
Hari yang kutunggu akhirnya tiba, di mana aku menggunakan baju hasil buatanku sendiri juga dibantu oleh Kak Kamelia, sih, sebenarnya.
Gema, "sah" membuat aku sekarang diiringi berjalan ke depan meja yang sudah ada penghulu, saksi, wali juga suamiku.
Beuh ... sekarang sudah jadi suami saja, nih wkwkwk. Pasti, aku sangat gugup dong bahkan tanganku dingin akibatnya.
Aku di dudukkan tepat di sampingnya, senyuman itu juga tatapan teduhnya membuatku salah tingkah hingga memilih menunduk.
"Ini, tanda tangan dulu," kata penghulu membuat aku akhirnya mendongak melihat ke arah depan.
Kulihat ke arah para tamu undangan, aku tersenyum kala melihat wanita yang ada di antara orang-orang yang hadir.
Meskipun, ia masih harus menggunakan kursi roda dan bersyukur prianya tak meninggalkan dirinya dengan keadaan apa pun.
"Pak, Bapak mau ngapain?" gumamku saat baru saja mengalihkan pandangan ke arahnya. Ia sudah memegang wajahku dan mendekatkan wajahnya.
"Disuruh cium kening buat foto," jelasnya dengan berbisik juga.
"Ih, gak usah dicium juga. Salim aja, kali!"
"Emang kayak gini peraturan nikah, kau tak pernah liat video atau foto orang-orang Azal?"
"Bapak aja yang modus, udah gak usah ih!" larangku dengan mata yang kubulatkan dan dadanya kutahan agar tak terus maju-maju.
Sedangkan mataku, melihat ke arah fotografer yang ternyata memang sudah siap-siap untuk mengabaikan moment kami.
Kalau tahu gini, mending aku gak usah nyewa tukang foto kalo gitu. Masa, dia nyuruh hal yang semacam ini dilihat oleh orang-orang.
Cup!
Aku kalah, atau mengalah, eh?! Pak Raditya mencuri ciuman di keningku serta bunyi kamera juga ikut terdengar.
"Orang cuma gitu doang juga Azal, bukan disuruh cium lain-lain," gerutu Pak Raditya dengan sedikit menjauh setelah melakukan kecup kening.
Plak!
"Lain-lain maksud Bapak apa?" tanyaku sengit memukul pahanya.
"Ulang-ulang, pengantin wanitanya seharusnya senyum. Bukannya cemberut dan kayak tertekan gini atuh Mbak," pekik fotografer yang membuatku mengalihkan pandangan horor ke arah dirinya.
"Fiks, sih. Nyesel banget aku sewa fotografer, mana gak ngerti orang malu lagi. Ya, kali, romantis diliatin banyak orang gini," ucapku dengan pelan yang mungkin hanya aku saja bisa mendengarnya.
Suara tawa dari sebelahku membuat aku menatap ke arahnya, Pak Raditya mengulum serta menahan tawanya, "Bapak kenapa?"
"Gak papa," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
Acara di meja ini pun selesai, kami berdua kembali di iringi ke bangku singgasana raja dan ratu sehari ini.
"Padahal, kita sendirian jalan ke situ juga bisa, 'kan Pak? Ngapain harus di iringi segala, coba?" gerutuku kembali.
"Berhentilah mengeluh Azal, memang sudah seperti ini proses acara pernikahan. Kalau gak mau ada beginian, mangkanya kita kawin lari aja kemarin!" tegur Pak Raditya tetap dengan senyum kembangnya yang sungguh terpaksa.
"Bapak emang ada ngajak saya buat kawin lari? Enggak, 'kan? Seharusnya Bapak ajak saya, mending gitu aja kita," omelku memajukan bibir menatap ke arah belakang melihat dayang-dayang yang ikut jalan ke arah panggung tempat duduk.
"Nih cewek emang aneh banget, dinikahi cara baik-baik malah mau kawin lari. Kuliah 4 tahun kirain akan jadi pintar, ternyata makin parah."
"Bapak bilang apa?"
"Ha? Saya gak bilang apa-apa Azal, kupingmu saja yang kayaknya bermasalah."
Sampai di bangku, kami langsung diarahkan oleh MC untuk acara berikutnya. Tamu mulai menyantap hidangan yang ada.
Sedangkan kami berdua, standby untuk foto-foto dengan orang-orang. Sangat tidak adil sekali, "Ih, aku laper Pak," keluhku memegang perut rata ini.
Pak Raditya menatap ke arah wajahku lalu tempat hidangannya, "Mau makan apa?" tanya Pak Raditya membuatku mendongak dengan senyum merekah.
"Makan Bapak, boleh?" tanyaku mengedip-ngedipkan mata udah kek anak ABG umur belasan.
Sontak saja kalimatku itu mendapat tatapan tajam darinya, "Hehe, maaf, Pak. Makan ayam aja Pak sama sayur deh, atau kalau ada ice cream tolong ambilin, ya," pesanku sambil cengengesan.
