(Bukan) Pengasuh Biasa

(Bukan) Pengasuh Biasa
Gara-gara Ayah Ayam


__ADS_3

"Yee ... tidur sama Mami!"


"Tidur sama Tante!"


Jam 9 malam, aku dan kedua bocil pamit masuk ke kamar lebih dulu. Niat kami untuk pergi ke luar negri ketemu sama Mama dan Papa Pak Raditya di sana tidak jadi.


Karena kata Mama, akan ada urusan lain yang membuat Mama serta Papa pergi ke negara lainnya.


Ya ... aku, sih, tak mengapa. Hanya saja, tak mungkin seorang menantu tidak berkunjung ke rumah mertuanya.


Setidaknya, kali ini aku berkunjung dengan status yang berbeda. Bukan lagi seorang pengasuh Disha melainkan menantunya.


"Nanti pagi, kita perginya bareng-bareng, ya!" ajak Dara pada Daisha sedangkan aku menyiapkan kamarku ini.


"Iya, dong. Dara juga nanti kita pulangnya sama-sama, kita harus jadi teman yang baik, ya."


Dara mengangguk sedangkan aku hanya bisa menahan senyum mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Sudah selesai, silahkan tidur para tuan putri," pujiku pada mereka yang tadi duduk di sofa.


Mereka bangkit dan menaiki ranjang, "Tante, bacain cerita dong," pinta Dara menatap wajahku.


"Bukunya mana?" tanyaku sambil mengadahkan tangan ke arahnya.


"Ya ... gak ada, cerita terserah Tante aja," suruh Dara kembali sedangkan aku menatap sekitar kamar berharap ada ide yang nyempil tentang dongeng-dongeng.


"Assalamualaikum, dah pada tidur, ya?" salam Pak Raditya yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Waalaikumsalam, nah, itu ada Om yang datang. Sama Om aja, minta diceritain, ya," titahku pada mereka.


Syukurnya, mereka mengangguk dan setuju dengan ucapanku. Pak Raditya menutup pintu dan melangkah mendekat ke arah ranjang.


"Kenapa pada belum tidur? Besok, 'kan harus sekolah," ujar Pak Raditya dan duduk di depanku.


"Om, ceritain dongeng sebelum tidur, dong," pinta Dara kembali. Padahal, biasanya Dara tak pernah seperti ini.


Karena, aku sudah berapa kali tidur dengannya dan tak pernah tuh ia bertingkah semanja ini. Apakah ia tahu kalau aku pasti gak akan pernah mau mendongeng untuknya.


"Oke-oke, sekarang kalian rebahan dulu biar Om kasih dongeng untuk kalian," perintah Pak Raditya yang langsung membuat mereka gembira bahagia.


Beruntungnya, kasurnya terbilang besar dan tubuh kami cukup mungil kecuali Pak Raditya. Badannya sungguh besar, ya, namanya juga laki-laki pasti lebih besar dari wanita, 'kan? Apalagi ia rajin gym.


Aku pun tak mau ketinggalan, ikut rebahan juga seperti Dara dan Daisha menanti dongeng yang pastinya tidak jelas dari Pak Raditya.

__ADS_1


"Kau kenapa ikut baring Azal?" tanya Pak Raditya menautkan alis menatapku.


"Ya ... saya juga mau tidur Pak," jawabku seadanya.


"Jangan, nanti dulu," larangnya.


"Kenapa? Saya udah ngantuk, ih. Bapak mau ngomong apaan?"


"Ya, gak sekarang juga. Mereka masih bangun itu," gerutu Pak Raditya menunjuk ke arah mereka berdua yang masih menanti dogengnya.


Aku akhirnya mengikuti apa katanya, hanya menyandarkan tubuh sedangkan kedua orang tadi sudah mulai menutup matanya.


Alisku tertaut saat mendengar dongeng yang sama sekali tak masuk di akal-ku, "Mana ada Ayah Ayam, yang ada cuma ibunya doang kali Pak," protesku saat katanya anak ayam bermain dengan ayahnya.


"Jadi kalau gak ada ayah ayam, gimana caranya ada anak ayam itu?"


"Bapak emang pernah liat ayah ayam, ha? Yang ada, ya, anak ayam tuh ke mana-mana sama ibunya kagak pernah tuh sama ayahnya."


"Tapi, ayahnya ada, 'kan?"


"Ada, tapi mereka gak sampe tuh main bareng."


