"Ha? Stek masakan instan? Sejak kapan?"


Aku tak paham, kenapa mereka tampak kaget dengan sarapan pagi ini. Apakah seharusnya itu di makan siang hari, ya?


Soalnya, aku tak tahu hal semacam itu. Selagi aku mau makan stek di pagi hari, pasti langsung aku makan begitupun jika aku mau makan di siang, sore atau malam hari.


"Emangnya ada yang salah, ya, Pak?"


"Gak, duduklah," jawabnya singkat dan memalingkan wajah.


Kujatuhkan bobot tubuh sedangkan Daisha duduk di tempat yang dekat dengan neneknya, "Merendah dengan gaya," gumam Pak Raditya yang masih bisa kudengar.


Andai tak ada Mamanya saat ini, aku sudah pasti akan memarahi dia dan mengajak dia debat soal ini.


Aku masih tak paham apa yang salah dengan stek yang kumasak. Apakah salah jika pagi-pagi makan ini?


Ah, entahlah! Besok-besok sepertinya aku harus bertanya, makanan apa yang biasanya dimakan pagi hari oleh keluarga ini.


"Oh, iya, Ana. Kamu nanti sore ada kesibukan?" tanya Mama Pak Raditya membuatku menatap ke arahnya.


"Mm ... gak ada Tante."


"Pulang kuliah jam berapa?"


"Jam 1 kayaknya Tante, soalnya sedikit, kok, mata pelajaran hari ini."


"Yaudah, nanti sore ikut sama Tante, ya. Temenin arisan."


"Uhuk!" Aku tersedak makanan yang sedang kukunyah, segera kuambil air minum agar membuat tenggorokanku kembali lega.


"Kenapa? Kamu sibuk, ya?"


"Enggak, Tan. Tapi --"


"Udah, gak ada tapi-tapian. Kamu ikut aja sama Tante, biar nanti ada yang jaga Daisha. Soalnya Daisha akan ikut juga nanti."


Ck! Aku kira diajak karena mau dikenalkan dengan teman-temannya bahwa aku adalah calon menantu barunya.


Ternyata, aku diajak hanya karena agar ada yang menjaga Daisha. Sungguh, aku terlalu banyak menonton drama.


"Oh. O-oke Tante," jawabku sambil cengengesan menutup malu.


Kami berjalan bersama keluar dari rumah, aku sama sekali belum tahu seluk-beluk keluarga ini terutama soal Mami kandung Daisha.


Sejujurnya, aku ingin bertanya. Hanya saja, rasanya tak sopan jika melakukan hal itu. Terlebih lagi aku hanya seorang pengasuh di sini.


"Ada apa?" tanya Pak Raditya yang membuatku teradar dari lamunan.


"Apa Pak?"


"Kau kenapa melamun sambil natap saya begitu?" tanyanya dengan wajah datar.


"Dih, geer banget Bapak!" sewotku yang tak terima dengan apa katanya tadi.


"Udah-udah, nanti kalian telat," timpal Mama Pak Raditya. Mereka berdua menyalami wanita tersebut.

__ADS_1


Sedangkan aku hanya sedikit menunduk dan tersenyum ke arahnya, tak ada hak yang membuat aku harus ikut salim juga.


Lagian, waktu di rumah dulu. Aku pun jarang salim dengan Mama karena wanita tersebut jarang ada di rumah.


Ah ... aku jadi rindu dengan sosok wanita tersebut, kuambil handphone dengan tetap fokus pada jalanan.


Daisha duduk di sampingku sambil melihat ke arah samping jalanan, "Assalamualaikum Ma," salamku saat telepon tersambung.


"Waalaikumsalam, kamu lagi apa? Apa kabar kamu?"


"Alhamdulillah Ana baik, Ma. Ini lagi nyetir mau ke kampus."


"Mami telpon sama siapa?" tanya Daisha yang membuat aku menoleh ke arahnya.


"Itu suara siapa Ana? Kenapa dia manggil kamu Mami? Mobil? Kamu jadi istri simpanan? Atau ... kamu udah nikah sirih?"


Pertanyaan beruntun dilontarkan Mama dengan nada yang tinggi membuat aku menjauhkan telepon dari telinga.


Sedangkan Daisha menampilkan wajah bingung dan kepo karena pertanyaannya tak kunjung kujawab.


"Mami?" tanya Daisha kembali.


"Ini Sayang. Mami telponan sama Mamanya Mami."


"Oh, nenek Daisha, ya?" tanyanya dengan semangat.


"Mmm ... iya, Sayang."


"Ye ... berarti Nenek Daisha ada banyak, Daisha mau ngobrol sama Nenek dong Mami."


Permintaan Daisha membuat aku terdiam, Mama di sebrang masih teriak-teriak memanggil namaku meminta penjelasan.


"Ma ... Ma! Tenang dulu, ya, nanti Ana jelasin. Ini, anaknya mau ngomong sama Mama. Bersikaplah seperti nenek yang baik, ya," pintaku dengan sedikit berbisik.


"Heh! Kamu nyuruh Mama tenang-tenang? Baru berapa minggu keluar dari rumah kamu udah punya anak aja!" omel Mama yang tak kupedulikan.


Kuberikan telepon kepada Daisha, lagian sebentar lagi dia juga akan sampai ke sekolahnya tak akan banyak percakapan antara dia dan Mama nantinya.


"Ini Sayang," ucapku menyerahkan handphone.


"Makasih Mi!" serunya dengan bahagia. Aku mengangguk dan membalas senyumannya itu.


"Halo Nek," sapa Daisha tanpa rasa takut sedikit pun pada Mama. Telepon sengaja kubesarkan volumenya agar bisa dengar respons Mama.


"Eh, h-halo," jawab Mama dengan gugup.


"Hihi, suara nenek lucu."


"Lucu kenapa?"


"Lucu kayak orang habis marah-marah," ucap Daisha dengan polos membuat aku tertawa terbahak-bahak.


Andai dekat dengan Mama, sudah pasti aku akan dipukul karena mengejek dirinya dengan tertawa seperti ini.


"Gak salah lagi, ini berarti beneran anak Ana!"

__ADS_1


__ADS_2