
Keluar dari mobil dan berjalan ke arah Daisha juga Dara yang ditunggui oleh gurunya, "Maaf, ya, Buk. Jadi harus nunggu mereka gini," ucapku merasa tidak enak.
"Gak papa, Buk. Ini memang sudah jadi tugas kami."
"Kalau begitu, kami permisi dulu, ya, Buk. Anak-anak, kalian udah salim sama Bu guru?" tanyaku menatap ke arah Daisha juga Dara.
Mereka menyalim dan kami berpamitan untuk pulang ke rumah Mama, berjalan dengan bersenandung ke arah mobil membuat aku sedikit lega.
Setidaknya, Daisha menyukai sekolah barunya ini dan ya ... aku juga lumayan suka karena mereka menjaga anak-anak yang belum dijemput dengan baik.
Mataku menatap ke arah belakang saat hanya ada keheningan di situ, Daisha juga menatap ke arah jendela sedangkan Dara seolah tahu bahwa Daisha sedang sedih.
"Sayang, kamu kenapa?" tanyaku menengok ke belakang.
"Gak papa, kok, Mami," jawab Daisha dengan tersenyum singkat.
Kuhela napas, pastinya akan sangat berbeda antara Daisha yang dulu dan sekarang. Jika dulu, ia tak akan pernah mau menyembunyikan sesuatu.
Dirinya akan mengungkapkan apa yang dirasa langsung padaku, sekarang aku harus bisa membujuk ia agar mau bercerita.
Mereka masuk ke dalam kamar duluan, aku juga Mas Raditya menyusul untuk bertanya apa yang terjadi dengan Daisha.
Ceklek!
Pintu dibuka dan kembali di tutup, Daisha duduk di pinggir ranjang menatap lurus ke depan. Kuletakkan tas yang dari tadi memang kupakai ke atas ranjang.
"Daisha kenapa, Sayang? Mami gak tau kamu kenapa kalau kamu gak ngasih tau sama Mami. Coba kasih tau, ada apa?
Kalau emang sekolahnya gak seru dan temannya pada jahat sama Daisha, kita bisa pindah sekolah, kok.
Kita cari sekolah yang lain, sekolah yang jauh lebih baik anak-anaknya," tuturku memegang bahu Daisha.
Ia mendongak dengan mata yang sudah berkaca-kaca, "Mama dipenjara, ya, Mi?"
Pertanyaan yang lolos dari bibirnya membuat aku kaget, Mas Raditya yang tadinya duduk di bangku belajar menatap ke arah kami.
Bangkit dan berjongkok di hadapan Daisha sembari memegang tangan putrinya itu, "Sayang, kamu tau dari mana?"
__ADS_1
"Nenek. Tadi, nenek datang ke sekolah Daisha, dia bilang Mama sedang sakit dan mau ketemu sama Daisha.
Daisha mau ketemu sama Mama, Pi. Daisha mau liat Mama," pinta Daisha menatap ke arah Mas Raditya.
"Enggak Daisha, dia itu udah jahat sama kamu. Dia yang buat kamu harus jauh dari Mami, dia juga yang buat kamu sampai koma selama berbulan-bulan!" larang Mas Raditya menolak permintaan Daisha.
"Tapi, Pi. Papi lupa kata Mami? Kita gak boleh jahat sama orang lain, Daisha udah maafin Mama kok walaupun Mama jahat sama Daisha.
Dari Mami, Daisha tau bahwa kita gak boleh benci sama seseorang apalagi ini Mama kandung Daisha sendiri.
Rasa dendam dan benci hanya akan menyakiti diri sendiri, Pi. Cobalah maafkan seseorang yang pernah membuat kita terluka.
Lagian, Mama juga udah dapat balasan dari Allah, 'kan? Mama udah masuk penjara gak bisa bebas kayak kita.
Apalagi, Mama sekarang lagi sakit Pi. Allah ngasih balasan sama Mama udah bertubi-tubi Pi. Daisha mohon, kita liat Mama, ya!" lirih Daisha mengatupkan tangannya di depan dada dengan air mata yang sudah berlinang.
