
Kami akhirnya naik ke dalam bianglala tersebut, Pak Raditya satu bangku dengan Daisha sedangkan aku duduk sendirian dengan rasa panik.
"Eh-eh, kenapa bianglalanya berhenti?" tanyaku panik karena kami berada di atas. Bahkan, kota ini kelihatan dari atas sini.
"Itu, ada yang mau naik lagi. Mangkanya diberhentiin dulu," jawab Pak Raditya menunjuk ke arah bawah.
Tanganku sudah memegang besi yang ada bahkan bisa kurasakan keringat dingin mengalir di dalam tubuh.
"Sayang, sini Papi foto," tutur Pak Raditya. Aku hanya melihat apa sedang mereka lakukan, sedangkan aku hanya diam dengan penuh ketakutan.
"Mami, Mami kenapa?" tanya Daisha membuat mataku yang tadinya tertutup agar sedikit menghilangkan rasa takut kembali terbuka.
"Huwek!" Kututup mulutku menggunakan tangan dengan cepat saat merasa makanan yang baru saja dimakan sudah ingin keluar.
"Papi, Mami sakit!" panik Daisha.
"Pak-pak, tolong berhenti dong!" pekik Pak Raditya saat kami berada di bawah tapi akibat bianglala sedang berputar kencang petugas tak mendengarnya.
Sebisa mungkin kutahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam perut, mereka sudah meronta dan aku bahkan sudah tidak tahan untuk mengeluarkannya.
"Huwek ...!" Benar saja, begitu bianglala kembali ke bawah apa yang kutahan akhirnya keluar juga tepat mengenai baju Pak Raditya.
Kutatap wajahnya dengan sendu dan tidak semangat lagi, bahkan Daisha hanya bisa terdiam melihat kejadian itu.
Begitu turun dari bianglala, aku langsung mencari tempat yang sepi dan kembali mengeluarkan makanan di dalam perutku dengan berjongkok.
"Mami sakit, ya?" tanya Daisha dengan suara sendu mengusap punggungku.
Kulihat ke arahnya yang menampilkan wajah khawatir, tersenyum agar membuat ia sedikit tenang dan menggelengkan kepala, "Enggak, kok, Sayang. Mami gak sakit," jawabku dan menatap ke arah depan lagi.
"Ini-ini, kamu minum dulu. Ini juga tisue-nya," terang Pak Raditya menyodorkan botol air minum dan tisue padaku.
Kuminum air dan mengambil tisue untuk menghapus bekas muntahan di sekitar bibir juga keringat di pelipis.
Saat merasa sudah lumayan membaik, kulirik ke arah Pak Raditya yang juga ikut jongkok denganku.
"Pak, baju Bapak," selaku melihat bajunya yang basah.
"Gak papa, saya bisa beli baju baru. Saya liat di sebelah sana tadi ada bazar baju, tenang aja."
"Maafin saya, ya, Pak."
"Lain kali, kalau kau tak bisa menaikinya gak perlu sok bisa seperti tadi. Bagaimana kalau kau malah pingsan karena gak kuat menahan takutnya?"
Aku menunduk mendengar nasihat dari Pak Raditya, padahal aku cuma ingin menguji diriku yang penakut dengan ketinggian ini.
Apakah masih sama seperti dulu, atau malah sudah berubah menjadi wanita pemberani. Padahal, cita-citaku pengan bisa panjat tebing.
__ADS_1
Jangankan tebing, bianglala aja aku gak mampu!
"Ini, pake minyak angin dulu. Usap ke tengkuk kamu dan kening biar enakan," suruh Pak Raditya menyerahkan minyak kayu putih padaku.
Ia mengambil alih air minum dan tisue tadi untuk dipegangnya, kulihat ke arah Daisha yang tampak sedih dengan keadaanku.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Mami sakit, ya? Gara-gara, Daisha, ya?" tanyanya dengan rasa bersalah.
"Eh, kata siapa ini gara-gara Daisha? Enggak, kok. Emang Mami aja yang lemah, naik itu aja gak bisa. Kalah sama Daisha," jelasku menoel hidungnya.
"Tapi, kalo tadi Daisha gak ajak Mami naik itu. Pasti Mami gak akan jadi sakit kayak gini."
"Sut ... kamu gak salah, Sayang. Gak ada yang salah, kok." Kupeluk Daisha agar merasa tenang, matanya sudah berkaca-kaca sebab merasa bersalah.
Sekitar setengah jam memilih istirahat, kami akhirnya melanjutkan perjalanan menyusuri pasar malam di kota ini.
"Kau yakin, Azal? Mending, kita pulang aja, yuk!" ajak Pak Raditya yang dari tadi khawatir padaku.
