(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Bertemu


__ADS_3

Aku hari ini benar-benar menghindari Buk Clara, bahkan keluar dari kelas terakhir dengan berlari agar dia tidak tahu mobilku yang mana.


Membelah jalanan menuju sekolah Daisha, Mama sudah menyuruhku untuk pulang. Tapi, aku masih belum bisa melakukan hal tersebut.


"Mami, kita jadi tempat nenek?" tanya Daisha yang bermaksud Mamaku.


"Enggak deh, Sayang. Soalnya, Mami juga diajak sama Mamanya Papi tadi."


"Kita, gak jadi ke tempat nenek dong?"


"Lain kali aja, ya," bujukku dengan mengusap kepala Daisha.


Mobil kulajukan menuju rumah, sampai di rumah. Mobil sudah bertambah satu entah milik siapa, aku dan Daisha masuk tak lupa mengucapkan salam.


"Eh, kalian udah pulang?" sapa Mama Pak Raditya.


"Di depan mobil siapa Tante?"


"Oh, itu mobil Tante dan Om. Emang sengaja dibawa ke sini."


"Lah, emang Om dan Tante sebelumnya tinggal di mana?"


"Kita juga tinggal di sekitar sini cuma beda komplek doang. Kebetulan kemarin kita baru pulang dari luar negri.


Karena gak tau kalo ternyata Daisha udah punya pengasuh, jadinya langsung ke sini biar Daisha punya temen.


Sampe belum sempat pulang ke rumah buat bawa mobil ke sini."


Aku mengangguk paham, ternyata orang tua Pak Raditya bukan tinggal di luar negri. Ya, setidaknya satu per satu hal yang ingin kuketahui bisa terjawab juga.


"Nenek, Daisha ganti baju dulu, ya!" pamit Daisha dan diangguki oleh neneknya.


"Oh, iya, saya juga, ya, Tante. Pamit mau ganti baju."


"Yaudah, sekalian kamu mandi dan siap-siap, ya."


"Lah, bukannya acaranya sore, ya, Tante?"


"Kita harus ke salon dulu dong."


"Mm ... baik Tante."


"Eh, jangan panggil saya Tante. Panggil aja Mama kayak Raditya manggil saya."


"Gak papa emangnya saya manggil begitu?" tanyaku menaikkan satu alis.

__ADS_1


"Ya, gak papa dong," ujarnya dengan mengusap bahuku.


Jujur, perlakuan Mama Pak Raditya jauh lebih hangat daripada kemarin. Entah apa sebabnya. Hanya saja, aku lebih menyukai yang sekarang.


Kami bertiga masuk ke dalam mall dan salon yang ada di dalamnya, aku menunggu di dekat kasir membiarkan Mama bercerita dengan salah satu orang yang mungkin pemilik salon ini.


"Jadi, ini yang mau di make-up?" tanyanya padaku saat mereka berdua sudah sampai di hadapanku juga Daisha.


"Sebenarnya pengen sekalian di salon, cuma karena dia pake kerudung juga. Gak mungkin dibuka di sini, keliatan nanti sama orang-orang," jawab Mama dengan tersenyum sedangkan aku hanya mencoba menampilkan senyum meski tak paham dengan apa yang mereka maksud.


"Ayo, ikut sama saya."


"Kamu di sini dulu, ya. Mama mau beli pakaian juga peralatan yang lain. Daisha biar ikut sama Mama aja."


Aku mengangguk menyetujui hal tersebut, ikut dengan pemilik salon ini ke ruangannya.


"Kamu menantu barunya jeng Dela, ya?"


"B-bukan Tante."


"Oh, bukan. Saya kirain anaknya itu udah bisa move-on dari masa lalunya itu, ya, tapi gimana mau bisa move-on orang mantan istrinya itu cantik dan pinter banget juga."


"Emangnya, mereka sering ke sini dulu, ya, Tante?"


"Iya, saya ini udah jadi tempat langganan salon mereka dari lama. Bahkan, sampe Raditya punya pacar dan nikah."


"Katanya, sih, dia masih mau ngejar karir dan belum mau diberatkan dengan urusan rumah tangga.


Padahal, Raditya juga kaya. Pasti bisa sewa baby sister juga pembantu. Dia gak akan kecapean dan masih bisa mengejar karirnya, kok.


