(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Iri Pada Anak Sendiri


__ADS_3

Saat aku juga Daisha berjalan masuk ke kamar mandi dengan handuk yang sudah dibawa serta baju ganti ke dalam kamar mandi.


Alisku tertaut hendak menutup pintu, "Ngapain Mas?" tanyaku melihat ia membawa handuk juga.


"Ikut mandilah," jawabnya dengan santai.


"Ya, nantilah! Ngapain mau bareng-bareng segala?"


"Biar cepat mandinya."


"Apaan? Gak ada! Nanti sana dulu! Bisa aja modus nih orang," gerutuku menutup pintu membuat Daisha tertawa.


"Yah ... Sayang, 'kan tadi ngajak mandi bareng, aku gak ikut nih? Bukan mandi bareng namanya kalo cuma berdua mah, aku harus ikut baru namanya bareng!" pekik Mas Raditya yang mungkin ada di depan pintu kamar mandi.


"Berisik!" ketusku dan langsung memulai ritual mandi.


Sekitar 20 menit, kami berdua keluar dari kamar. Daisha belum menggunakan baju ganti, aku langsung melenggang menganggap Mas Raditya tidak ada.


Membuka lemari mencari baju ganti untuk Daisha sedangkan Daisha duduk di pinggir ranjang, "Kamu ngambil istri aku, ya? Kamu ngambil istri aku, tau!"


"Ish, itu Mami aku. Gak papa, dong."


"Tapi, dia jadinya lebih sayang sama kamu. Apa-apa kamu, 'kan seharusnya dia sayangnya sama aku."


"Gak papa, dong. Yang sayangi Papi biar kucing aja."


"Mana boleh gitu, kamu cari orang lain aja yang sayangi kamu. Dia itu istri aku."


"Dia Mami aku tersayang!"


Kubalikkan badan sambil membawa baju Daisha juga minyak kayu putih, padahal ia sudah kelas 3 SD.


Bukankah sudah tak perlu pakai beginian? Tapi, aku suka wangi minyak kayu putih seperti ini di tubuhnya.


"Mas ... sana mandi," suruhku tapi pandangan menatap ke arah Daisha membantu ia mengeringkan pakaian.


"Sayang ... ganti baju ke kamar mandi, ya," ujarku dan diangguki oleh Daisha.


Ia membawa pakaian tadi segera masuk ke dalam kamar mandi, "Awas kalau Papi ambil Mami Daisha! Daisha lapor sama nenek, kakek, om dan tante nanti!" terang Daisha mengancam Mas Raditya lalu menutup pintu kamar mandi dengan sedikit keras.

__ADS_1


Aku tersenyum dan menggelengkan kepala melihat perdebatan kedua orang ini, entah sejak kapan kedua kubu ini tidak akur.


Mas Raditya diam dengan handuk yang tetap ada di bahunya, ia bergeser duduk menjauh dariku.


"Mas, kamu kenapa?" tanyaku menatap ke arahnya sedangkan ia langsung membuang pandangan.


"Mas? Kamu kenapa, sih?" Aku berpindah tempat agar ia mau menatap ke arahku.


"Mas, ish! Kenapa, sih?" sambungku kembali yang sudah mulai kesal.


"Kamu lebih sayang sama Daisha daripada aku, sebenarnya suami kamu itu siapa sih? Dia kamu siapin segalanya, aku? Apa-apa harus sendiri.


Aku juga mau disiapin sama kamu, disuapin makan juga aku mau. Masih satu aja kamu udah gak peduli sama aku.


Gimana nanti kalo ada adiknya Daisha? Mungkin, aku cuma pajangan di mata kamu deh. Kalo kayak gini, mending gak usah aja punya adik Daisha.


Kamu nikah sama Daisha aja sana, gak usah sama aku. Apa-apa dia, mungkin kalau disuruh milih aku atau Daisha yang kamu tolongin pas kami mau tenggelam di sungai.


Kamu pasti pilih Daisha, iya, 'kan?" tanya Mas Raditya menatap ke arahku yang berjongkok di hadapannya.


"Ya, iyalah Mas. Kamu, 'kan tau berena--"


Mas Raditya bangkit dari duduknya dan membelakangi aku berdiri di depan jendela. Aku ingin tertawa melihat tingkahnya tapi takut nanti malah semakin parah ngambeknya.


Bangkit dan berjalan mendekat, kupeluk Mas Raditya dari belakang, "Mas ... rasa sayang aku ke kamu dan Daisha tentu aja beda. Aku sayang ke kamu sebagai suamiku sedangkan dia anakku.