Pak Raditya mengangguk dan pergi dari singgasana ini menuju tempat makan, mereka lupa kalo Raja dan Ratu juga perlu makanan.
"Makanlah! Mas kira, Mas doang yang laper, ha?" cetusku membuat ia menggaruk kepalanya yang botak itu.
Aku memilih duduk sambil melihat-lihat kuku saja, karena kalau aku melihat ke depan pasti orang-orang juga sedang melihat ke arahku dan itu membuatku sedikit malu.
Kayak ... aneh saja gitu, aku duduk di depan sedangkan mereka menatap membuat aku jadi pusat perhatian.
"Nih," ujar Pak Raditya memberi piring yang ada di tangannya. Ia duduk kembali di sampingku sedangkan aku menatap penuh kegembiraan.
"Bapak mana nasinya?" tanyaku tak melihat ia membawa piring lagi.
"Ya, gak muat tangan saya. Ini juga ada ice cream-nya, batagor, sate ayam, salad buah sama air minum. Tangan saya cuma dua Azal."
"Haha, Bapak emang suami the best. Baik banget walaupun rada ketus, mungkin sebab rindu sama saya mangkanya kayak gitu. No problem, kita satu piring aja.
Gak masalah, kok. Sunnah juga satu piring dengan suami meskipun kita baru beberapa menit yang lalu jadi suami-istri, sih," ujarku yang sangat tidak penting.
Baru saja akan membuka mulut pertama kali memasukkan makanan, bagian make-up datang dengan tergopoh-gopoh ke arah kami.
"Mbak, gak boleh makan. Nanti make-up-nya rusak," ujarnya di hadapan kami berdua, "makannya nanti pas ganti baju."
__ADS_1
"Dih, enak aja. Saya juga laper kali Mbak," gerutuku tak terima dengan aturan yang ia berikan.
"Tapi, emang udah kayak gitu peraturannya Mbak," jawabnya kembali.
"Kalau makan membuat make-up istri saya akan rusak, maka gak masalah. Yang rusak make-upnya bukan wajahnya.
Biar orang liat bahwa wajah aslinya lebih bagus dibanding make-up yang kalian buat!" tegas Pak Raditya yang membuatku terpukau dan meleleh.
"Nih, makan," sambungnya menyuapkan nasi yang belum sempat kumasukkan ke dalam mulut.
Mulutku bisa-bisanya langsung terbuka begitu saja sangking tersepona, eh, terpesona dengan apa yang ia katakan.
Tukang make-up tadi pun pergi dengan wajah yang tertampil jelas jengkel atas ucapan Pak Raditya tadi.
Lagian, aneh banget! Masa, makan saja dilarang. Orang laper kok malah dipaksa kenyang oleh make-up yang mereka buat.
"Kau kenapa senyum-senyum begitu Azal?" tegur Pak Raditya membuat aku mendongak menatap ke arahnya.
"Jadi, Bapak mau saya nangis-nangis, gitu?"
"Ya ... bukan begitu juga dong."
"Haha, becanda Pak. Enggak, saya beruntung aja gitu. Dicintai dengan begitu hebat oleh laki-laki seperti Bapak.
Mungkin, kalau ada yang denger pasti ada, sih. Noh, readers. Mereka akan mengatakan saya lebay juga pernikahan ini baru banget mangkanya saya bisa berkata demikian.
Tapi, jujur. Dari perjalanan kita yang saya liat, mungkin jika laki-lakinya bukan Bapak yang saya cintai.
Tak akan pernah saya rasakan berada di tahap ini dengan orang yang saya cintai tersebut, sebab melihat banyaknya cobaan kita," ungkapku tersenyum getir ke arahnya.
"Masalah di dalam hubungan itu akan selalu ada, saya juga gak bisa menjamin bahwa rumah tangga kita ke depannya akan baik-baik saja.
Namun, satu yang bisa saya jamin. Bahwa, tak akan ada badai yang tak bisa kita lewati. Saya berharap di saat adanya badai serta ombak yang kuat di rumah tangga kita.
Kau tak memilih turun dari kapal agar selamat sendirian hingga meninggalkan kami berada di atasnya. Karena, yang ada hanya akan masalah kembali datang ketika kau memutuskan untuk turun dari kapal."
"Pak ... saya gak akan pernah turun dari kapal. Sebab, saya gak tau berenang. Mati yang ada saya nanti tenggelam dibuat ombak dan air."
"Hadeuh ... ini cuma perumpamaan Azal! Aish ... untung sayang," cicit Pak Raditya mengalihkan pandangan ketika mengucapkan kalimat terakhir.
"Eh, untung apa Pak? Saya gak denger, nih," kataku mendekat ke arahnya.
"Apa?" tanya Pak Raditya mengalihkan pandangannya kembali.
"Untung apa tadi? Ulangi ngomongnya, dong. Saya gak denger," pintaku kembali dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Udah-udah, mending sekarang kau berdiri. Sudah banyak yang mau ngasih selamat dan foto. Agar acaranya cepat selesai," titah Pak Raditya dan dirinya langsung berdiri sedangkan aku melihat ke arah yang dirinya maksud.