(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Dituduh


__ADS_3

Selesai mandi, aku keluar dari kamar dan melihat sudah ada Daisha di depan kamar ini, "Kamu ngapain di sini?" tanyaku dengan sedikit membungkuk.


"Daisha mau diikat rambutnya sama Mami," pinta Daisha menyerahkan sikat rambut yang dari tadi ia sembunyikan di balik punggungnya.


'Hadeuh ... gue gak tau cara ikat rambut anak orang lagi,' batinku merutuki diri sendiri.


"Mmm ... kucir dua aja, ya?"


"Oke Mami!" seru Daisha sambil mengangguk.


Kupegang tangan mungil itu dan membawanya ke sofa, kukucir dua rambutnya, "Kita sambung makan, yuk!" ajakku dan diangguki oleh Daisha.


Hari sudah hampir sore, jarum jam menunjuk ke angka empat. Selesai suapan terakhir, kutepuk tangan diikuti oleh Daisha.


Suara dering dari handphone membuat aku berhenti melakukan aktivitas tadi, kududukkan Daisha ke bangku sebelahnya.


"Ada apa Ma?" tanyaku saat melihat nomor Mama yang tertera.


"Pulang sekarang juga!" tekan Mama dan langsung mematikan panggilan secara sepihak.


Aku terdiam setelah mendengar perintah itu, sepertinya ada hal yang serius sampai membuat Mama menggunakan kalimat seperti tadi.


Suara langkah kaki seseorang membuat aku tersadar dari lamunan, kudongakkan kepala menatap ke arah laki-laki menyebalkan tersebut.


"Pak, saya kayaknya ada urusan, deh," ucapku yang memang harus segera pulang.


"Mami mau ke mana? Daisha ikut, ya," pinta Daisha membuat aku mengalihkan pandangan.


"Maaf, Sayang. Gak bisa, Mami ada urusan. Besok aja baru Mami ke sini lagi, ya," kataku menenangkan dirinya sambil membelai rambut.


"Bik!"


"Iya, Pak. Ada apa?"


"Bawa Daisha ke kamar dulu."


"Tapi Pi ...."


"Kamu sama Bibik dulu, Papi mau ngobrol sama wanita ini sebentar."


Daisha menatap ke arahku, kuanggukkan kepala dengan tersenyum menyuruh dia agar mengikuti perintah Papinya.


"Daa ... Mi, besok kita ketemu lagi, ya."

__ADS_1


"Siip!" tegasku mengacungkan jempol.


Tak lama Daisha pergi dari ruangan makan, laki-laki menyebalkan itu meletakkan kembali selembar surat yang tadi siang juga ia berikan padaku.


"Kau bisa kembali besok dengan membawa surat ini dan menandatanganinya, tapi kalau kau tak mau bekerja. Tak perlu datang kembali dan bertemu Daisha!" tegas laki-laki tersebut dengan suara dingin. Ia bahkan tak duduk sama sekali.


Bingung pun menyerang pikiranku, tak tahu apakah bisa menyetujui semua syarat yang tak masuk akal ini.


Ia berbalik arah berniat meninggalkanku, "Kau boleh pergi sekarang, siapa namamu?" tanyanya dengan badan yang tetap membelakangiku tetapi kepala sedikit ke belakang.


"Azaleana."


"Ck! Pantasan kau sedikit aneh, namaku Azal ternyata." Dia pergi begitu saja meninggalkan aku, mataku membulat mendengar ucapannya.


"Azaleana, kenapa malah Azal? Dasar tuh cowok!" geramku menyambar kertas dengan kasar.


Kulihat jam yang ada di dinding rumah ini, tanpa sadar jarumnya sudah berubah ke angka lima. Aku langsung berlari ke luar rumah dengan cepat.


"Mbak, mau saya antar?" tanya supir yang berdiri di dekat mobil.


"Gak Pak, makasih!" potongku dengan napas yang memburu.


Kakiku berlari ke luar kompleks, kulihat di dekat kompleks ada pangkalan ojek. Daripada harus memesan online dan belum tentu cepat sampai, lebih baik yang di pangkalan saja.


"Pak, ke jalan Anggrek, ya," kataku dengan ngos-ngosan.


Naik ke motor dengan menggunakan helm, degub jantung semakin kencang. Ini kali pertama Mama menggunakan nada yang berbeda.


Meskipun biasanya Mama akan menyuruhku untuk pulang setelah ngambek-ngambekan, tapi tak pernah dengan nada seperti tadi.


