
"Lah, Daisha kenapa pakai seragam sekolah?" Aku keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian lengkap dibuat kaget.
Hari ini, kami akan pergi ke Bali. Padahal, perjanjian dari awal bahwa Daisha ingin ikut dan aku serta Mas Raditya sudah mengizinkan.
"Enggak jadi, deh, Mi. Daisha mau sekolah aja, Daisha takut tinggal pelajaran nanti. Capek juga kalau harus catat pelajaran banyak-banyak.
Daisha di sini aja sama Om, Tante, Nenek juga ada Dara dan adik bayi. Mami sama Papi pergi berdua aja, deh," papar Daisha membuatku melongo.
Dirinya tengah menggunakan seragam sekolah dibantuin Mas Raditya, "Kopernya juga kenapa sengaja dua di situ?" tanyaku kembali keheranan.
"Daisha minta susunin balik ke lemari dia, jadi aku bantuin susun deh," timpal Mas Raditya.
Aku yang berdiri di depan pintu kamar mandi langsung berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
Mas Raditya tengah fokus membantu Daisha memakai tali pinggang, "Daisha yakin gak mau ikut, Nak?" tanyaku yang duduk di pinggir ranjang menatap punggungnya.
"Yakin Mami," jawabnya menoleh ke arahku sebentar.
Kutelan saliva dan mengusap wajah yang kurasa tengah bercucuran keringat, "Kamu siap-siap Ana, kita udah mau berangkat ini," suruh Mas Raditya.
"Kita gak jadi deh, ya. Aku takut ninggalin Daisha, Mas."
"Di sini, 'kan ada Abang kamu. Ngapain takut? Kamu gak percaya sama dia? Dia aja percaya sama kita sampai nitipin kedua anaknya.
Udah, jangan banyak alasan deh. Cepat siap-siap, semua udah di packing juga," protes Mas Raditya yang langsung kutampilkan wajah cemberut.
Dengan langkah malas berjalan ke kaca rias untuk merias tipis-tipis wajahku agar tak terlihat terlalu pucat atau bahkan hitam.
Dibuka pintu kamar, Pak Panto sudah ada di ruang tengah menunggu kami, "Sini, biar saya aja Neng," pinta Pak Panto pada koperku.
Dia membawa kedua koper kami masuk ke dalam mobil, berjalan ke arah ruang makan untuk mengisi perut terlebih dahulu.
Mama dan yang lainnya sudah ada di situ menunggu kami, "Widih, yang mau honeymoon kayaknya bahagia banget, nih!" sindir Bang Dikta.
"Sut! Kamu ini, jangan kayak gitu mereka malu jadinya!" tegur Mama menatap tajam ke arah Bang Dikta.
"Bang, aku titip Daisha, ya. Dia gak mau ikut sama kami padahal tadi malam bajunya udah aku masukin ke koper.
Eh, malah tiba-tiba gak mau ikut. Mau di sini aja sama Dara dan lainnya, padahal gak papa juga kalo libur cuma tiga hari juga," jelasku yang sebenarnya sedikit khawatir pada Daisha.
"Daisha yang gak mau ikut atau kalian yang larang, nih?" terka Bang Dikta menaik-turunkan alisnya.
__ADS_1
"Apaan, sih?" tegasku dengan kesal padanya. Udah aku lagi badmood takut di sana di apa-apain, malah diajak becanda yang gak lucu pulak.
Kak Kamelia menegur Bang Dikta, "Iya, Dek. Kamu tenang aja, Daisha akan aman di sini, kok," kata Kak Kamelia menenangkan.
"Hmm ... makasih, ya, Kak." Aku tersenyum dan menyantap makanan buatan Kak Kamelia juga dibantu Mama sepertinya.
"Gimana Bro? Udah stok banyak-banyak obatnya?" tanya Bang Dikta.
"Dih, ngapain juga stok? Orang suami aku gak lemah kayak Abang yang pake bantuan obat!" caciku tersenyum mengejek ke arahnya.
Kak Kamelia langsung menahan senyum begitu juga dengan Mama, "Tuh, sampai nahan senyum Kak Kamelia. Kenapa, Kak? Benar, ya, yang aku bilang?" sambungku membuat Kak Kamelia akhirnya tertawa tak kuat menahannya lagi.
Sedangkan Bang Dikta hanya bisa menahan malu, wajahnya bahkan merah padam. Dirinya memang lama-lama sangat menyebalkan.
