(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Waktu Yang Tidak Tepat


__ADS_3

Aku masuk ke mall yang ada di kota ini, cukup jauh dari butik. Rencananya, aku akan membelikan Ayudia tas sebagai kado.


Saat aku yang hanya fokus ke depan dan sudah siap untuk masuk ke salah satu toko yang menjadi langgananku.


Bruk!


Seorang anak perempuan menabrak tubuhku saat sedang berlari, untung saja aku masih bisa menyeimbangkan tubuh kalau tidak bisa diliatin orang-orang karena jatuh.


"Eh, maafin saya, ya, Tante," ujarnya merasa bersalah.


"Gak papa, kok," kataku sembari merapikan kembali penampilan sedangkan anak tadi hanya menunduk mungkin ketakutan.


"Sayang!" panggil seseorang yang sepertinya mengarah ke anak kecil ini.


"Sayang, kamu kenapa?" sambungnya dan memegang bahu anak tadi untuk menatap ke arahnya.


Mulutku terbuka kala melihat wajah seseorang yang tidak asing, orang yang meninggalkan aku di waktu yang tidak sebentar.


"Dia kenapa Mas?" tanya seorang wanita yang berjalan mendekat ke arah kami.


Wanita berkulit putih, hidung mancung juga tak kalah tinggi bak seorang model. Kakiku tiba-tiba saja mundur tanpa dipinta.


Seolah ingin segera menjauh dan menghilang dari mereka, secepat mungkin kubalikkan badan agar tidak dikenali olehnya.


"Daisha nabrak Tante itu tadi dan buat Tante itu hampir jatuh gara-gara Daisha," papar Daisha menjelaskan hal yang terjadi.


Bulir bening langsung turun mendengar nama anak itu, meskipun aku belum melihat wajahnya langsung sebab ia langsung menunduk.


Namun, aku yakin bahwa itu adalah Daisha. Dia hidup? Dia masih hidup? Alhamdulillah, setidaknya tak sia-sia Pak Raditya pergi meninggalkanku hingga tak ada lagi terjalin komunikasi di antara kami.


"Ya, ampun, Sayang. Lain kali mangkanya hati-hati dan jangan lari-larian, untuk aja Tantenya gak beneran jatuh atau kamu yang jatuh," ungkap Pak Raditya. Pemilik suara yang begitu selalu aku rindukan serta tatapan teduh miliknya terkadang mampu membuat aku lupa akan status kami waktu itu.


"Maaf, Bu. Maafkan anak saya, ya. Dia gak sengaja nabrak ibu, apa ada yang luka biar kita ke rumah sakit?" sambung Raditya bertanya padaku. Bukan padaku, tapi pada punggungku karena aku masih membelakangi mereka.


Kutarik cairan yang keluar dari hidung dan menghapus jejak air mata, "Gak ada Pak, saya gak papa kok. Saya permisi!" pamitku menggelengkan kepala dan menjauh dari mereka sambil berlari kecil.


Niat yang tadinya ingin membeli kado kubatalkan, aku berjalan keluar mall, "Jalan Pak!" titahku begitu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Mobil tak langsung jalan karena aku tahu pasti sopir akan kebingungan, sekitar lima menit akhirnya mobil pergi meninggalkan mall.


Kembali tangisanku pecah sejadi-jadinya, ini yang kutunggu? Seharusnya aku yang bego ini sadar bahwa dia pasti sudah bahagia.


Sangat tidak masuk akal bahwa ia masih menunggu bahkan mengingatku sedangkan bertahun-tahun komunikasi di antara kami tak pernah terjalin.


Akan tetapi, aku sedikit bisa tersenyum sebab melihat Daisha sekarang sudah tumbuh menjadi anak yang cantik.


Delapan tahun, ya, usia anak itu sekarang. Pasti ... kapintaran yang ia punya jauh lebih banyak sekarang daripada dulu.


Dan ... wanita tadi? Haha ... aku tak perlu menebak lagi, sudah pasti itu adalah istri Raditya dan Ibu sambung Daisha.


Aku selalu bermimpi tentang hal bodoh bahwa kembali dipersatukan oleh mereka adalah hal yang akan menjadi nyata.


