
"Selamat pagi pengasuh Daisha," sapa guru Daisha yang membuatku sedikit terkejut.
"Eh, pagi Buk Guru."
Aku memakaikan tas ransel Daisha dan merapikan pakaiannya kembali, "Belajar yang rajin dan jangan bandel, ya, Sayang."
"Baik Mami!"
Daisha menyalim tanganku dan masuk ke dalam sambil melambaikan tangan, aku yang tadi sempat jongkok kembali berdiri.
"Oh, iya. Kita belum kenalan, 'kan?" tanya guru Daisha membuat aku mengangguk dengan pelan.
"Nama saya Adella, saya teman satu kampus Raditya."
"Saya Azaleana panggil aja Ana, Buk."
"Mmm ... menurut kamu, saya dengan Raditya cocok atau enggak?"
"Saya gak tau Buk, saya bukan dukun yang bisa liat masa depan kalian. Maaf, kalo gitu saya permisi karena masih ada perlu," pamitku yang langsung pergi tanpa persetujuannya.
Entah apa maksudnya berbicara seperti itu, padahal aku sama sekali tak mau tahu soal dirinya dan Pak Raditya.
Mau dia temen sekampus atau bahkan teman tidur juga aku tak mau tahu, aku cuma butuh uangnya bukan masa lalunya. Eh!
Mobil kuparkirkan, keluar dengan memakai ransel milikku. Berjalan dengan setengah berlari masuk ke dalam gedung kampus.
"Woy, Ana!" pekik suara yang tak asing di telingaku.
"Apa?"
"Widih, dapat mobil dari sugar dady, ya?"
"Dapat-dapat! Dikasih minjem itu!"
"Oh, gue kira diberi langsung atas nama lu," ucapnya sambil mengangguk.
Sepanjang koridor kami diam dan fokus ke jalan masing-masing, ada kelas pagi hari ini. Aku juga belum mencatat pelajaran yang kemarin tertinggal.
"Pagi ini yang masuk ngajar kalian adalah dosen baru karena berhubung dosen yang lama melahirkan."
Pemberitahuan mendadak itu membuatku menatap ke arah depan, suara hak seseorang terdengar memenuhi ruangan kami yang memang selalu tenang dan senyap.
Seorang wanita cantik terlihat di samping dosen yang memberi tahu tadi, aku memang tak terlalu hafal nama dosenku sendiri meskipun sudah semester 6.
"Selamat pagi semua, nama saya Clara Larasati. Salam kenal."
Riuh membalas salam darinya kecuali mulutku yang tetap terkatup, kulihat sorot matanya seolah sedang mencari sesuatu.
Hingga akhirnya, matanya menatap ke arahku cukup lama dan tajam. Kutautkan alis karena merasa bingung dan aneh.
"Dih, kenapa tuh dosen?" gumamku yang merasa aneh.
__ADS_1
Kelas pertama telah selesai di jam 9 pagi, aku berniat akan ke kantin bersama dengan Ayudia. Katanya, ada makanan baru yang enak.
Kantin menerima jasa titip makanan dari para mahasiswa/i yang ada, itu sebabnya setiap hari kadang ada saja makanan yang baru di kantin.
"Sebelum semuanya keluar, untuk kau yang saya tunjuk. Ikut ke ruangan saya!" tegas Buk Clara menunjuk ke arahku membuat semua orang menatapku.
"Lah, lu kenal sama dosen baru ini Ana?" tanya Ayudia dengan berbisik.
"Mana gue tau dia siapa," jawabku dengan berbisik kembali.
Kutatap kembali wajahnya yang tengah sibuk menyusun buku-buku, kuprhatikan setiap inc wajahnya dari jauh.
'Eh, kok kayak pernah liat wajahnya, ya?' batinku mengingat sesuatu.
Aku terdiam beberapa saat mencoba daya ingatku untuk memunculkan memori tentang wajah wanita ini.
'Mamp*s!' batinku sambil membulatkan mata saat ingat siapa wanita itu.
Kurapikan buku dan segera menarik tangan Ayudia, aku harus pergi dan menghindar dari wanita itu.
"Mau ke mana?" tanya Clara saat menyadari bahwa aku akan keluar dari ruangan ini.
"Maaf, Buk. Saya ada tugas, lagian saya gak merasa kenal dan punya ada masalah sama Ibu. Jadi, saya gak ada kewajiban untuk ke ruangan Ibu!" tegasku dengan deg-degan.
'Kalo di bunuh beneran ntar gue, gimana, ya?' batinku yang mulai takut.
