
Mobil Pak Raditya akhirnya menjauh dari halaman Nenek, meninggalkan orang-orang yang berada di sana setelah berdebat hampir 1 jam lamanya.
"Mama seharusnya gak ngasih izin dia buat bawa Ana lagi, Ma!"
"Udah, kasih dia kesempatan. Lagian, kesian anaknya lagi sakit dan butuh Ana. Dia juga udah janji, nanti kalau janjinya tidak ditepati dia bahkan ikhlas buat dibunuh olehmu, 'kan?"
"Baiklah, aku menunggu saat itu!"
"Hust! Kamu itu," pukul Mama ke bahu Pradikta.
Mobil Pak Raditya melaju membelah jalanan yang entah menuju ke mana, di dalam mobil aku hanya diam saja.
Ya ... akhirnya aku ikut dengan Pak Raditya setelah dirinya meyakinkan keluargaku dengan begitu gigih hingga akhirnya mereka bisa memberikan Pak Raditya kesempatan lagi.
"Kalau diingat-ingat, lucu, ya," ucap Pak Raditya membuka obrolan.
"Lucu? Apanya yang lucu Pak?" tanyaku dengan menautkan alis bingung.
"Ya, ini. Saya harus bujuk keluarga kamu kayak saya bujuk mau menikahi kamu aja."
Glek!
"Uhuk!" Aku terbatuk karena menelan ludah sendiri karena mendengar kalimat Pak Raditya barusan.
"Hahaha, kau sampai segitunya," ujarnya dengan tertawa.
Ini pertama kalinya aku melihat Pak Raditya tertawa di hadapanku, biasanya aku hanya melihat laki-laki menyebalkan saja.
"Kau kenapa?" tanya Pak Raditya saat tak sengaja melihat aku menatap ke arahnya.
Dengan cepat kualihkan pandangan ke arah lain, 'Dasar lu Ana, malah terpesona lagi sama nih duda,' gerutuku.
Kami berhenti di bangunan putih yang membuatku menautkan alis kembali sebab bingung.
"Pak, kita ngapain ke sini?"
"Kita mau obati dulu wajah kamu, nanti Daisha kaget kalo liat wajah kau begitu," ujarnya santai sambil membuka sabuk pengaman.
"Heleh, dia juga udah liat saya tadi," cetusku tak terima seolah wajahku begitu menakutkan.
"Udah cepetan, daripada wajah kau nanti semakin parah sakitnya. Lebih baik segera diobati!" tegas Pak Raditya dan turun dari mobil.
Aku akhirnya ikut turun meskipun sedikit tak mau, tapi siapa yang tak ingin wajahnya agar segera sembuh?
Kuikuti Pak Raditya dari belakang sambil menunduk melihat keramik bangunan ini, "Jangan seperti anak ayam!" peringat Pak Raditya.
__ADS_1
"Dih, anak ayam mah ngikutin Maknya Pak. Bukan Bapaknya," ketusku memajukan bibir.
"Di samping saya, jangan di belakang. Kalau kamu diculik nanti saya gak tau."
"Sadis amat tuh doa," kataku berjalan ke samping Pak Raditya.
Langkah yang sempat terhenti akhirnya jalan kembali, aku hanya mengikuti ke mana langkah Pak Raditya.
"Apa kau membenciku?" tanya Pak Raditya tiba-tiba membuatku kaget.
"Ha?" tanyaku polos yang memang tak paham dengan maksud Pak Raditya.
"Iya, apakah setelah kejadian ini kau membenciku?"
"Gak benci, sih, Pak. Cuma, kesal aja apalagi Pak di mall waktu itu. Bapak marahi saya di depan mantan istri Bapak.
Saya tau saya cuma seorang pengasuh, tapi gak harus juga Bapak rendahkan saya begitu di hadapan mereka semua."
"Apa karena itu kau mau langsung pindah kampus?"
"Ya ... biar mantan istri Bapak itu gak ganggu saya lagi. Lagian, dia juga tiba-tiba sekarang malah ngajar di kampus saya.
Saya mikirnya, ya, dia gak akan bisa profesional dengan apa yang terjadi diantara saya dan dia. Capek-capek nanti ngurus skripsi, eh, sama dia malah dipangkas nilai saya hanya karena persoalan pribadi ini."
