
"Aaaa!!" suara teriakan antonium menggema di seluruh kantornya hingga membuat pria itu langsung memporak-porandakan segala sesuatu yang ada di kantornya. "Aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku!!" seru Antonio. nampak pria itu sangat kesal saat mengetahui Bella bersama dengan Aslan.
"Ada apa denganmu Anton!!" seru Paman Ridwan yang melihat kantor Antonio sudah berantakan seperti habis terkena gempa bumi.
"Berani sekali Gadis itu bersama dengan Aslan!!" seru Antonio.
Paman Ridwan sangat tersentak dan kaget saat mendengar keponakannya itu terus mengoceh tidak karuan.
"Apa yang membuatmu kesal?" tanya Paman Ridwan.
*Apa maksud paman? Apakah Paman tidak melihat kelakuan wanita itu!!" seru Antonio.
"Maksudmu Bella yang bekerja dengan Aslan," ucap Paman Ridwan.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengetahui masalah ini!!" seru Antonio dengan nada suara yang menggebu-gebu.
"Mengapa kau harus marah seperti ini, Anton. biarkan saja Gadis itu bekerja di bawah naungan Aslan," jawab Paman Ridwan.
"Apa maksud Paman, wanita itu masih belum melunasi semua hutang-hutangnya," jawab Antonio.
__ADS_1
"Yang aku dengar Aslan bersedia untuk melunasi semua hutang-hutang yang dimiliki oleh Bella," jawab paman Ridwan.
"Aku tidak Sudi menerima uang dari orang lain, selain wanita itu. karena dialah yang berhutang!!" seru Antonio.
Nampak Paman Ridwan memutar bola matanya sambil menghela nafasnya secara kasar.
"Yang berhutang kan bukan Bella, Anton. yang berhutang adalah orang tuanya. Lalu Mengapa Gadis itu yang harus melunasinya, bahkan Gadis itu tidak tahu menahu mengenai hutang-hutang kedua orang tuanya," sangkal Paman Ridwan kepada Antonia.
"Jangan membela wanita itu, Paman!!" seru Antonio.
"Aku tidak sedang membela, Bella. namun aku sudah mengatakan kebenaran padamu, kalau Gadis itu bukan yang berhutang," jawab Paman Ridwan.
"Mengapa aku sampai kecolongan," ucap Antonio.
"Lebih baik kau pulang saja, karena kalau kau memaksakan diri bisa-bisa kau malah sakit. lalu kalau kau sakit siapa yang merawatmu? sedangkan Bella sudah diambil oleh Aslan," ucap Paman Ridwan yang yang membuat Antonio bertambah kesal..
"Sebaiknya Paman keluar dari kantorku, karena Paman membuatku semakin kesal saja," Jawab Antonio. Paman Ridwan nampak tersenyum dengan semua kata-kata dan kekesalan yang dikeluarkan oleh keponakannya itu.
"Ya sudah.. kalau begitu kalau kau nanti pulang kabari aku, karena Paman akan keluar untuk melihat beberapa tempat untuk di dijadikan lahan Mall," jawab Paman Ridwan.
Tak lama kemudian Paman Ridwan meninggalkan Antonio.
__ADS_1
"Mengapa pria tua itu selalu membuatku kesal saja," gerutu Antonio.
Sedangkan Antonio yang sedang berguman tidak karuan karena kesal melihat Bella bersama dengan Aslan. di lain tempat nampak Bella sedang bahagia karena Aslan telah memberikan dia kepercayaan untuk menjadi sekretaris pribadinya.
"Apakah kau sudah bisa mengoperasikan laptop ini?" tanya Aslan kepada Bella. Bella menganggukkan kepalanya.
"Sudah," jawab Bella.
Hati Aslan sangat berbunga-bunga, karena sekarang Bella sudah bisa bersamanya. pria itu tidak pernah merasakan debaran hati seperti ini bersama wanita lain.
"Oh ya Bella, nanti kau ikut aku untuk melakukan meeting bersama perusahaan Jerman," ucap Aslan kepada Bella.
"Tapi, saya tidak bisa berbahasa Inggris pak," ucap Bella.
"Tidak usah dipikirkan, nanti aku yang akan berbicara. kau tinggal mencatat apa saja yang yang kita bicarakan," jawab Aslan.
Hari berganti Hari, Aslan terus membuat Bella semakin dekat dengannya. bahkan pria itu tidak segan-segan memberi Bella sebuah rumah di dekat rumah neneknya. walaupun rumah itu tidak besar, namun Bella sangat menyukai rumah mungil yang diberikan oleh Aslan untuk ditempati olehnya dan Lila.
"Mengapa Aslan mengajak Bella ke tempat ini?" ucap Antonio saat melihat Bella bersama Aslan di ruang rapat. tatapan mata Antonio tidak terlepas dari Bella, bahkan pria itu terus menatap Bella dengan tatapan yang sangat menakutkan.
** bersambung **
__ADS_1