Nyatanya, sekarang impianku itu sudah tidak ada lagi. Aku terbangun dengan kekecewaan dan air mata.


"Makasih, Pak!" tuturku turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan air mata yang terus saja mengalir.


Di ruang tamu, ternyata ada Abang, Kakak dan Mama yang sedang berkumpul sehabis mengucapkan salam aku langsung masuk buru-buru ke kamar.


"Ana?"


Panggilan dari mereka sama sekali tidak kugubris, kulempar ke sembarang arah tas dan telungkup di ranjang menutupi wajah menggunakan bantal agar tangisanku tidak di dengar.


'Seharusnya dari dulu gue itu gak berharap lebih sama lu Pak! Seharusnya gue ini lebih pintar karena udah kuliah.


Tapi, kenapa gue malah semakin bodoh apalagi soal perasaan seperti ini. Seharusnya perasaan ini gak perlu ada!


Gue benci sama lu Pak! Seharusnya lu kabari gue kalo emang lu udah nikah! Lu gak tau rasanya di saat lu rindu sama seseorang yang lu tunggu.


Dan di saat waktunya tiba, tubuh lu ingin memeluk mereka tapi sama sekali gak bisa karena keadaan sekarang sudah jauh berbeda!


Lu nyiksa gue dengan cara lu! Padahal-padahal, gue sama sekali gak ada salah sama lu, kenapa malah gue yang kena!'


Aku terus memaki dan menyumpah serapah dirinya di dalam hati, bahkan suara ketukan pun tak terdengar oleh telingaku.


"Sayang ... kamu kenapa?" tanya Mama yang sudah duduk di tepi ranjang mengelus kepalaku, "cerita sama Mama, ya. Jangan diam kayak gini, Mama gak tau kamu kenapa."

__ADS_1


Dengan sesenggukan, aku melihat ke arah Mama dengan posisi yang sama. Mama tersenyum ke arahku dengan mata yang ia tutup sebentar.


Aku bangkit dan duduk, segera kupeluk Mama dan tangisan kembali tumpah. Aku secengeng ini ternyata jika tentang mereka. Sial!


"Cup cup cup, kamu kenapa? Ada apa? Apa ini soal butik?" Kulepaskan pelukan dan menggeleng bahwa bukan soal itu.


"Terus, apa?" tanya Mama dengan wajah penasaran.


"A-ana, ketemu sama Daisha tadi di mall, Ma," jelasku dengan terbata-bata.


"Subhanallah, dia masih hidup Sayang? Alhamdulillah, Ya Allah. Sekarang, dia ada di mana?


Kenapa gak kamu bawa ke sini? Mama rindu banget sama anak pinter yang udah nolongin kamu itu.


Mama sangat berhutang pada dia, bagaimana kalau dia gak ada waktu itu? Belum tentu kamu masih ada sampe sekarang."


"Hiks ... huwa ...!" Tangisanku semakin kencang dan kututup kembali wajahku menggunakan kedua telapak tangan.


Bagaimana bisa aku cerita jika baru satu kalimat Mama sudah kembali menceritakan kejadian-kejadian yang membuat aku menjadi mencintai keluarga itu?


Mana mungkin aku bisa move on dan lupa dengan apa yang sudah mereka lakukan padaku. Hal ... yang membuat aku banyak belajar.


"Lah-lah, kamu kenapa? Bukannya seharusnya senang ketemu sama mereka? Kenapa malah nangis dan makin kenceng gini?"


"Ana mungkin akan sangat senang jika keadaan masih seperti dulu Ma," jawabku dengan suara serak khas orang menangis.


"Maksud kamu?" tanya Mama kembali dengan wajah bingungnya itu.


"Pak Raditya udah nikah, Ma." Kutatap Mama dengan mata yang berbinar, bulir bening siap jatuh kapan saja.


"K-kamu, tau dari mana?"


"Tadi, Ana juga liat istrinya pas di mall. Daisha gak sengaja nabrak Ana pas ingin masuk ke dalam toko.


Terus ... terus ...."


"Terus apa?"

__ADS_1


"Terus ... huwa ....!"


__ADS_2