Mas Raditya menatap ke wajah Daisha kemudian beralih ke arahku, aku mengangguk sebagai pertanda izin padanya.
"Yaudah, kita ketemu sama Mama kamu," putus Mas Raditya yang memberi izin pada Daisha.
"Yee ... makasih Papi!" seru Daisha memeluk Mas Raditya dengan erat. Ia kemudia menatap ke arahku dan memelukku juga.
Selesai makan siang, baru deh kita ke kantor polisi, oke?!"
"Oke, Mi!"
Aku bangkit dari tempat duduk dan melangkahkan kaki keluar dari kamar, "Mi, tunggu!" henti Daisha membuat aku membalikkan badan kembali menatap ke arahnya.
"Iya, ada apa?"
Kembali Daisha memelukku membuat aku menatap ke arah Mas Raditya yang sedang melihat ke arah kami.
"Mami, makasih, ya. Mami udah jadi Mami paling baik sedunia untuk Daisha, Mami akan tetap jadi nomor satu, kok, di hati Daisha.
Mami gak usah takut, bukan berarti Daisha mau ketemu Mama artinya Mama nomor satu di hati Daisha.
Cuma, Daisha tau kalo mau jadi anak Mami harus menjadi orang yang baik. Dan Daisha, sedang melakukan hal itu," papar Daisha membuat aku seketika menangis.
__ADS_1
Entah dari mana ia mengetahui kata-kata seperti itu, tapi hal tersebut mampu membuatku menangis terharu.
"Iya, Sayang. Mami lagian gak cemburu, kok. Ngapain juga Mami harus cemburu sama Mamanya Daisha.
Udah jelas, dong bahwa Mami yang lebih Daisha sayang tanpa harus Mami tanya ke Daisha langsung," ucapku mengapus air mata dan tersenyum ke arahnya.
"Yaudah, Mami ke dapur dulu, ya. Nanti makin lama kita ke kantor polisinya," sambungku dan mendapatkan anggukan dari Daisha.
Berdiri kembali dan berjalan ke arah dapur tak lupa menutup pintu, saat akan masuk ke dapur Dara keluar dari kamarnya.
"Tante, Bestie aku mana?" tanya Dara dengan memeluk bukunya.
"Bestie? Siapa?" tanyaku bingung.
"Hadeuh, itu lho Tante. Kak Daisha, 'kan Bestie aku sekarang," jelasnya sudah seperti anak gaul saja.
"Haha, ya, ampun Dara. Bestie-bestie, Daisha ada di kamar. Kalian minta ajarin PR-nya sama Om aja, ya. Om ada di dalam kamar, tuh."
"Oke Tante, aku mau ketemu sama Bestie aku dulu, ya!" pamit Dara berjalan ke arah kamarku.
"Ayah sama anak gak jauh beda ternyata," cibirku menggelengkan kepala kembali berjalan ke arah dapur.
Sudah ada sayuran juga ikan yang masih belum di siapkan oleh Mama, kulihat Mama tengah jongkok di kolong meja kompor.
"Dor!" kataku sambil memegang kedua bahu Mama mengangetkan wanita itu.
"Astagfirullah! Ih, kamu ini Ana! Ngagetin Mama aja!" pekik Mama ingin memukul diriku.
Wajah kaget Mama membuat aku tertawa, padahal niatnya ingin bertanya Mama sedang apa.
Ternyata, malah terlintas ide jahil di benakku. Dasar, emang. Untung saja Mama gak sampai marah dan mengutuk aku jadi anak sukses dunia akhirat, hahaha.
"Mama lagi ngapain, sih?" tanyaku yang akhirnya ikut melihat kolong juga.
"Itu, gasnya habis. Kamu tolong gantiin, ya. Mama takut meledak gasnya," pinta Mama dan akhirnya berdiri.
"Lah, emangnya Ana gak takut kalo gasnya meledak Ma? Ana juga takut."
__ADS_1
"Kalau sama kamu, gak akan meledak itu. Kan, udah biasa kamu pasang gasnya. Udah, cepetan pasang biar cepat kita makan siangnya," perintah Mama dan langsung kuturuti meski dengan sedikit menggerutu.