
Seminggu sudah aku harus berada di ruangan serba putih, bau obat-obatan yang mulai terbiasa kucium serta suara alat-alat yang membantu tubuh.
Tak ada tawa, keceriaan di sini. Hanya kesedihan bahkan mataku sudah sembab akibatnya dan nafsu makanku turun drastis.
"Azal, kau sarapan dulu. Kemarin kau tidak makan," kata Pak Raditya memberikan makanan yang entah dari mana ia dapatkan.
Kugelengkan kepala lemah dengan tetap melihat seseorang yang terbaring akibat melindungiku saat itu.
"Makan, kau akan sakit nanti. Sini biar aku suapkan!" terang Pak Raditya yang memilih duduk di pinggir ranjang pasien.
"Nih, aaaa," sambungnya menyodorkan sendok ke arah mulutku.
Kulihat ke arahnya dengan tatapan sendu dan kosong, "Pak, dia akan sembuh, 'kan?"
Pak Raditya membuang napas pelan dan tersenyum dengan paksaan, "Daisha anak yang kuat, kau tak perlu khawatir soal dia. Kata dokter dia hanya kritis saja sedangkan kondisi lainnya sudah stabil," jelas Pak Raditya menenangkan.
Ya ... Daisha, dialah orang yang melindungi aku saat Clara menembak ke arahku tanpa kuketahui. Dengan keberanian, Daisha melakukan itu untukku.
Tubuh yang lunglai dan langsung keluar cairan kental berwarna merah dari tubuhnya itu masih terbayang di pikiranku.
Suasana di dalam ruangan langsung ricuh akibat hal itu, Clara diamankan oleh anak buah Pak Raditya yang memang sudah berjaga di luar tempat itu.
Anak sekecil Daisha mengorbankan nyawanya untukku, bagaimana mungkin aku dapat memaafkan diri sendiri?
Sebab aku, ia sekarang harus berjuang demi kelangsungan hidupnya bahkan sudah seminggu lamanya dirinya terus berjuang melawan itu.
"Sekarang, kau makan, ya. Dia juga akan sedih jika melihat kau sedih kayak begini berlarut-larut."
Kembali Pak Raditya menyodorkan makanan ke dalam mulutku, aku sedikit membukanya dan mengunyah makanan yang ia berikan.
"Sudah Pak," kataku setelah tiga suap makanan masuk ke dalam tubuh.
"Kau mau ke kampus?"
"Gak ada kelas hari ini Pak, saya di sini aja deh."
"Ohh ... yaudah."
"Gimana sama Mama Daisha?"
"Dia udah di urus dengan baik oleh pihak polisi."
"Saya mau ketemu sama dia Pak," ucapku menatap ke arah Pak Raditya dengan wajah datar.
__ADS_1
Ia mengangguk dan bangkit dari tempat duduk, merapikan makanan tadi berjalan lebih dulu keluar ruangan.
"Sayang ... Mami keluar sebentar, ya, kamu baik-baik di sini, ya," pamitku meskipun tidak ada jawaban sama sekali.
Keluar dari ruangan dan bertemu ke suster terlebih dahulu agar mereka bisa menjaga dan melihat Daisha selama aku pergi.
Dunia seolah menjadi hampa dan sangat berbeda, terlebih saat akulah yang menangkap tubuh mungil itu.
Tubuh yang lunglai dan darah yang memenuhi bajuku, masih saja teringat kejadian meskipun sudah satu minggu berlalu.
Mamaku dan Mama Pak Raditya setiap hari memang datang ke sini, mereka baru saja pulang kemarin karena ada urusan katanya dan akan kembali lagi ke sini.
"Sudahlah Azal, kau tidak perlu cemas seperti itu tentang Daisha," tegur Pak Raditya yang melihat aku masih dengan tatapan kosong.
"Saya gak bisa gak cemas Pak, karena ini semua salah saya. Kalau saya gak ada saat kejadian pasti Daisha akan masih baik-baik aja sampai sekarang."
"Takdir. Ini semua takdir Azal, apa pun yang terjadi di dunia ini sebab takdir. Termasuk Daisha yang sekarang sedang koma juga karena takdirnya. Beruntung dia sudah tidak kritis lagi."
Aku turun duluan saat sudah sampai di kantor polisi, sampai sekarang aku belum bertemu dengan dirinya.
Ternyata, di waktu Pak Raditya membawa Daisha saat di rumah sakit itu. Mereka sempat berdebat dan lagi-lagi karena Clara ingin Daisha diasuhnya.
Tapi, Pak Raditya sangat menolak. Sedangkan beberapa hari saja ia tidak bisa menjaga Daisha apalagi jika akan tinggal selamanya dengan wanita itu.