Emang dasar jadi cewek aja yang gak bersyukur, udah punya suami kaya dan ganteng. Mertua baik, anak yang pinter ada aja alasan pengen minta cerai."


Diam dan menyimak apa yang diucapkan oleh pemilik salon ini, pantasan Pak Raditya tadi tak bisa kusuruh ke kampus untuk berkata pada Clara agar jangan menggangguku.


Ternyata, dirinya masih tak bisa move-on dari mantan istrinya tersebut. Tapi, memang benar bahwa Clara adalah wanita yang cantik.


Jadi, tak heran jika Pak Raditya susah untuk move-on darinya.


"Eh, kamu apanya mereka? Saya belum pernah liat kamu dibawa ke sini sebelumnya."


"Saya pengasuh Daisha kebetulan Tan."


"Oh ... cuma pengasuh," sinis wanita ini.


Ingin sekali rasanya aku marah dan tak terima ketika orang-orang tahu profesiku, serendah itukah seorang pengasuh/baby sister?

__ADS_1


Tak lama, Mama datang dengan Daisha membawa paparbag yang penuh di tangannya.


"Nih, kamu pakai baju dan lain-lain yang ada di dalam situ. Nanti kalo urusan kerudung, biar Tante ini yang bantu benerin."


Aku mengangguk dan langsung masuk ke ruangan yang ada, bukan ruang ganti melainkan ruang istirahat pekerjanya yang kebetulan lagi kosong.


Ada dres berwarna salem, tak lupa hels dengan hak yang mungkin hanya 5 inc. Aku lansung memakai barang yang dibelikan tadi.


Kulihat make-up yang dipakaikan oleh teman Mama tadi, ada beberapa bagian yang kurasa harus ditambahi dan di kurangi.


Keluar dari ruangan dan menuju meja rias tadi, aku duduk dan menambahkan beberapa produk di pipiku.


Kulihat mereka hanya memperhatikan aku dengan seksama di sofa yang ada di belakang meja rias ini.


Bibir yang hanya merah polos pun kuhapus habis, kuberikan ombre agar lebih kekinian. Sebenarnya, lebih cantik jika menggunakan lips korean.


Hanya saja, kulihat di meja ini tak ada produk yang bisa membuat bibirku seperti itu. Aku menjauh dari meja rias dan menghadap ke arah mereka bertiga.


Memperlihatkan penampilanku yang kurasa sudah jauh lebih baik dari pada yang tadi.


"Gimana, Ma?" tanyaku meminta pendapat.


"Coba mutar," titah Mama dan langsung kuturuti. Aku berputar untuk memperlihatkan bagian belakang dari gaun ini.


"Bagus banget, yuk, kita langsung pergi!" ajak Mama dengan bangkit dari sofa.


Ia membayar make-up tadi, barang milikku kami antar terlebih dahulu ke mobil dan langsung berjalan menuju lantai 3.


Aku menggenggam tangan Daisha yang menatap diriku berkali-kali, "Apa apa, Sayang?" tanyaku mengusap kepalanya.


"Mami cantik banget," puji Daisha membuatku menahan senyum.


"Terima kasih Sayang."


Kami sampai di tempat yang diajak Mama, dua orang sudah duduk di meja tersebut dengan membelakangi kami.


"Sorry, kami telat," ucap Mama dengan tak ramah membuat aku curiga.


'Kok wajah Mama begitu, bukannya lagi ketemu sama temen sosialitanya ini?' batinku yang mulai deg-degan bersamaan dengan memutarnya tubuh kedua orang tersebut.


Mataku membulat kaget ketika melihat siapa yang ternyata sekarang tengah berdiri di hadapan kami.


Clara dan Mamanya berada di hadapanku sekarang, sekeras mungkin aku menghindari dirinya tadi di kampus.


Ternyata, aku malah bertemu dengannya di tempat seperti ini. Daisha refleks memeluk kakiku saat melihat ada Mama Clara di situ.

__ADS_1


"Maaf, ada pekerjaan yang tidak bisa saya tunda tadi," suara bariton terdengar yang tak asing membuat aku menatap ke arah tersebut.


Pak Raditya juga ada di sini, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semuanya dikumpulkan di sini?


__ADS_2