
Tok!
Tok!
Tok!
Ceklek!
"Ada apa?" tanya Bang Pradikta dengan ketus tanpa menatap ke arahku.
"Abang jangan pergi, biar Azaleana aja. Good luck, ya, Bang buat pernikahannya nanti. Kalau Abang gak mau ngundang Azaleana juga gak papa, kok.
Abang jangan pergi, tetap di sini dengan istri Abang itu. Biar Azaleana aja yang pergi, gak perlu khawatir. Azaleana akan baik-baik aja, kok." Dengan sekuat tenaga, aku berbicara padanya setelah sekian lama tak pernah saling tegur sapa.
Setelah mengatakan itu, aku benar-benar pergi meski tak pamit dengan Papa dan Mama. Kubawa koper yang biasanya menemani ke luar kota juga negri.
Siapa sangka, kali ini dia harus menemani aku untuk angkat kaki dari rumah yang selama dua puluh satu tahun menjadi tempat berteduhku.
Kucari satu kontak saat tengah berada di perjalanan menuju rumah Daisha.
"Woy, ada apa?" tanya Ayudia di sebrang.
"Buset, lu tau gak?"
"Apa?"
"Gue di usir dong dari rumah, kampret banget, 'kan! Dasar, sial*n tuh cewek. Dia kira gue akan diam aja dengan apa yang udah dia lakukan sekarang sama gue!"
"Ha? Wait-wait, maksud lu gimana?"
"Ya, cewek yang beberapa tahun dulu kita labrak dan buat Abang gue dan dia putus berulah lagi. Sekarang, gue mau biarin Abang gue yang tomlol itu aja. Mau liat, apa yang akan terjadi sama dia akibat cewek itu."
"Gil*, sih. Abang lu keknya sedeng, deh. Ternyata emang bener, ya, setiap kelebihan pasti ada kekurangan. Kelebihannya Abang lu ganteng, kekurangannya dia buta banget kalo udah cinta."
"Yah ... begitulah, gue sampe keluar dari rumah karena masalah ini," ucapku pasrah dengan menyandarkan punggung ke kursi mobil.
"What?!" pekik Ayudia membuat aku menjauhkan telepon dari telinga.
"Dih, biasa aja kali! Pekak nih gue lama-lama lu buat!"
"Jadi, sekarang lu tidur di mana?"
__ADS_1
"Di--"
"Mbak, udah sampe," potong supir membuat aku melihat ke arah kiri. Benar saja, roda empat ini sudah sampai di depan rumah seseorang yang sebenarnya tak ingin kudatangi kembali.
Namun, keadaan selalu berbanding terbalik dengan apa yang kita inginkan, "Eh, udah dulu, ya. Gue udah sampe, nih."
"Sampe? Di mana?"
"Nanti gue jelasin pas di kampus lusa," kataku menenangkan Ayudia. Bagaimana pun, ia pasti sangat khawatir atau bahkan hanya khawatir saja?
Hahaha ... entahlah, tapi Ayudia benar-benar seperti seorang Kakak bagiku. Dia lupa bahwa kita ini seumuran, kadang dia bahkan tak segan memarahi aku jika melakukan kesalahan.
Masalah status sosial? Dia tak pernah peduli, jika aku salah maka akan langsung ia tegur atau marahi.
"Huftt ... kalau ada pilihan yang lain mah, ogah banget gue ke sini. Tapi, karena emang udah gak ada yang lain.
Mau gak mau, aku tetap ke sini dah. Sabar Azaleana, kamu butuh uang untuk tetap terus hidup dan kuliah.
Uang di kartu juga udah gak banyak, belum tentu juga uang jajan akan terus dikirim ke rekening aku tiap bulannya."
Kuhela napas kembali dengan menenangkan diri, kubuka mata yang tadi sempat terpejam beberapa saat. Saat tanganku sudah berada di atas berniat mengetuk pintu.
"Eh!" kagetku saat pintu sudah terbuka lebih dulu dan menampilkan pria yang sama.
"Ck! Nama saya Azaleana Pak! Bukan Azal!" ketusku menautkan alis menatap ke arahnya.
"Ck! Terserah saya mau manggil kau dengan apa! Bagaimana? Kau terima segala persyaratannya?"
Aku bergeming dengan kertas yang kuramas di sebelah tangan kanan, "Tapi, Pak. Tugas dadakan itu kayak mana contohnya?" tanyaku menatap ke arahnya dengan bingung.
"Ya, apa aja. Tiba-tiba kamu jadi badut, kecoa, nyamuk, atau apa saja," katanya dengan santai menatap ke arah lain.
