
Karena Daisha dan Dara berbeda kelas, Daisha sudah kelas 3 sedangkan Dara masih TK. Tentu saja jadwal masuk kelas juga bermain beda.
Namun, Dara sudah menejalaskan pada Daisha di sebelah mana-mana saja ruangan sekolah ini. Daisha berjalan sendiri ke arah kantin dengan tersenyum.
Meskipun belum punya teman satu kelas yang dekat dengannya, tapi ia diterima dengan baik di kelas tersebut.
Daisha masuk ke dalam kantin membeli dua roti, "Yang satunya, nanti buat Dara deh," gumam Daisha masih berdiri di depan kasir kantin.
"Makasih, ya, Buk," kata Daisha mengambil kembalian dari penjaga kantin.
Uang kembalian dimasukkan Daisha ke dalam kantong baju, ia menatap ke arah depan menuju bangku yang ada di depan kelas Dara.
"N-nenek?" ungkap Daisha terbata-bata melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Daisha berjalan dengan mundur sedangkan wajah menampilkan ketakutan.
"Sayang-sayang, jangan takut sama nenek. Nenek mau bicara sesuatu sama kamu," jelasnya memegang bahu Daisha menahan dirinya agar jangan menghindar.
"Sayang, kamu ingat nenek, 'kan?" tanyanya kembali setelah menahan bahu Daisha. Anak itu hanya menjawab dengan anggukan saja.
Dia adalah Mama Clara, entah dari mana beliau tahu bahwa Daisha ada juga tinggal di sini sehingga dirinya bisa bertemu begitu saja dengan Daisha.
"Alhamdulillah, syukurlah. Jadi, nenek ke sini cuma mau ngasih tau kamu Sayang. Mama Clara lagi sakit di penjara dan pengen banget ketemu sama kamu.
Nenek harap, kamu bisa bujuk Papa kamu agar mau membawa kamu buat ketemu sama Mama kandung kamu sendiri.
Karena bagaimana pun, dia Mama kandung kamu Sayang. Dia yang lahirkan kamu ke dunia ini.
Kamu tau, 'kan kalau Mama Clara dipenjara oleh Papa juga Mami gadungan kamu itu. Mereka ngasih tau kamu soal ini, 'kan?"
Daisha terdiam dan menatap lurus ke depan, selama ini dirinya memang tak pernah tahu soal hal seperti ini.
"Sayang?"
"I-iya, Nek. Nanti, Daisha akan kasih tau ke Papi dan semoga Papi kasih izin buat ketemu sama Mama, ya?
__ADS_1
Mami dan Papi ngasih tau, kok, soal Mama dipenjara cuma kaget pas tau kalo Mama lagi sakit aja," ungkap Daisha dengan tersenyum menutupi kebohongan.
"Baiklah kalau begitu, nenek pamit pergi dulu, ya. Nenek harap, kamu bisa segera ketemu sama Mama kamu.
Pinta Papi agar membebaskan Mama, gimana pun Daisha gak mungkin gak malu kalau temen-temen pada tau Mama Daisha di penjara, 'kan?
Tolong, bujuk Papi agar mencabut tuntutannya sama Mama, ya. Mama udah berubah jadi orang baik, kok. Nenek bisa jamin."
"Mmm ... soal itu Daisha gak bisa jamin untuk bujuk Papi, Nek. Tapi, nanti Daisha coba, ya. Kalau gitu, Daisha duluan, ya, Nek. Assalamualaikum," pamit Daisha pergi meninggalkan neneknya di kantin.
Dirinya merasa sangat tidak nyaman terlebih dahulu ingat perlakuan buruk wanita itu dalam mengurus dirinya.
Sebenarnya, memang Raditya belum memberi tahu bahwa Clara ditahan polisi karena saat itu Daisha koma akibat ulah Clara sendiri.
Hingga tanpa disadari, waktu berjalan begitu cepat sampai lupa bahwa masih ada Clara di balik jeruji besi sana.
Daisha duduk di bangku depan kelas Dara, ia menangis ketakutan dan bingung apa yang akan dilakukannya.
