(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Mengancam


__ADS_3

Mataku melotot dengan tajam dan mulut cemberut ke arahnya kala melihat Pak Raditya yang berdiri tidak jauh dari tempat dudukku.


"Wanita perebut, wanita perebut! Enak bener mulut Bapak ngatain saya!" tegurku merasa ia tidak sopan.


"Haha, maaf-maaf." Tidak kupedulikan apa yang ia lakukan di sampingku.


Kuposting bunga tersebut di Instagram dengan caption semanis mungkin, setelah ter-upload kembali ke menu utama dan melirik ke arah Pak Raditya.


"Bapak ngapain ke sini?"


"Mau jemput kalian, bentar lagi Daisha juga kelar sekolah."


"Oh, iya, Pak. Tadi, guru Daisha ngasih tau soal pentas itu. Mulai hari ini Daisha udah bisa latihan di rumah."


"Kenapa gak di sekolah?"


"Ya, latihan juga. Paling, dua hari sebelum tampil," ucapku mengangkat bahu.


Dia terdiam sedangkan aku memandang ke arah depan, "Yaudah, kau ajari dia sebaik mungkin. Jangan sampai dia malu karena penampilannya jelek."


"Lah, kenapa saya yang harus ngajari dia? Bapak?"


"Kan, saya gaji kau untuk mengasuh dia. Mengajari dia untuk pentas itu termasuk ke dalam mengasuhnya."


Aku memilih diam daripada harus meladenin ucapannya yang tidak jelas, suara notifkasi handphone membuatku mengalihkan pandangan.


Bibirku melengkung kala melihat sudah ada beberapa orang yang komen bahkan me-like postinganku.


[Bunganya cantik, tapi lebih cantik yang posting.]


[Ana, kelas sepi tanpa dirimu. Kapan kembali ke kota ini? Cepat balik, ya, aku merindukanmu.]


[Woy, Ana! Bunga dari sape tuh?]


[Kalah cantik, kok, bunganya dengan parasmu itu.]


Beberapa orang berkomentar ria tidak ketinggalan Ayudia, di antara mereka malah lebih fokus menggombal diriku.


Lucunya, aku malah tetap tersenyum meskipun itu hanya gombalan belaka yang tidak berarti. Mungkin, sebab tidak pernah ada orang yang berkata manis padaku.


Sehingga, meskipun dikasih gombalan tidak jelas sekalipun aku tetap tersenyum atau bahkan sampai tertawa.


"Ih, Pak! Kenapa handphone saya diambil?!" omelku saat tiba-tiba Pak Raditya mengambil handphone-ku dan berdiri.


Aku berniat ingin bangkit dan mengambilnya, "Stop! Tetap duduk di situ!" larangnya mengacungkan jari telunjuk dengan pandangan tetap fokus ke arah benda pipih itu.


Terpaksa aku duduk daripada nanti malah terjadi hal yang tidak-tidak dengan handphone-ku itu, aku tahu dia pasti bisa menggantinya.


Masalahnya, itu adalah handphone hasil aku menabung selama satu tahun di waktu SMP. Karena jajan sekolah yang lumayan, aku bisa menabung dan hanya perlu waktu satu tahun untuk mendapatkan handphone meski tidak kamera tiga itu.

__ADS_1


"Nih!" cetusnya menyerahkan handphone padaku kembali.


Aku mengambilnya dengan kasar, wajah masih saja emosi padanya bahkan mood-ku langsung berubah akibat ulahnya.


"Lah-lah, mana komentar temen cowok saya tadi, Pak?" tanyaku setelah men-cek kembali postingannya.


"Tidak perlu berteman dengan laki-laki ganjen seperti mereka," tegasnya dengan nada datar.


"Biasa itu mah Pak, namanya juga temenan satu kelas juga," gerutuku tak habis pikir dengan tingkahnya.


"Mending yang lain aja, gak perlu berteman sama mereka!" terangnya menatap ke arahku.


Kukepalkan tangan ke arahnya dengan mulut yang komat-kamit menyumpah bahkan memaki dirinya.


"Akkgg! Tau, ah!" geramku yang sangat emosi.


Berdiri dan menjauh darinya, aku memilih untuk duduk di bangku lain. Tidak ingin berdekatan dengan laki-laki menyebalkan itu.


Padahal, dia tidak ada hak atas diriku. Hanya saja, tidak mungkin aku mengajaknya berdebat di sini.


