(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Makan Bersama


__ADS_3

Setelah menceritakan sedikit tentang bagaimana kehidupan Pak Raditya juga aku selama tidak ada di sisi masing-masing.


Kami pergi ke kantin karena pesananku tadi sudah datang, aku dan Dara juga Daisha tentunya berjalan lebih dulu sedangkan Pak Raditya di belakang.


Sesampainya di kantin, ia memesankan minum dan makanan lagi karena aku hanya memesan dua makanan.


Kubuka box nasinya dan memberikan pada Daisha juga Dara, mereka sudah lumayan bisa berteman karena kuberi penjelasan walaupun gak tau, sih, mereka paham atau tidak.


Tak lama setelah mereka makan, Pak Raditya datang membawa dua piring nasi. Ia menatap sejenak.


"Kenapa Pak?" tanyaku yang melihat ia bingung.


"Saya ... duduk di samping kau, ya, Azal," katanya.


Lah? Ternyata bingung sebab itu, toh. Ya, emang kursi di depanku dipakai oleh mereka berdua, tinggallah satu lagi kosong di sampingku.


Aku langsung bergeser sedikit menjauh memberi izin Pak Raditya untuk duduk di sampingku, "Lah, ada ayam geprek?" tanyaku yang kaget melihat apa yang dibawa olehnya.


"Haha, iya, aneh aja ada menu seperti ini di rumah sakit."


"Tapi, ya ... kan yang sakit pastinya gak makan ini dan gak mungkin orang yang ke kantin malah makan bubur."


"Iya juga, sih."


Kami akhirnya makan siang ini, "Mas," panggil seseorang membuat aku menatap ke arah sumber suara.


Wanita yang kutemui di mall ternyata ada di sini, "Aku cariin Mas ke mana-mana, taunya malah di sini," gerutunya mencebik bibir dan bersedekap dada.


"Kan, udah Mas kirim pesan kalo Mas di kantin. Emang kamu gak baca?" jawab Pak Raditya menghentikan aktivitas makannya.


Digelengkan kepalanya lemah dan mengalihkan pandangan ke arahku, "Siapa Mas?" tanyanya menunjuk ke arahku.


"Oh, ini mantan pengasuh Daisha dulu," terang Pak Raditya menatap ke arahku.


Aku mengangguk dan tersenyum mencoba ramah ke arahnya, "Ha? Gayanya kayak gini malah jadi pengasuh?" pikir wanita ini yang mungkin tak percaya.


"Iya, Mbak. Saya mantan bukan pengasuh biasa Daisha," terangku meyakinkan bahwa ia tidak salah dengar.


"Sekarang? Masih jadi pengasuh?"


"Enggak, alhamdulillah saya udah punya butik. Oh, iya, kapan-kapan mampir ke butik saya," anjurku membuka tas dan mengambil kartu nama yang bertuliskan nama toko juga alamat lengkap serta nomor telepon toko-ku.

__ADS_1


"Wah ... hebat juga, ya," pujinya sembari membaca kartu nama yang kuberikan tadi.


"Alhamdulillah," jawabku seadanya.


"Yaudah, Mas mau tetap di sini atau pulang bareng aku?"


"Mas di sini aja deh, kamu bisa pulang sendiri, 'kan?"


"Oke kalau gitu, have funn, ya!" ujarnya melambaikan tangan ke arah kami dan pergi dari kantin.


Aku menatap punggungnya hingga menghilang dari kantin, kugelengkan kepala pelan dan kembali menatap makanan.


"Kenapa?" celetuk Pak Raditya.


"Ha? Apanya?" tanyaku menatap ke arahnya.


"Kenapa kau geleng-geleng melihatnya Azal?"


"Oh ... gak papa, kok, Pak."


"Ya ... emang dia begitu anaknya, sedikit gak sopan santun. Wajar, sedari kecil tinggal cuma sama pembantu.


Keluarganya masih ada, cuma sibuk dengan urusan mereka masing-masing gak pernah ada waktu untuk bercerita atau bertanya gimana harinya.


Kuanggukkan kepala dan menatap kembali ke arah makanan, "Bapak banyak tau tentang dia, ya," sindirku dan tersenyum paksa.


"Ya ... namanya saya sepupunya," jawab Pak Raditya.


