(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Keluar Dari Cerita


__ADS_3

"Gimana tadi sekolahnya, Sayang?" tanyaku saat kami berkumpul makan malam.


"Seru, Mi!" jawab Daisha yang sekarang sudah mau makan sendiri.


"Mami?"


"Mmm ... banyak tugas yang harus Mami selesaikan, sih."


"Ohh ... yaudah, Daisha nanti latihannya sama Papi aja. Soalnya tadi juga udah janji mau latihan sama Papi."


"Tapi, besok Mami akan datang, kok."


"Okey, Mi."


Selesai makan malam, aku masuk ke kamar berniat mengambil skripsi, laptop dan buku tidak lupa dengan pena.


Berniat ingin melihat Daisha latihan yang biasanya kalau latihan pasti di ruang tamu, "Lah, kok gak ada?" tanyaku saat melihat ruangan kosong.


"Jangan ganggu aku!" Suara Daisha terdengar dari kamar Pak Raditya, aku meletakkan peralatan yang kubawa dari kamar tadi ke meja.


Berjalan menuju kamar Pak Raditya untuk menanyakan kenapa malah latihan di dalam kamar?


Tok! tok! tok!


Tidak lama, Daisha membuka pintunya, "Ada apa, Mami?" tanya Daisha membuat aku menunduk.


"Kok latihannya di dalam kamar, sih? Kan, Mami gak bisa ngajari Daisha juga. Papi mana?" tanyaku sambil mengintip ke dalam kamar.


"Eh, Papi ada di dalam Mami. Kata Papi, biar Mami fokus belajar," timpal Daisha malah semakin menutup pintu membuat aku kesulitan melihat ada apa sebenarnya di dalam.


"Gak papa, di luar aja Mami gak keganggu, kok."


"Udah, Mi. Gak usah, Daisha mau lanjut latihan, ya. Daaa!"


Daisha menutup pintu begitu saja padahal masih ada aku di depan pintu, meskipun masih sedikit curiga dengan apa yang mereka lakukan sebenarnya.


Akan tetapi, sudahlah tidak apa. Aku yakin Daisha anak yang pintar, tidak mungkin dia mau diberi dialog yang asal-asalan oleh Papinya.


Kuhela napas dan menjatuhkan bobot tubuh ke kursi, melemaskan jari-jari kembali memulai belajar lebih tepatnya me-revisi skripsi.


"Aku tidak jatuh cinta padamu wahai Putri."


"Tapi, aku cinta padamu Pangeran."

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita menikah saja pangeran."


"Aku tidak mau Putri."


Tanganku berhenti seketika dengan alis yang tertaut, "Sejak kapan di cerita anak-anak ada nikah-nikahan segala? Apaan, sih, Pak Raditya! Gak jelas banget ngajarin Daisha!" gerutuku saat mendengar mereka saling berbicara tentang hal yang aneh.


"Awas aja kalo nanti pas di pentas Daisha di ketawain karena salah dialog, aku akan marahin Pak Raditya karena ini semua salah dia!" tegasku kembali menulis dan mencoba abai dengan dialog-dialog yang keluar dari mulut anak dan ayah itu.


Kulirik ke arah seseorang yang tengah lewat di depanku, Pak Raditya sudah menggendong Daisha masuk ke kamar yang sedang tertidur.


Kulirik ke arah jam di laptop, ternyata sudah hampir jam sebelah malam. Mataku tiba-tiba langsung mengantuk dan beberapa kali menguap begitu tahu jam saat ini.


"Besoklah sambung lagi, ini udah larut," tegur Pak Raditya padaku.


"Iya, Pak. Sebentar lagi," jawabku tanpa menoleh.


Kulihat ke arah depan, ternyata Pak Raditya malah duduk menemani aku, "Bapak ngapain?"


"Ya, mana tau kau nanti ketiduran juga seperti Daisha. Jadi, saya bisa bangunin kau agar pindah ke dalam kamar."


"Lah, Daisha, 'kan tadi di gendong. Bukan di bangunin," ucapku yang polos."


"Jadi, kau ingin di gendong juga? Bahkan, berat tubuhku kalah oleh tubuhmu itu," ucap Pak Raditya membuat mata yang sudah hampir tertutup sebab ngantuk langsung terbuka lebar.