"Kau sungguh jauh berpikir."
"Apakah yang saya lakukan saat di mall itu keterlaluan artinya?" tanya Pak Raditya berhenti dan menatap ke arahku.
"Bapak 'kan punya otak, ya. Seharusnya Bapak bisa berpikir seandainya Bapak jadi saya!" tegasku dan berjalan meninggalkan dia begitu saja.
"Mmm ... Azal! Ini ruangan dokternya!" pekik Pak Raditya membuat aku terhenti.
Kututup mata menutup malu, seolah paling tahu di mana ruangan-ruangan dokter padahal aku baru pertama kali datang ke sini.
Dengan berat hati dan sisa percaya diri, kubalikkan badan kembali ke arah Pak Raditya tadi.
"Ini ruangannya Azal," ujar Pak Raditya mengulum senyum.
"Saya juga tau!" ketusku membuka ruangan tak lupa mengetuknya terlebih dahulu.
Aku masuk lebih dulu dengan wajah masam ke dalam ruangan, sudah ada dokter laki-laki yang berdiri di dekat meja kerjanya.
"Hey, Raditya! Udah lama banget lu gak datang ke sini," sapa laki-laki berjas putih itu sambil menjabat tangan Pak Raditya.
"Iya, kebetulan ini lagi main ke kota ini."
__ADS_1
"Wih ... jadi, ada apa nih?"
"Ini, tolong obatin wajah dia," ucap Pak Raditya menatap ke arahku membuat dokter tersebut juga melihatku.
Dilihat oleh dokter ini membuat aku salting hingga mengulum senyum, aku mengangguk dengan ramah padanya.
"Biasa aja, gak usah caper banget jadi cewek!" cibir Pak Raditya dengan nada pelan tepat di dekat telingaku.
"Suka saya dong Pak, emangnya apa urusan Bapak?" tanyaku dengan ngegas.
"Eh, ini siapa lu Bro?"
"Hey, dokter. Kenalin saya Azaleana panggil aja Ana," ucapku mengulurkan tangan di depannya.
"Pengasuh Daisha," jawab Pak Raditya dengan tersenyum sambil menyingkirkan tanganku dari depan dokter tersebut.
"Widih ... lu dapat dari mana pengaruh kayak gini? Gue juga mau dong diasuh kalo gitu," goda dokter yang membuat aku semakin brutal saltingnya.
"Siap Dokter! Dokter kapan mau saya asuh?" tanyaku dengan cepat dan semangat.
Tanpa aba-aba, tanganku ditarik oleh Pak Raditya hingga keluar dari ruangan ini. Ia melepaskan tangannya setelah aku memberontak agar dilepaskan.
"Ih, Bapak apaan, sih?" tanyaku dengan marah ditarik begitu saja olehnya.
"Kau juga jangan ganjen banget Azal!"
"Dih, emangnya kenapa? Dokter tadi udah punya istri, emang?"
"Udahlah, mending kita pulang aja!" Pak Raditya kembali menarik tanganku meskipun kali ini lebih pelan dibanding tadi.
Aku hanya cengengesan sedikit lucu meskipun rada kesal dengan apa yang dia lakukan, "Pak, kenapa pulang? Luka saya 'kan belum diobati."
"Biar saya yang obati luka kau itu!"
Dia masuk ke dalam mobil lebih dulu, aku langsung ikutan masuk juga dengan mengulum senyum terlebih dahulu sebelum menyusul masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan kami hanya saling diam tak ada yang membuka suara, wajah Pak Raditya terlihat langsung bete karena ulahku.
"Kau mau nitip apa?" tanyanya berhenti di apotek.
"Apotek jualan apa emang selain obat, Pak?" tanyaku menatap ke arahnya kembali.
"Minuman kayaknya ada."
"Yaudah, minuman Pak."
__ADS_1
Dia keluar dan masuk ke dalam apotek sambil berlari kecil sedangkan aku hanya menunggu di dalam mobil.
"Bukannya Daisha sakit, ya? Kenapa malah Pak Raditya gak langsung bawa pulang, ya? Siapa yang nemenin Daisha di rumah kalo gitu?" tanyaku yang keheranan.