
Setelah Kak Kamelia bertanya kepada Mama dan berakhir dengan dirinya menangis sambil memeluk Bidadari-ku itu.
Kami akhirnya mulai masak agar segera bisa memberikan makan siang kepada suami masing-masing.
Tempat kerja Mas Raditya lebih dekat daripada toko milik Bang Dikta yang dulu milik Almarhum Papa.
Aku membawa mangkuk menuju ke Mama, Mama adalah juri dari masakan kami berdua. Aku memasak dua menu makanan.
Sedangkan Kak Kamelia katanya akan tiga, tak apa biar aku punya waktu untuk mandi nantinya juga bersiap-siap.
"Oke, udah pas!" ungkap Mama sembari memberikan jempol padaku. Aku tersenyum bangga dengan masakanku hari ini.
Segera mengambil tempat makan dan menatanya sebaik mungkin, tak lupa beberapa cemilan serta minuman kumasukkan ke dalam tas bekal juga.
"Kak, aku mandi dan siap-siap dulu, ya," ujarku sedangkan ia sedang sibuk menyiapkan masakan terakhir.
"Oke!"
Berjalan ke kamar dengan sedikit berlari agar segera siap-siap, pukul 11 siang kami akhirnya berangkat ke tempat kerja suami masing-masing.
"Nanti, Kakak tunggu aja aku di sekolah, ya. Aku dari tempat Mas Raditya nanti naik ojek ke sekolahan."
"Kenapa gak Kakak aja yang jemput mereka dan nanti ketemu balik di sini?" tanya Kak Kamelia melirik ke arahku kembali menatap jalanan dengan fokus.
"Gak usah Kak, aku juga mau jemput Daisha soalnya."
"Oh, yaudah deh."
Tas bekal kupangku dan kulihat dengan senyuman, mengalihkan pandangan ke arah jalanan yang sudah lumayan padat di lalui pengendara.
"Oke, makasih, ya, Kak!" ucapku turun dari mobil.
"Nanti Kakak telepon kalau mau berangkat ke sekolahan, ya."
"Oke Kak."
Mengayunkan langkah kaki masuk ke dalam perusahan Mas Raditya dengan senyuman yang mengembang.
"Selamat pagi Buk," sapa satpam membukakan pintu.
Beberapa dari mereka memang sudah tahu bahwa aku ini istri dari Mas Raditya, tapi mungkin sebagian lagi belum tahu sebab wajahku saat di nikahan agak berbeda.
Ya, namanya juga the power of make-up. Buat apa bayar make-up mahal-mahal kalau tidak ada perubahan dengan wajah aslinya, 'kan?
"Pagi, Pak. Pak Radityanya ada?" tanyaku menatapnya.
"Ada Buk, belum keluar dari tadi kok."
"Baik, makasih Pak." Ia mengangguk dan aku berjalan ke arah resepsionis untuk menanyakan keberadaan Mas Raditya.
"Mbak, mau nanya Pak Raditya-nya ada?"
"Ada ... dengan Ibu siapa?"
__ADS_1
"Oh, saya Ana. Istri Pak Raditya."
"Oh, maafkan saya Buk. Waktu diundang ke nikahan saya lagi ke luar kota soalnya."
"Iya, gak papa," kataku tersenyum ke arahnya.
"Pak Raditya-nya ada Buk, silahkan ke ruangannya aja Buk di lantai dua."
"Baik, terima kasih, ya."
"Sama-sama Buk."
Kulirik kembali penampilanku, gamis berwarna abu dan kerudung pasmina warna senada juga hels hak 3 cm.
"Aku cocok, 'kan jadi istrinya? Kok, jadi insecure, ya? Ngerasa gak cocok aku jadinya," gumamku masuk ke dalam lift.
Bangunan ini ada sekitar 10 lantai dan kebetulan Mas Raditya dapat lantai satu juga dua, harganya dulu murah kata dia.
Tak semahal sekarang mangkanya dirinya dapat lantai dekat seperti ini, tapi aku sedikit tak percaya sih.
Berjalan ke arah ruangan Mas Raditya hasil dari bertanya-tanya pada karyawan, aku sudah berdiri di depan ruangannya.
Saat tanganku ingin mengetuk pintu dengan tersenyum bahagia, seketika kuhentikan dan senyuman pun memudar.