Segera kutarik tangan Ayudia agar pergi dari ruangan ini, dengan langkah yang tegap kutinggalkan Ayudia dan menuju kantin.
"Woy! Tungguin gue!" teriak Ayudia yang berlari.
"Lu kenapa, sih?" tanya Ayudia menatap ke arahku.
"Lu tau dosen baru itu siapa?" tanyaku dengan wajah cemas.
"Enggak, siapa emang?" tanyanya dengan wajah polos sambil menggelengkan kepala.
"Mantan istri Pak Raditya."
"Apa?" teriak Ayudia membuat orang yang ada di kantin menatap ke arah kami. Aku langsung memukul bahunya karena hal itu.
"Jangan teriak!" tekanku dengan rahang mengeras.
Ayudia menatap ke sekeliling dengan cengengesan serta meminta maaf akibat menganggu mereka.
"Lu serius, tau dari mana?" tanyanya kembali dengan nada bicara lebih pelan.
"Gue pernah liat foto mereka berdua dan wajahnya sama banget kek cewek tadi."
"Lah, terus gimana? Kenapa lu kabur?
"Lu tau, 'kan? Dia pasti mau ngancem atau marah-marah ke gue karena dikira rebut suami dan anaknya. Eh, lebih tepatnya mantan suaminya."
__ADS_1
"Tapi, 'kan bukan salah lu mereka cerai."
"Ya, emang. Tapi, dia pasti gak mau kalo posisi dia di hati Daisha digantikan."
"Lu tinggal lapor aja tuh ke mantan suaminya biar dia bisa ngasih saran ke lu atau lu minta lindungi sama dia."
Kutatap wajah Ayudia dengan lekat, tumben sekali wanita di sampingku ini memberi saran yang lumayan untuk dipakai.
Kuambil handphone dan mencari nomor laki-laki itu, "Ada apa? Saya lagi ada client ini."
"Pak, mantan istri Bapak ada di kampus saya!"
"Terus?"
"Ha?" tanyaku dengan nada tinggi sambil berdiri di mejaku ini.
"Ya, terus kalo dia ada di kampus kau. Saya harus apa? Apa untung dan ruginya sama saya dia ada di sana?"
"Heh, Pak! Emang bukan Bapak yang dirugikan, tapi saya! Saya jadi gimana di kampus ini! Dia juga udah tau wajah saya pasti dari Mamanya itu.
Gimana kalo dia celakai saya dan buat saya sampe meninggal? Pokoknya, kalo saya meninggal Bapak adalah orang pertama yang saya buat gak tenang hidupnya hingga saya bawa Bapak bersama saya di alam lain!"
"Saya banyak kerjaan, gak sempat ngurusin hal begitu."
"Lah, gak bisa gitu dong Pak!"
"Udah dulu, saya banyak tugas kerjaan. Kau urus saja soal dia."
Klik.
Panggilan dimatikan begitu saja, aku langsung mengepal tangan kesal. Bisa-bisanya dia lepas tangan setelah membuat aku masuk terlalu dalam ke permasalahan hidupnya.
"Kenapa? Dia bilang apa?" tanya Ayudia dengan wajah khawatir.
"Dia gak mau tau, dong! Dia bilang dia ada urusan lain!"
"Ha?"
Aku berjalan mondar-mandir mencari ide, kupukul pelan kening berharap ide muncul secara tiba-tiba.
"Masalahnya, ya, yang mau gue lawan ini dosen. Kalo dia gak dosen gue mah bodo amat, gue lawan juga gak masalah. Gak takut gue," gerutuku yang merasa buntu.
"Lu tenang dulu, deh. Pasti nanti akan ada jalan keluarnya, lagian lu juga belum ngobrol sama Buk Clara, 'kan?
Lu gak bisa berfikiran negatif, bisa jadi dia mau berterima kasih karena lu udah jaga dan rawat anak dia dengan baik."
Kata-kata Ayudia membuatku sedikit tenang, kujatuhkan bobot tubuh ini dan pasrah dengan keadaan nantinya.
"Udah, lu jangan keliatan lemah gini. Nanti yang ada makin enak dia nginjek lu, lawan kalo emang lu benar dan diam jika itu salah lu jangan lupa minta maaf."
Ada perasaan tenang dengan apa yang diucapkan oleh Ayudia barusan, aku langsung memeluk wanita itu.
__ADS_1
"Dih, apaan sih! Jijik tau!" ketusnya yang melepaskan pelukan.
Begitulah kami, memang sangat tak menyukai hal-hal yang seperti itu. Aku tertawa dengan wajahnya tadi yang menolak kupeluk.