Dari informasi yang aku dengar, besok akan dimulai sidangnya untuk penjatuhan hukuman pada wanita berhati iblis itu.
"Silahkan Buk," tutur polisi yang sudah memasukkan Clara ke dalam ruangan.
"Pak, biarkan kami berdua yang berbicara," kataku pada Pak Raditya yang berniat ingin masuk juga.
"Tapi?"
"Tenang aja, dia gak akan nyakiti saya," tegasku dan masuk ke dalam ruangan.
Polisi berdiri di luar ruangan bersama dengan Pak Raditya, mereka menjaga agar tidak terjadi hal yang tidak-tidak termasuk tidak kaburnya Clara.
Tuk! tuk! tuk!
Suara hak-ku terdengar memecahkan keheningan di ruangan ini, Clara menggunakan baju tahanan dengan menunduk.
Kujatuhkan bobot tubuhku di bangku depan dirinya, hanya ada meja yang menghalangi jarak di antara kami.
Kutopang dagu dan tersenyum menatap dirinya, "Hmmm," kataku menghembuskan napas dengan kuat sebagai kode untuknya.
__ADS_1
Ia mendongak dan menatap ke arah diriku dengan tatapan yang tidak tertampil bersalah, tentu saja mana ada iblis yang merasa bersalah melakukan sesuatu hal yang berbahaya.
"Gimana? Happy? Pasti, dong, ya. Sangat happy karena apa yang kamu mau dapat, kamu berhasil membuat seseorang di ruangan sana!
Manusia yang tidak salah harus berjuang untuk tetap hidup di dunia ini, kamu senang? Pastinya, ya! Aku yakin sih, itu.
Apa, sih? Apa lagi yang kamu mau? Padahal, Allah udah ngasih berbagai nikmatnya sama kamu.
Cantik? Udah, kaya? Apalagi, siapa yang gak tau kamu bahkan kamu juga bekerja di kampus yang gak main-main gajinya setau saya.
Ya ... kamu emang kurang bersyukur! Saya sebenarnya pengen banget buat kamu terluka apalagi dengan tangan saya sendiri ini.
Namun, saya tetap ingat bahwa kamu adalah ibu dari anak saya yang sebentar lagi akan membenci ibu kandungnya sendiri.
Kamu hebat, sudah mendapatkan rasa benci yang nantinya akan hadir di jiwa Daisha. Itu, 'kan yang kamu mau?" paparku menatap ke arahnya dengan tersenyum.
"Kau tau? Seharusnya kau benar-benar tidak pernah ada di dunia ini dan seharusnya dari awal aku udah melenyapkan dirimu dari muka bumi ini!" geramnya dengan tangan terkepal kuat.
"Eits ... kalau saya udah mati dari dulu, gimana saya menggantikan posisimu di hati Daisha dan Pak Raditya?
Bukan waktu yang mudah, lho apalagi di hati Pak Raditya. Secara, dia masih bucin banget sama kamu, tapi sayang banget ....
Kamu malah buat mereka semua membenci kamu dan sekarang semua cinta yang seharusnya mereka kasih ke kamu, berpindah ke saya deh," ejekku padanya.
"Kau ...!" geramnya semakin menjadi sebab mendengar penuturanku barusan.
"Mangkanya, di pikir dulu sebelum melakukan sesuatu berapa persen keuntungan akan berpihak padamu.
Kalau udah kayak sekarang, gimana? Ya ... saya tau pasti kamu paling lama juga setahun di dalam ini secara banyak uang, ya, 'kan.
Tapi, cinta mereka gak bisa kamu bayar dan sogok dengan uangmu itu. Siap-siap untuk tidak diakui sebagai seorang ibu.
Kalau aku di posisimu, ya, pasti akan sakit sekali, sih. Yang mengandung dan lahirin, eh pas besar aku yang dianggap sebagai ibunya.
Yaudah, deh, aku mau pulang dulu. Oh, iya, anakku masih koma. Dia kuat kayak aku, setidaknya udah gak kritis lagi.
Kau baik-baik di sini, ya. Jaga dirimu dari orang-orang yang kejam di balik jeruji itu, aku gak perlu balas dendam deh soalnya mereka pasti akan bully kamu dulu sebagai anak baru," kataku berdiri dan memakai tas selempang milikku tadi.
Brak!
"Kau jangan men-doktrin soal aku pada Daisha, bagaimana pun aku ibu kandungnya!" murka Clara memukul meja dan berdiri menatap nyalang padaku.
Pak polisi masuk ke dalam ruangan karena mendengar hal itu, "Byee ...!" pamitku dan melambaikan tangan ke arahnya dengan tersenyum.
__ADS_1