
Drerttttt..
Dor..
Dor..
Suara tembakan telah memenuhi seluruh ruangan rumah Antonio dan Isabella, sepasang suami istri itu telah bersembunyi di tempat yang aman, saat beberapa kelompok telah saling menyerang.
Seluruh anak buah Isabella telah memakai rompi anti peluru, Bahkan mereka telah mempersiapkan seluruh senjata dengan sangat baik. Sedangkan para polisi yang berada di luar kediaman Antonio mereka langsung bergerak dan memberikan perlawanan kepada anak buah Aslan.
"Jangan sampai pria itu lolos!" seru kepala polisi Paris yang telah menyergap seluruh anak buah Aslan yang ada di kediaman Isabella. nampak para polisi telah menggunakan perlengkapan kebesaran mereka.
Duara tembakan terus mengalun, Isabella menatap pria itu dari sela-sela penyangga rumahnya.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, karma akan dibayar lunas. Aku akan memberikanmu kematian yang sangat menyakitkan, sama sepertimu yang selalu memberikan kepahitan di dalam hidupku." ucap Isabella yang kemudian mengeluarkan pistolnya dan memasang alat peredam di pistol tersebut.
Dor...
Zlepp..
Dor..
Zlepp..
Satu tembakan meleset, Isabella terus memberikan tembakan kedua. wanita itu berhasil memberikan tembakan yang langsung mengenai lutut dan leher Aslan.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup setelah kau memberikan aku kematian yang berulang kali." ucap Isabella.
"Kita harus segera pergi istriku, lihatlah pria itu sudah terluka parah." ucap Antonio yang kemudian menyeret tubuh sang istri untuk pergi meninggalkan kediaman mereka.
Para polisi yang berjumlah begitu banyak dengan mudah meringkus kelompok Aslan, sedangkan anak buah Isabella mereka hanya berjumlah sekitar 80 atau 90 orang saja.
Khekk..
Mulut Aslan telah mengeluarkan darah, saat 4 peluru yang menembus tubuhnya membuat pria itu harus tersungkur di tanah.
Nafasnya begitu memburu, saat rasa sakit itu telah menggerogoti tubuhnya. tangannya tidak bisa digerakkan.. Isabella turun dari tangga rumahnya mendekati Aslan yang sudah terkapar di lantai dengan kondisi tubuh yang telah bersimbah darah.
"Bagaimana rasanya, Apakah begitu menyakitkan?" tanya Isabella kepada Aslan. nampak pria itu telah sekarat.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan begitu mudah, akan ku buat kau menderita sama sepertiku dan suamiku yang selalu kau buat menderita." ucap Isabella.
Isabella tersenyum saat melihat Aslan terus menatapnya. pria itu mengulurkan tangannya seolah dia hendak meminta maaf kepada Isabella disela-sela nyawanya yang akan melayang.
"Aku tidak akan membuatmu menderita dan aku tidak akan membiarkanmu merasakan kematian yang sangat mudah seperti ini." ucap Isabella yang kemudian meminta salah satu polisi untuk membawa Aslan ke rumah sakit.
"Apa yang kau lakukan istriku?" tanya Antonio kepada Isabella.
"Aku ingin dia merasakan sakit yang sama dengan sakit yang kita rasakan, Aku tidak akan membiarkan pria itu merasakan kesakitan Yang sebentar." jawab Isabella.
Antonio sangat mengerti Bagaimana dendam yang dimiliki oleh istrinya itu.
"Aku serahkan semuanya padamu, istriku." ucap Antonio yang kemudian memberikan pelukan hangat kepada sang istri. dia berharap hati istrinya itu akan sedikit menghangat dan emosinya akan sedikit melebur.
__ADS_1
"Tangkap mereka!" seru para polisi yang menangkap beberapa anak buah Aslan yang masih hidup.
Begitu banyak anak buah Aslan yang meregang nyawa dengan cara yang begitu mengenaskan, diberondong peluru dari anak buah Isabella dan para polisi. dari ratusan anak buah hanya tersisa sekitar 20 saja.
Para polisi memang telah mengincar bandar narkoba dan pembisnis trafficking penjualan manusia itu.
"Terima kasih atas kerjasamanya." ucap kepala polisi yang menjabat tangan Isabella.
"Sama-sama, Tuan. Terima kasih juga karena anda telah memberikan bantuan kepada kami." ucap Isabella.
"Aku akan sering meminta bantuan kepadamu mengenai para penjahat yang terus meneror para pemuda, agar masa depan mereka hancur." ucap kepala polisi Maxim.
"Tenang saja, Tuan. Aku akan memberikanmu kabar yang begitu kau inginkan." jawab Isabella yang kemudian meminta seluruh anak buahnya untuk membersihkan kediamannya.
"Lebih baik kita tidur di hotel saja, istriku. biarkan para pembantu dan anak buah kita untuk membersihkan mension ini. karena aku yakin kau tidak akan suka dengan bau amis darah." ucap Antonio yang kemudian memberikan jasnya kepada sang istri.
"Terserah padamu, suamiku. Kalau kau mau kita tidur di hotel lebih baik ke sana, Kalau tidak kita masih mempunyai rumah kecil yang berada di pegunungan itu." ucap Isabella yang membuat Antonio tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, aku akan meminta sopir untuk mengantar kita ke rumah pedesaan itu. aku ingin dirimu membebaskan seluruh pikiran yang selama ini membelenggu mu." ucap Antonio yang kemudian memberikan ciuman di pipi sang istri.
Akhirnya suami istri itu sepakat untuk berada di pedesaan yang berada di Paris, Mereka ingin mengistirahatkan seluruh kejenuhan pikiran mereka. apalagi tragedi yang terjadi hari ini membuat Isabella mengalami kelainan mental yang membuat hatinya Semakin menjadi batu.
"Apakah kau ingin berbulan madu lagi?" tanya Antonio kepada sang istri.
"Kita berbulan madu di desa itu saja." Jawab Isabella yang kemudian memeluk tubuh Sang suami yang berada di kursi mobil.
"Aku begitu mencintaimu, istriku." ucap Antonio yang memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat. pria itu sangat ketakutan saat Aslan dan anak buahnya menyerang kediamannya.
__ADS_1
** bersambung **