Pak Raditya hanya tertawa sedangkan aku kembali menulis dengan mulut yang panjang seperti bebek saja.


"Bapak ajarin apa sih Daisha tadi? Kenapa ada dialog diajak nikah segala?" tanyaku yang baru ingat dengan apa di dengar tadi.


"Emang ada di bukunya begitu," jawab Pak Raditya santai sambil melihat benda pipih.


"Ha? Ada kalimat begitu di cerita anak-anak?" kataku kaget dan menatap ke arah Pak Raditya.


Ia menghentikan aktifitas-nya mengetik dan menatap ke arahku, "Iya," jawabnya sambil mengangguk.


Kugelengkan kepala merasa aneh dengan apa yang ia katakan, padahal sudah beberapa kali ceritanya kubaca.


Sama sekali tidak ada hal semacam itu, tapi tiba-tiba saja ada malam ini begitu Pak Raditya yang mengajari Daisha.


Di pukul dua belas kurang malam ini, aku memutuskan untuk menghentikan. Sebenarnya hanya tinggal sedikit lagi.


Bahkan, bisa saja kuselesaikan sambil begadang. Tapi, besok pagi akan ada pentas di sekolah Daisha dan aku juga ikut ke sana.


Tidak mungkin aku datang ke sana dengan mata yang sayu meskipun bisa dipakai make-up, sih. Tetap saja akan beda rasanya nanti.

__ADS_1


Kulihat ke arah depan, Pak Raditya ternyata masih bangun dan melihat ke arahku dengan tersenyum tipis.


"Dih, Bapak ngapain liatin saya begitu, dah? Ngeri saya liatnya," cetusku padanya dan menyusun benda-benda milikku.


Seketika Pak Raditya langsung tersadar dan mendatarkan wajahnya, "Siapa juga yang liatin kau Azal?" elaknya.


"Yaudah, makasih udah temani saya, ya, Pak. Saya udah ngantuk banget, mau tidur," pamitku lebih dulu dan pergi meninggalkan Pak Raditya di sofa.


***


Kicauan burung saling sahut-sahutan, serta kokokan ayam memenuhi indra pendengar. Tubuh ini seketika meminta untuk bangkit dari ranjang yang begitu nyaman.


Kubuka jendela dan menghirup udara segar pagi ini, alhamdulillah masih saja diberi kesempatan untuk hidup hari ini.


Udara yang masih lumayan dingin juga menghiasi pagi ini, aku langsung menjauh dari jendela dan masuk ke kamar mandi.


Tidak mau terlalu lama-lama menikmati ciptaan-Nya, karena takut jika sampai telat nantinya dan tidak sempat untuk berdandan.


"Mami? Mami? Mami!" pekik Daisha dengan suara yang ingin menangis.


Entah sejak kapan kebiasaan itu, tapi setiap kali ia tidak melihat aku berada di sampingnya. Maka, ia akan menangis untuk mencariku.


"Sayang, Mami di dalam kamar mandi!" pekikku yang ada di dalam kamar mandi.


Ceklek!


Kubuka pintu kamar mandi, aku sudah berpakaian dan hanya tinggal merapikannya sedikit saja serta menambahkan kerudung juga make-up.


"Wih ... baju Mami bagus banget," puji Daisha dengan suara khas orang baru bangun.


"Terima kasih, sudah sana mandi dulu," suruhku sambil tersenyum padanya.


"Okey, Mi!" Ia turun dari pinggir ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual mandi.


"Sayang ... jangan lama-lama di dalam kamar mandi," peringatku saat sepuluh menit Daisha tidak juga kunjung keluar.


Hening, tidak ada suara air maupun jawaban. Kutempelkan telinga ke pintu kamar mandi untuk memperjelas.


"Daisha, Sayang. Kamu di dalam, 'kan? Kok Mami gak denger ada suara air, ya?" tanyaku kembali dengan sedikit panik.


"Sayang?"


"Daisha, Nak!" panggilku kembali tapi lagi-lagi tidak ada sahutan. Dengan diri yang sudah panik, aku langsung membuka pintu kamar mandi untuk melihat Daisha.

__ADS_1


"Daisha?!" pekikku kaget melihat Daisha yang ada di kamar mandi.


__ADS_2