"Ha?!" pekikku melebarkan mata mendengar ucapannya barusan.
"Kenapa? Gak mau, kau boleh pergi," potongnya sambil memasukkan tangan ke saku celana.
Kuramas kedua tanganku dan mengeraskan rahang, 'Kalau gak demi duit dan gak dikeluarkan dari rumah, aku ogah banget liat manusia begini apalagi kerja dengannya!' batinku.
"Kenapa diam? Tidak mau? Silahkan pergi kalau gitu," paparnya dan masuk ke dalam.
"Pak tunggu! Baik, saya mau," pasrahku dan membuat langkahnya terhenti.
__ADS_1
"Ck! Baik kalau gitu," katanya dengan sedikit berdecih. Aku tahu, ketika masuk ke dalam rumah ini.
Jangan pernah berharap duniaku akan tenang dan baik-baik saja, aku sudah harus siap dengan apa yang akan terjadi; saat ini, nanti atau kapan saja.
"Bik!" panggilnya kembali pembantu yang sepertinya sudah lama kerja dengannya.
"Iya Pak!" sahut wanita itu keluar dari kamar Daisha. Anak tersebut yang merasa tak punya teman di dalam kamar pun akhirnya ikut keluar juga dengan Bibik.
"Mami?!" pekik Daisha dengan berhenti di ambang kamarnya. Aku tersenyum menatap gadis kecil yang ternyata benar, berusia lima tahun itu.
Kuangkat tangan dan melambai ke arahnya dengan senyuman yang merekah, sekilas kulihat Papi Daisha melirik ke arahku.
Aku yang sadar dengan maksudnya langsung menurunkan tangan, "Jangan bersikap seolah-olah kau adalah Maminya!" tekan pria menyebalkan tanpa menatap ke arahku.
Paham dengan posisi, kugigit bibir bawah agar berhenti tersenyum. Daisha sudah berada di depanku.
"Mami datang lagi? Kita mau ke mana Mi? Mami mau tinggal sama Daisha, ya?" tanya Daisha dengan berbagi pertanyaannya.
Kusamaratakan tinggi kami agar gampang berbicara nantinya, "Iya, untuk sementara tinggal di sini," ujarku yang memang tak akan selamanya tinggal di sini.
Sekitar menunggu Bang Raditya disakiti saja, baru setelahnya aku akan kembali lagi ke rumah tersebut.
"Sayang, jangan panggil orang asing dengan sebutan seperti itu, ya," timpal pria menyebalkan membuat aku dan Daisha menatap ke arahnya.
"Memangnya kenapa Pi? Mami bukan orang asing, kok. Daisha kenal dan Mami juga orang baik, jadi gak papa, dong?
Kan, Papi sendiri yang bilang ke Daisha bahwa Mami itu orang baik. Nah, karena Kakak ini orang baik berarti dia adalah Mami Daisha dong," jelas Daisha yang membuat aku sekarang paham kenapa dia menyematkan panggilan 'Mami' ke aku.
Kualihkan pandangan ke arah keramik putih yang begitu besar menjadi lantai sekarang tempat kami berpijak.
"Bik, tolong kasih liat kamar dia, ya," titah pria menyebalkan menunjuk ke arahku menggunakan dagunya.
"Lah, kenapa Mami gak tidur sama Daisha aja Pi?" protes Daisha dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Gak boleh!" jawab pria menyebalkan dengan singkat.
"Gak boleh kenapa Pi?"
Pria itu mengusap wajahnya kasar yang sepertinya frustasi dengan pertanyaan-pertanyaan dari Daisha. Aku sedikit terkekeh melihat kelakuan pria itu kala tak bisa menjawab pertanyaan anak kesayangannya itu.
"Sayang ... Daisha, 'kan udah gede. Jadi, harus tidur sendiri, lagian barang-barang Mami banyak sedangkan kamar Daisha udah penuh dengan barang kesayangan Daisha, 'kan?
__ADS_1
Mami akan nemenin Daisha juga, kok, pas tidur nanti. Jadi, gak perlu takut. Kalau ada apa-apa tinggal teriak, nanti Mami akan datang ke kamar Daisha," ungkapku sambil membelai lembut wajahnya.
Dia mengangguk pertanda paham dengan menampilkan lengkungan pada bibir mungilnya itu, "Gitu dong Pi! Jelasinnya yang jelas, jangan cuma dilarang doang! Kan, Daisha jadi gak paham!" gerutu Daisha menatap pria menyebalkan dengan bibir yang monyong.