"Nih, Pak. Makasih, ya," ucapku menyerahkan uang yang ternyata masih ada di salah satu saku lainnya.


Berlari tanpa menghiraukan panggilan tukang gojek yang berucap bahwa ada kembaliannya, kulihat mobil Papa sudah terparkir di depan halaman.


"Assalamualaikum," salamku dengan sedikit pelan membuka pintu. Tubuhku perlahan masuk ke dalam ruangan keluarga.


Kututup kembali pintu dan melirik sudah ada Papa, Mama dan Abang dengan wajah yang tak biasa.


"Duduk!" titah Papa dengan nada satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. Hampir saja bulir bening lolos akibat ulah Papa, aku tak pernah sebelumnya dibentak oleh cinta pertamaku ini.


Namun, kali ini. Dia membentakku, apa yang kulakukan memangnya? Aku tak melakukan apa pun seingatku.


"Kau bisa gak, sih, jangan jadi benalu dalam rumah ini?" tanya Abang padaku membuat aku mendongak bingung.

__ADS_1


"Maksudnya apa, ya, Bang?" tanyaku sedikit ngegas karena merasa ucapannya sungguh keterlaluan.


"Kau masih berani dengan cara bicaramu itu?!" bentak Papa yang membuat mataku sedikit tertutup karena ketakutan.


"Pa ... Azaleana gak tau salah Azaleana di mana, kenapa kalian langsung introgasi begini? Kasih tau, dong, salah aku di mana!"


"Kau ikut campur apa lagi dalam hidup Abangmu?" timpal Mama kali ini buka suara.


"Azaleana gak tau ini maksudnya apa, Azaleana baru pulang dan udah di tuduh begini? Azaleana gak paham ini alurnya ke mana!"


"Ck! Mama dan Papa urus deh anak kesayangan kalian itu, aku udah muak tinggal dan kerja sama Papa. Lebih baik aku keluar aja dari rumah ini!" potong Abang bangkit dari duduknya.


Air mataku sudah menetes akibat ketidak tahuan diri ini, apa salahku? Aku sama sekali tak tahu apa pun yang terjadi.


"Pardikta!"


"Dikta!"


Papa memanggil laki-laki itu dan bangkit menyusulnya, Mama tampak kecewa bahkan enggan menatap ke arahku.


Suara isakan bahkan tak dipedulikan mereka lagi, dengan keberanian meskipun hanya sisa sedikit. Aku bangkit dan mendekat ke arah Mama.


"Ma ... ada apa sih sebenarnya?"


"Apakah kau mengganggu pacar Abangmu lagi?"


"Siapa pacar Abang? Azaleana gak tau siapa pacar baru Bang Dikta, kok."


"Angel. Dia balikan kembali sama Angel."


Kugelengkan kepala dengan air mata lagi-lagi terus menetes, "Kalau dia pergi, otomatis gak akan ada yang membantui Papa mengelola toko. Gak tau apa yang akan terjadi pada toko jika dia gak ada, Mama juga gaji PNS gak begitu besar. Gak akan cukup untuk membiayai kamu kuliah," keluh Mama menyandarkan punggungnya sambil memijit keningnya pelan.


"Mama percaya dengan Angel?" tanyaku hati-hati dan menguatkan diri jika apa yang kudengar nanti tak sama dengan apa yang kepikirkan.


Mama menatap ke arahku dengan wajah lesu, "Terus, siapa lagi? Kan, emang kamu yang jahil di rumah ini. Tapi, memang kamu udah keterlaluan. Abang juga udah bilang buat jangan urusin hidupnya, kamu malah terus urusin hidup dia. Wajar kalo dia marah kayak gini, sih."


Kugelengkan kepala tak percaya dengan apa yang akan Mama katakan, aku sedikit menjauh dari Mama.


"Gak Ma, bukan Azaleana kali ini. Azaleana juga gak tau apa-apa soal mereka balikan!" tegasku bangkit dari bangku berlari ke kamar.


Kututup kamar dengan kasar, aku menangis di atas ranjang sambil menangkup wajah. Selembar kertas yang kuletakkan di dalam kantong celana terjatuh.


Kubuka lembaran itu dengan air mata yang membasahi kertas putih tersebut, salah satu syarat di situ adalah. Aku harus tinggal dengan mereka.

__ADS_1


Kuhapus air mata dengan cepat, menarik napas dan mengeluarkannya. Mencoba menenangkan diri yang masih sesenggukan.


"Ya, ini pasti jawaban dari segalanya!" tegasku dengan tekat yang sudah bulat.


__ADS_2