"Iya, Mi. Kita gak usah ke sini lagi, tempat ini cuma buat Mami sakit!" timpal Daisha memajukan bibirnya kesal.
Aku hanya tertawa dan menggelengkan kepala, mereka mengajakku untuk pulang sedari tadi dan melarang untuk kembali jalan-jalan menyusuri pasar malam ini.
Namun, bukankah ke sini adalah keinginan Daisha? Dia sangat ingin melihat-lihat di pasar malam itu ada apa saja.
"Pak, yuk, kita beli bajunya," ajakku berjalan ke arah bazar baju-baju yang terjejer.
Ia mengangguk dan kami berjalan ke arah bazar itu, mataku seketika terbuka lebar melihat betapa banyaknya baju kaos yang di motif.
"Pak, ini motifnya dibuat sendiri?" tanyaku berhenti di salah satu penjual baju yang mencuri pandanganku.
"Iya, Mbak. Buat sendiri," jawab pedagangnya dengan ramah.
"Motifnya gak akan hilang gitu, 'kan Pak?"
"Aman Mbak, gak akan hilang atau berkurang, kok," papar penjual yang sebenarnya aku ragu karena sepertinya akan cepat hilang kaos motifnya itu.
"Di mana ada kolam berenang Pak?" sambung penjual membuat aku melihat ke arahnya lalu ke Pak Raditya padahal sebelumnya melihat motif baju.
"Oh, ini. Hujan lokal," kata Pak Raditya dengan datar melihat ke arahku.
Sebenarnya, aku ingin tertawa mendengar perkataannya tadi. Namun, sangat tidak sopan jika itu kulakukan karena dia seperti itu gara-gara aku.
"Pak, coba yang itu," ungkapku menunjuk ke salah satu baju kepada pedagang tersebut.
"Ini Mbak?" Ia menyerahkan baju kaos berwarna hitam dengan motif simple. Ya, setidaknya jika ia tidak suka pada akhirnya juga tidak masalah.
__ADS_1
Asalkan, malam ini ia bisa ganti pakaian terlebih dahulu. Daripada pulang dengan keadaan baju yang basah seperti itu.
"Pak, cobain!" terangku memberikan kaos tersebut pada Pak Raditya.
"Bagus, Pi!" puji Daisha pada pilihanku itu.
"Bagus, 'kan, Sayang?" tanyaku kembali pada Daisha bahwa pilihanku tidak salah.
"Iya, bagus, Mi," jawab Daisha mendongak melihat ke arahku.
"Aku coba dulu," jelas Pak Raditya dan berjalan menuju ke ruang ganti yang ada.
Kami menunggu Pak Raditya di depan penjual kaos tadi sambil melihat-lihat permainan juga suasana yang ada.
"Suaminya, ya, Mbak?" tanya penjual kaos padaku.
"Ha? Bukan Pak," jawabku dengan cepat.
"Oh, saya kirain suaminya. Cocok soalnya," tutur penjual kaos padaku membuat aku tersenyum simpul menanggapi ucapannya barusan.
"Bagus, gak?" tanya suara bariton dari belakang. Aku dan Daisha langsung melihat ke arah sumber suara tersebut.
Pak Raditya tengah mencoba menyamankan baju itu di tubuhnya yang bisa terbilang kekar karena memang dia lumayan sering gym.
Ia yang biasanya kulihat menggunakan kemeja panjang dan menutupi lengannya, baru melihat bahwa ia punya otot yang cukup gede.
"Bagus, Pak," jawabku mencoba mengendalikan diri.
"Masa, sih?" tanyanya melihat ke arah kaos.
"Pak Raditya nyaman atau enggak?"
"Ya ... lumayanlah, sampai kita pulang nanti."
"Yaudah, ambil aja."
"Berapa Pak?" sambungku menatap ke arah penjual dan ingin mengambil dompet.
"Makasih Pak," potong Pak Raditya menyerahkan uang selembar merah pada pedagang.
"Pak ... masih ada sisanya ini."
"Ambil aja, saya boleh minta kantong plastik untuk baju saya ini?" tanya Pak Raditya sambil memasukkan dompetnya ke dalam saku celana.
"Ini boleh, Pak boleh banget!" seru penjual memberikan plastik dengan semangat ke arah Pak Raditya.
"Saya doakan, semoga Bapak dan Mbaknya segera menikah, ya. Cocok banget soalnya," sambungnya kembali mendoakan kami membuat aku kaget dengan ucapannya itu.
__ADS_1
"Aamiin," celetuk Daisha yang membuatku semakin kaget.