"Oh, iya, saya lupa," jawabku dengan cengengesan.


Tak lama, hanya ada keheningan. Aku memilih menatap ke arah depan di mana ada Daisha dan Dara.


"Kau cemburu, ya?" bisik Pak Raditya tepat di samping telingaku membuat aku menatap ke arahnya dengan tajam.


"Dih, geer banget Bapak!" geramku.


Bunyi handphone membuat aku menghentikan kembali aktifitas makan, untung saja makan-ku sudah habis.


Kuambil tisue dan mengangkat panggilan dari Bang Dikta, "Iya, Bang?" tanyaku ketika panggilan telah terhubung.


"Kalian lagi di mana?" tanya Abang yang aku belum tahu dia ada di mana.

__ADS_1


"Kami lagi di kantin."


"Kamelia udah keluar dari ruangannya jadi kembali ke ruangan tadi, anaknya juga sehat jenis kelamin laki-laki. Kau segera bawa Dara ke sini, ya, jika sudah selesai makan," ungkap Bang Dikta memberi tahu kebahagian.


Mataku membulat dan senyuman langsung terukir di wajahku, "Siap, Bang! Oke-oke, kami akan langsung ke sana!" putusku dan menutup panggilan.


"Dara dan Daisha, udah siap makannya?" tanyaku bersama dengan mereka berdua.


Anggukan diberikan pada mereka sebagai jawaban, "Yuk, kita liat dede bayi!" ajakku dengan semangat.


"Mama udah lahiran, ya, Tante?" Kuanggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Dara, ia berteriak bahagia dengan beberapa kali meloncat.


"Kenapa?" tanya Pak Raditya yang baru saja kembali setelah membayar makanan tadi.


"Kak Kamelia udah selesai lahirannya, kita disuruh buat kembali ke sana. Bapak mau ikut?" tanyaku memakai kembali tas dan berdiri.


Ia menatap ke arah Daisha untuk meminta jawaban, Daisha dengan wajah murung mengangguk.


"Daisha pengen liat adek bayi?" tanyaku tersenyum ke arahnya.


"Pengen Mami," jawabnya dengan pintar. Kuelus pipinya meskipun tidak lagi se-chubby dulu.


Kami akhirnya berjalan ke arah kamar rawat Kak Kamelia dengan kedua tanganku memegang tangan mereka.


Begitu sampai di depan kamar, Dara langsung melepaskan tangannya dan berlari masuk ke dalam kamar.


"Assalamualaikum," salamku dan di susul oleh Pak Raditya yang mengucapkan salam juga.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak dan menatap ke arah kami dengan bengong.


Bukan karena aku pastinnya mereka bengong seperti itu, tapi sebab aku datang bersama dengan Pak Raditya juga Daisha.


Abang yang tengah menggendong baby berjalan ke arah kami, "Ra-raditya?" tanya Abang dengan terbat-bata.


Pak Raditya tersenyum dan memeluk Abang, "Selamat, ya, Bro! Udah jadi Bapak aja, semangat terus jadi Bapaknya. Jangan lupa lebih banyak, 'kan waktu untuk keluarga dibanding kerjaan apalagi teman dan hobi," terang Pak Raditya menepuk-nepuk bahu Abang.


Sedangkan aku juga Daisha berjalan mendekat ke arah Mama, Daisha langsung menyalam tangan Daisha.


Bahkan, Mama berjongkok memeluk Daisha dengan erat bahkan suara isakan Mama juga terdengar.


"Nenek kira terjadi sesuatu pada Daisha, Nenek rindu sama Daisha. Nenek berhutang nyawa pada Daisha, kalau Daisha gak ada waktu itu belum tentu anak Nenek masih ada sampai sekarang," ucap Mama yang membuat aku juga ikutan meneteskan air mata tapi secepat mungkin kuhapus agar tidak kelihatan.

__ADS_1


"Nenek, Daisha gak kenapa-kenapa, kok. Daisha masih sehat sampai sekarang, kata Mami kita gak perlu takut jika ingin melakukan kebaikan.


Jadi, waktu Daisha melindungi Mami itu karena Daisha gak pernah takut bahkan jika harus meninggal sekalipun," terang Daisha yang membuat aku merasa seolah ada duri tertusuk di dalam hatiku.


__ADS_2