"Kenapa bisa jadi rugi segini banyak? Siapa yang mau tanggung jawab akan hal ini? Saya hanya beberapa hari gak pantau udah rugi sebegini banyak?
Mana Erwin? Di mana dia? Seharusnya dia yang menangani hal ini? Saya juga udah lama gak liat dia!"
"Apa? Setelah dia mengambil cuti dia resign begitu aja? Sekarang, kamu cari tau kenapa bisa sebanyak ini ruginya?!
Kalau perlu selidiki Erwin juga, siapa yang acc resign dia lagian, ha? Bukannya kalau resign harus ada tanda tangan saya?"
"Kontraknya sudah habis Pak dan dia memutuskan untuk resign aja."
"Yaudah kalau gitu, sekarang kamu cari tau kenapa bisa sampai sebanyak ini ruginya dan cari tau tentang Erwin juga!"
"Baik Pak."
"Keluar!"
"Iya, Pak. Saya permisi!"
Suara teriakan juga bentakan Mas Raditya kali ini membuatku takut, baru kali ini aku mendengar dirinya berteriak.
Ceklek.
"Eh, Ibu udah lama di depan?" tanya sekretaris Mas Raditya.
"Enggak, kok. Baru aja sampai," jawabku berbohong dengan senyuman.
"Saya permisi, Buk." Aku mengangguk dan melihat wajahnya yang seperti banyak tekanan. Ya ... memang begitulah resiko bekerja.
Saat aku akan masuk kembali, Mas Raditya sedang menelpon seseorang terdengar dari suaranya.
__ADS_1
"Gue gak mau tau, lu bantuin gue cari tau semua ini!"
"...."
"Lu kayak gak tau gue aja, pokoknya gue mau ini kelar dalam 2 hari paling lama!"
"...."
"Oke! Thanks!"
Terdengar suara handphone yang diletakkan ke meja dengan kasar serta helaan napas berat Mas Raditya.
Kupingku sudah menempel di pintunya sangking ingin tahu bagaimana keadaan di dalam, saat aku merasa sudah lumayan stabil.
Kuberanikan diri, tak seharusnya aku malah takut sama suamiku sendiri jika sedang marah seperti ini.
"Nanti, kalau kamu liat aku lagi marah atau emosi. Kamu peluk aku, ya, ini cukup bisa mereda emosiku."
Perkataan Mas Raditya waktu itu membuatku akhirnya semakin berani, dia butuh aku saat ini. Di saat semuanya tak lagi baik-baik saja.
"Bismillah," gumamku menutup mata sebentar lalu membukanya kembali.
Tok! tok! tok!
"Masuk!" titah Mas Raditya.
"Assalamualaikum," salamku membuka pintu ruangannya.
Mas Raditya yang sebelumnya kulihat dengan wajah kusut, seketika tersenyum dan bangkit dari kursinya.
"Waalaikumsalam Sayang," jawabnya berjalan mendekat ke arahku.
Kututup pintu ruangan dan berjalan ke arahnya, "Kamu sama siapa ke sini?" tanya Mas Raditya.
Kutatap wajahnya persekian detik kudekap dirinya dan mengusap punggungnya, "Mas, semua akan baik-baik saja. Jangan lampiaskan emosi kamu ke orang yang gak memiliki salah, setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya.
Sabar, ya, semua akan baik-baik aja, kok. Aku yakin itu, kamu, 'kan suami hebat pasti bisa mengatasinya dengan kepala dingin."
Mas Raditya memeluk diriku erat dan mengangguk, "Makasih, Sayang."
"Sama-sama Mas."
"Udah, ih, ayo makan. Aku masak sesuatu kesukaan kamu," ucapku yang sudah letih harus berjinjit agar dirinya tak terlalu membungkuk saat memelukku.
"5 menit lagi Sayang."
"Aku pegel nih Mas," keluhku dan seketika ia melepaskan pelukan.
"Pegel kenapa?"
"Harus jinjitlah! Kamu tinggi banget, sih, lain kali aku harus pakai hels yang 10cm keknya biar gak perlu jinjit lagi."
"Hahaha." Tawa akhirnya keluar dari bibirnya itu, itulah yang ingin kudengar Mas. Jangan ada sedih dan amarah di dalam diri kita.
__ADS_1