Di lain sisi, bagaimana pun juga Clara adalah Ibunya. Ibu yang melahirkan dirinya, tak mungkin ia membenci apalagi sampai tak melihat wanita itu yang berada di sana.
"Ye ... Daisha!" teriak Dara yang berjalan keluar dari kelasnya. Dengan cepat Daisha menghapus air matanya dan menatap ke arah suara Dara tadi.
"Nih, buat kamu!" kata Daisha memberikan roti kepada Dara yang sudah duduk di samping dirinya.
"Makasih! Kamu ... habis nangis, ya?" tanya Dara menunjuk wajah Daisha.
"Enggak, kok. Daisha cuman kelilipan doang."
"Kalau ada yang jahat sama Daisha, bilang aja sama Dara. Biar kita lapor sama Buk guru nanti!"
"Hehe, aku kira kamu yang akan lawan orang jahatnya."
"Kan, kata Tante gak boleh lawan orang jahat."
__ADS_1
"Oh, iya, kamu benar. Yaudah, yuk, kita makan aja rotinya."
Mama Clara menatap Daisha dari kejauhan, dengan di telinga tertempel benda pipih yang sedang terhubung seseorang, "Kamu tenang aja, Sayang. Dia pasti akan datang buat jenguk kamu, kok. Mama yakin itu!" tegasnya dan kemudian pergi dari gedung sekolah Daisha.
***
"Mas, kamu udah kasih tau sama Daisha soal Clara yang ditahan? Kan, waktu Clara ditahan Daisha masih koma," ujarku yang entah dari mana tiba-tiba bisa kepikiran soal Clara.
Mas Raditya yang tengah membantu tukang menghentikan aktivitas-nya kemudian melihat ke arahku, "Kenapa tiba-tiba kamu bahas soal dia?"
"Gak tau, aku kepikiran aja. Soalnya, udah lama juga gak jenguk dia di penjara. Gimana, kalo kita datang ke sana buat jenguk dia?
Gimana pun, Clara itu tetap Ibu kandungnya Daisha. Dia harus tau bagaimana keadaan ibu kandungnya dong Mas," tuturku menatap ke arah Mas Raditya.
"Gak perlu, buat apa dia ketemu dengan ibu kandung yang tak pernah sayang sama dia? Gak ada gunanya, lagian Clara juga gak berharap bahwa Daisha ada di dunia ini.
Dia ... gak benar-benar sayang sama Daisha, lantas buat apa harus dijenguk dan dibicarakan sama Daisha. Gak penting!" tegas Mas Raditya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Aku memilih untuk tak berbicara lagi, selain dirinya tengah emosi akibat pembicaraan ini. Ada beberapa orang juga di sini.
Tak mungkin kami bertengkar diketahui oleh mereka yang ada malu nantinya aku juga Mas Raditya.
Tepat pukul 11 siang, aku juga Mas Raditya pamit untuk pergi dan pekerjaan dibantu oleh Pak Parto. Rencananya, rumah akan selesai di renovasi ulang paling lama 3 hari.
Tapi, tak tahu juga. Tergantung bagaimana aku mau dengan desainnya, kalau kata mereka sih bisa saja siap 3 hari.
"Maaf, maaf aku tadi kepancing emosi. Aku hanya udah gak mau bahas dia lagi, kalau aku dengar nama itu.
Aku teringat kembali bagaimana perjuangan Daisha untuk bisa sembuh dan sadar dari komanya atas perbuatan dirinya itu!"
Mas Raditya membuka pembicaraan di perjalanan menuju sekolah Daisha, aku sengaja memilih diam bukan karena marah atas emosi yang meledak-ledak darinya tadi.
Hanya saja, kalau aku terus berbicara dan memaksa dia untuk mengikuti kemauanku sedangkan emosi dirinya masih begitu.
__ADS_1
Yang ada semakin runyam semuanya, jadi lebih baik aku diam. Kutampilkan senyuman dan mengangguk sebagai jawaban atas permintaan maaf darinya.