"Gak semua jantan itu sama."


"Eits ... tunggu, dulu! Kan, belum saya suruh kau buat tidur Azal," larang Pak Raditya dan menarik tanganku.


"Ada apaan emangnya, sih, Pak? Saya dah ngantuk ini," keluhku kembali menyandarkan punggung dan duduk.


Ia merogoh kantongnya dan menunjukkan sesuatu untukku, "Kado dari Mama dan Papa," katanya menyerahkan sesuatu padaku.


Kuambil dan kubuka kertas bergulungan dengan pinta merah, "Bali? Mau ngapain ke Bali?" tanyaku saat melihat tiket untuk dua orang ke Bali.


"Nyari ayahnya ayam," celetuk Pak Raditya yang kesal padaku dengan wajahnya datar mampu membuat aku tertawa.


"Lagian, kau aneh banget Azal. Ya ... kita jalan-jalanlah di sana. Kita, 'kan belum pernah jalan-jalan yang emang bener-bener berdua," jelas Pak Raditya dengan suara pelan.


"Yakin, cuma jalan-jalan?" tanyaku menaikkan sebelah alis tak percaya dengan apa yang dia katakan. Apalagi ketika teman Pak Raditya berucap tadi siap pas resepsi padaku.


Flashback on ....


"Selamat, ya, Ana ... ternyata bener, 'kan kamu jodoh sama Raditya. Tenang aja, dia baik banget, kok. Sangat baik dan romantis, cuma itu ...," ucap Pak Arka, "udah lama gak dibelai, awas aja ganas ntar tuh orang." Sontak saja ucapannya itu membuat aku seketika menegang dan mematung dengan mata yang membulat.


Pak Raditya yang melihat tapi tak dengar apa yang dikatakan Pak Arka langsung nyolot, "Lu bilang apaan sama dia woy? Kenapa jadi begini istri gue, ha?"

__ADS_1


"Hahaha, hati-hati, ya, Azal," pesannya dan turun dari panggung bersama dengan istri dan anaknya.


Flashback off ....


"Ya, iya. Emang apalagi?" tanya Pak Raditya dengan wajah polosnya.


Kutatap dengan tajam setiap inc wajahnya, mencari kebohongan dari ekspresinya ini.


"Arka ngomong apa emangnya sampe kamu gak percaya gini sama saya, ha?"


"Enggak, dia gak ngomong apa-apa. Udah, deh, saya mau tidur dulu, ya, Pak," pamitku lebih dulu tidur dan membelakangi Pak Raditya.


"Jangan peluk-peluk!" sambungku kembali mengancam dirinya.


"Ngapain nikah kalo gini? Sama aja nikah atau nge-duda, sama-sama kesepian," gumam Pak Raditya yang langsung membuatku membalikkan badan.


"Apanya yang kesepian? Sampe ranjang gak muat gini dibilang kesepian? Banyak gini temen tidur," kataku padanya.


"Yaudah-yaudah, selamat tidur Sayang. Muach." Pak Raditya mencium pipiku begitu saja dan tanpa merasa bersalah langsung menutup matanya.


Ya ... ngapain juga sih dia ngerasa bersalah, orang yang dia cium istrinya sendiri. Cuma, 'kan tetap saja ... arkkk menyebalkan! Mana aku belum siap-siap menerima ciumannya itu pula, eh!


"Azal ...."


"Sayang ...."


"Ana ...."


Beberapa kali tanganku di goyang dan di pukul pelan membuat aku terusik dari tidur, kubuka mata dan menatap ke arah depan.


"Apa Pak?" tanyaku saat Pak Raditya yang membanguniku di jam ... 12 malam?


"Pak, ini jam 12 malam, lho. Kenapa?" sambungku setelah melihat jam dinding.


"Anu ... saya udah gak tahan Ana, mau anu ...," katanya dengan terbata-bata.


"Anu? Anu apaan?" tanyaku yang tak paham dengan maksudnya.


"Anu pokoknya, udah temenin saya, ayo! Saya udah gak tahan ini, gak bisa tidur nanti saya besok ada urusan lain juga."


Ia bangkit dan memegang tanganku, tanpa aku sadari ternyata aku tidur dengan menggunakan kerudung.


Akhirnya, hanya mengikuti ke mana ia membawa aku di tengah malam ini saat keadaan rumah sudah sangat sunyi.

__ADS_1


__ADS_2