Padahal, aku sudah mau berubah dari wanita yang pecicilan menjadi lebih kalem karena mengingat sudah punya anak.
Namun, dia malah kembali membuat jiwa bar-bar yang sempat terpendam hadir kembali. Rasain, dah!
"Daisha, ikut aja sana. Biar bisa ganggu Mami dan Papi," suruhnya kembali pada Daisha.
"Dia udah tau, kalo dia gak ikut akan dapat hadiah baby. Mangkanya gak mau ikut, wle!" ejekku menjulurkan lidah, "iya, gak, Sayang?" Kupejamkan sebelah mataku padanya.
"Udah-udah, ayo sarapan! Nanti kalian telat, lho. Anak-anak juga mau sekolah, kalian ini ada anak-anak malah pembahasannya dewasa banget!" tegur Mama membuat kami akhirnya fokus kembali pada sarapan pagi ini.
Sekitar lima belas menit, Mama, Kak Kamelia juga Bang Dikta mengantarkan kami sampai di depan rumah.
"Hati-hati kalian, ya. Jangan lupa baca doa agar gak ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi," pesan Mama setelah mengecup keningku.
"Iya, Ma. Makasih, ya. Titip Daisha, ya, Ma." Mama mengangguk dan aku berpindah ke arah Kak Kamelia.
"Semoga segera isi, ya, Sayang."
"Aamiin, Kak. Titip Daisha, ya, Kak. Nanti kalau aku telpon tolong kasih ke Daisha handphone-nya, ya."
"Iya, pasti itu. Daisha udah Kakak anggap anak sendiri aja, tenang aja."
Kusalim tangan Bang Dikta yang sudah senyum-senyum tak jelas, "Ck! Sangat menyebalkan!" gumamku memutar bola mata malas menatapnya.
"Awas, Dek. Ntar gak kuat jalan lu."
"Gak masalah, ntar di gendong Bang. Beuh ... di gendong ala bridal style kek di pilim-pilim. Abang, noh, ajak Kak Kamelia pindah tempat gitu. Jangan di rumah ini mulu!
__ADS_1
Bosen tuh Kak Kamelia suasananya begitu aja, tiap hari elit, di tempat indah sulit. Dasar! Eh, sorry," ejekku yang seolah keceplosan berkata seperti itu.
"Bye, wle!" Kujulurkan kembali lidah mengejek ke arahnya yang kembali marah dengan sikapku. Hahaha, siapa suruh buat aku kembali bar-bar anaknya.
Ban mobil berjalan menjauh dari rumah dengan kecepatan sedang menuju sekolah Daisha dan Dara.
"Kalian jangan berantem pas Mami gak di sini, ya. Cuma sebentar, kok, di sana, ya. Dara, sayangi Kak Daisha, ya."
"Baik Tante."
"Nanti siang, Mami telepon Daisha, ya."
"Iya, Mi."
"Pak Parto, tolong jangan telat jemput serta antar mereka, ya. Takutnya kalau telat jemput nanti terjadi yang macem-macem."
"Siap Neng!"
Kuhela napas dengan perasaan was-was, entah mengapa rasanya sangat berat meninggalkan Daisha sendirian.
Bukan aku takut kalau keluargaku tak akan mengurus dan menjaga Daisha dengan baik. Namun, sebagai seorang Ibu ini adalah hal yang biasa terjadi.
Meskipun, ya, Daisha hanya anak sambung. Tapi, aku sudah menganggap dia sebagai anak kandungku sendiri.
"Buk Guru, saya 3 hari ke depan gak akan jemput Daisha. Tolong, kecuali Bapak ini jangan kasih izin Daisha juga Dara dibawa oleh orang lain, ya!"
"Baik Buk."
"Makasih Buk Guru."
"Sama-sama."
Kutatap punggung mereka berdua yang masuk ke dalam sekolah setelah pamit dan melambaikan tangan ke arahku.
Mas Raditya mengusap bahuku mencoba menenangkan, ia akhirnya duduk di bangku belakang dan menggenggam tanganku.
"Kamu gak perlu takut, Daisha akan baik-baik aja, kok."
"Kamu gak tau gimana rasanya meninggalkan dan ditinggalkan seseorang Mas! Wajar kalo aku takut apalagi khawatir!" jelasku menatap ke arahnya.
"Sutt! Udah, gak perlu sedih. Dia akan baik-baik aja, kok. Cuma tiga hari Sayang," kata Mas Raditya mencoba menenangkan aku.
__ADS_1