Lagian, ya, kalau kamu, 'kan aku belum taj style yang kamu suka kayak apa. Sedangkan Daisha pakai baju mana aja dia mau.


Aku gak mau aja, aku pilih baju yang mana eh baju yang mana pulak kamu pakai. Sakit ati aku kalo liat begitu.


Maaf juga kalo aku terlihat malah lebih care sama Daisha, ya, aku rasa biasa aja sih. Aku juga care sama kamu, kok, Mas," paparku merayu dirinya.


Ia masih diam saja tanpa merespons diriku, kulepas pelukan dan berpindah tempat menjadi di depannya.


Kutangkup wajahnya agar melihat ke arahku, "Dengar, Mas! Kamu kalau mau cemburu itu sama orang lain aja, jangan malah sama anak sendiri, oke?


Aneh banget tau, hahahaha." Akhirnya aku tertawa sebab tak mampu lagi menahannya, melihat wajah nganbeknya saja membuat aku ingin ngakak brutal.


Tanpa aba-aba, ia malah mencium diriku begitu saja. Aku yang tak siap atas perlakuannya kaget dan sempat menolak.

__ADS_1


Suara pintu terbuka membuatku segera mendorong dirinya agar menjauh dari tubuhku, "Mami, ngapain di dekat jendela?" tanya Daisha keluar dari kamar mandi mendekat ke arahku.


"Papi apain Mami aku?" tanyanya sengit menatap Mas Raditya.


"Kasih hukuman. Wle!" ejeknya sambil menjulurkan lidah ke hadapan Daisha.


Daisha mendengus kesal sedangkan Mas Raditya langsung masuk ke kamar mandi agar tidak mendapatkan amukan dari Daisha.


"Mami gak papa, 'kan?" tanyanya menatap ke arahku dengan mendongak.


"Gak papa, kok, Sayang. Yuk, kita ke luar!" ajakku mengalihkan perhatian agar Daisha tak bertanya lagi.


Juga agar mengalihkan perhatian degub jantungku yang berdebar dengan cepat ini akibat ulah Mas Raditya.


"Siapkan baju aku Sayang, atau aku kasih hukuman yang lebih dari itu!" pekiknya saat aku sudah memegang gagang pintu.


Niatku ingin keluar jadi terhenti akibat teriakannya itu, "Siapin aja sendiri, Mami Daisha mau pergi sama Daisha!" jawab Daisha yang malah ikut teriak juga seolah mereka berdua sedang tinggal di hutan.


"Ayo, Mi!" ajak Daisha saat melihat aku mematung.


"Tunggu bentar, ya, Sayang. Mami siapkan bajunya dulu," ucapku mengaku mengalah. Ingat, aku mengalah bukan berarti kalah sama laki-laki menyebalkan itu.


Ya ... serem juga kalau dia melakukan sesuatu melebihi tadi, bukan apa-apa di kamar ada Daisha juga soalnya. Eh!


Bukan berarti kalo gak ada dia aku mau, sih. Tapi, ya, intinya seperti itu deh. Aku langsung membuka lemari dan mengambilkan baju serta pakaian lainnya.


Daisha menopang dagunya dengan wajah kesal, sambil melihat ke arahku yang mengambilkan pakaiannya.


"Yaudah, yuk, sayang!" ajakku pada Daisha.


"Bilangin ke nenek Mi, Papi ngancem Mami! Enak banget nyuruh-nyuruh Mami kayak gitu, nyebelin!" ketus Diasha mendengus sebal melihat Papinya.


Jangankan dia, aku saja sangat sebal terhadap laki-laki itu. Tapi, bagaimana pun mana bisa sebal sama suami sendiri.


"Sayang, itu semua emang tugas seorang istri. Mami, 'kan istri Papi dan Mami kamu. Jadi, tugas Mami itu bukan cuma ngurus Daisha tapi juga ngurus Papi," ujarku memberi tahu.


"Tapi, Papi sok manja! Padahal bisa sendiri juga, udah besar pun! Dasar Papi itu iri dan cemburu sepertinya sama Daisha," tebaknya yang ingin sekali kukatakan bahwa hal itu benar.


Tapi, lebih baik gak usah. Makin memanas ntar yang ada kedua kubu ini, lebih baik aku diam dan memberi pengertian pada yang lebih dewasa. Pada Daisha contohnya.

__ADS_1


__ADS_2