Kubuka kembali blok mereka, melirik dengan sinis ke arah laki-laki menyebalkan yang ada di sebrang sana.


Ting!


Satu pesan masuk dari aplikasi hijau milikku, nomor yang belum ku-save mengirim pesan.


Satu pesan berupa ancaman diberikan Pak Raditya padaku, aku langsung menatap ke arahnya yang ia seolah merasa tidak ada masalah sama sekali.


[Bukan urusan Bapak!] balasku tidak mau tinggal diam.


[Atau ... akunmu saya hapus?]


[Hahaha, si paling hacker. Sok gaya banget.]


[Jangan buka atau akunmu akan saya lenyapkan!]


[Coba aja, lagian Bapak gak ada hak ngatur-ngatur medsos saya!]


[Ck! Baiklah!] Kutatap ke arahnya setelah membaca pesan terakhir darinya itu.


Apakah dia serius bisa menghapus akunku? Apakah tadi dia langsung melihat email dan kata sandinya?


Setahuku, dia tidak sampai sepuluh menit melihatnya. Tidak mungkin secepat itu dia bisa melihat akunku.


Suara bel menggema membuat tebak-tebakanku soal laki-laki itu harus berakhir, bangkit sambil memegang handphone menunggu keluarnya Daisha.


Pak Raditya yang berdiri juga tepat di depan pintu kelas Daisha merentangkan tangan berharap di peluk pertama oleh Daisha.


Aku hanya diam menatap tingkahnya itu sembari melihat-lihat anak lain yang keluar dari kelas mereka masing-masing.

__ADS_1


"Mami!" pekik Daisha yang langsung berhambur ke pelukanku.


Untung saja aku siap akan pelukannya secara tiba-tiba itu, kalau tidak? Bisa-bisa kami sudah terjatuh di lantai sekolah ini.


Kutahan senyum melihat raut kekecewaan Pak Raditya di sudut sana, "Sayang, kamu gak liat di situ ada Papi?" tanyaku pada Daisha.


"Liat, 'kan yang dari tadi nungguin Daisha itu Mami. Jadi, ya, Daisha harus peluk Mami duluanlah," jelasnya padaku.


Kuanggukkan kepala tanda paham kenapa dia melakukan pelukan padaku lebih dulu, seperti reward karena aku telah menunggunya.


Ia berjalan ke arah Pak Raditya dan memeluk laki-kaki yang sudah ngambek itu, mereka berjalan lebih dulu sambil bergandengan.


Sedangkan aku, di belakang dengan anak-anak yang juga ingin keluar. Banyak ocehan dari mereka kudengar.


Menceritakan soal PR juga tentang pentas yang akan datang, sungguh menyenangkan sekali, bukan?


Hal-hal dan moment yang tidak akan pernah kembali lagi meskipun dirimu sangat ingin merasakannya lagi.


"Mami, Buk guru udah ngasih bukunya, lho," ujar Daisha menoleh ke arahku.


"Iya, Sayang."


"Nanti ajari Daisha, ya."


"Oke!" seruku sambil membulatkan jari.


Tidak kutemukan ibu-ibu tadi yang merumpi di kantin di waktu koridor, mungkin anak-anak mereka berada di lantai dua.


Namun, bagaimana bisa mereka tahu Daisha juga anaknya berada di lantai dua kelasnya? Entahlah, memang sangat luar biasa gosip menyebarnya.


Kubiarkan Daisha bercerita panjang kali lebar pada Papinya di bangku depan, aku memilih diam dan memegangi perut sebab merasa ada yang aneh.


"Mami, kenapa?" tanya Daisha yang ternyata mengetahui hal itu.


Kulihat ke arahnya dan ternyata Pak Raditya juga menatap ke arahku dari kaca spion, "Mm ... gak papa, kok, Sayang," jawabku seadanya.


"Perut Mami sakit, ya?"


"Dikit, kok." Kulepaskan tangan yang memegangi perut karena takut mereka akan cemas.


"Kau kenapa? Apa karena makan nasi goreng di kantin tadi?"


"Gak papa, Pak," jawabku yang masih belum tahu apa sebab perutku sakit.


"Kita ke rumah sakit, ya, Mi."


"Gak usah, Sayang. Pulang aja," jawabku menolak ajakan Daisha dengan tersenyum.


"Mami gak papa, kok," sambungku meyakinkan Daisha yang terlihat panik dengan keadaanku.

__ADS_1


__ADS_2