AKU MENCINTAI ISTRI KONTRAK KU

AKU MENCINTAI ISTRI KONTRAK KU
Merasakan rasa itu


__ADS_3

Bersama atau tidak.. Namun semua itu seperti sebuah pukulan telak bagi Antonio.


Di depan matanya, Aslan menggendong Bella. Pria itu begitu murka, ingin sekali dia menghajar Aslan di depan orang banyak.


Antonio tidak melakukan hal itu, karena dia merasa hal itu tidak diperlukan. pria itu menunggu Bella di rumahnya, langkah kakinya terus berputar seolah dia sedang menunggu sesuatu. Terlihat Antonio mondar-mandir tidak karuan, matanya terus menatap pintu rumahnya.


"Kalau dia berani tidak pulang, maka lihat saja!" seru Antonio.


Saat mendengar suara teriakan itu, terlihat Paman Ridwan tersenyum. Karena dia merasa kalau kemenangan berada di pihaknya.


"Aku senang, kalau kau seperti orang gila seperti ini. Karena kau sangat bangga sekali dengan dirimu sendiri, bahkan kau menolak untuk menerima perasaanmu terhadap Bella. Lihatlah di depan matamu.. istrimu itu diambil orang, kalau aku bisa mengatakannya, pasti aku akan bersorak di depanmu saat di perusahaan." guman Paman Ridwan. Saat melihat Antonio mondar-mandir Di ruang tamunya.


Terlihat Antonio menunggu Bella, langkah kakinya tidak berhenti, dia terus mondar-mandir 5 menit, 10 menit, satu jam, dua jam. Antonio tetap mondar-mandir seperti orang gila.


Dalam hati paman Ridwan, pria tua itu bersorak gembira. Karena baru saat ini, keponakannya itu bisa merasakan kegalauan kepada seorang wanita. Apalagi lagi Rivalnya adalah seorang pengusaha yang seumuran dengannya, dan juga sama-sama memiliki kekuasaan yang besar di dunia bisnis.


Antonio tidak ingin gegabah dalam melakukan sesuatu. Namun kegalauan hatinya seolah menandakan, Kalau pria itu tidak bisa menerima dirinya yang sudah mencintai Bella. hingga malam datang Antonio tetap menunggu Bella di ruang tamu.


Entah berapa kopi yang dihabiskan, walau terkadang.. saat meminum kopi, pria itu berdetak tidak karuan. Karena kesal dengan rasa kopi yang dibuat oleh pembantunya.1 tahun lebih bersama Bella, pria itu sudah terbiasa untuk memakan dan meminum buatan Bella.


Hal itu membuatnya seperti seorang pria yang kehilangan sesuatu di dalam dirinya sendiri.


"Mengapa juga aku seperti ini, dia pulang atau tidak kan bukan urusanku," guman Antonio.

__ADS_1


Namun sesaat kemudian, dia kembali berguman tidak karuan.


"Enak saja, aku sudah menikahinya. Kenapa aku harus melepaskannya," gerutu Antonio kembali.


Anthonio menghela nafasnya secara kasar, percuma dia bergumam tidak karuan. Karena pria itu juga tidak akan mungkin untuk mengatakan perasaannya di depan orang banyak. atau mengakui Bella sebagai istrinya. Anthonio tidak tahu, kalau Aslan sudah mengetahui rahasia mengenai pernikahan kontraknya.


"Dibawah kemana Gadis itu, oleh Aslan? Apakah mereka melakukan sesuatu," guman Antonio.


"Mereka tidak mungkin melakukan hal itu, temannya kan bersamanya?" ucap Antonio kembali.


Terlihat pria itu berkali-kali menghembuskan nafasnya secara kasar, Antonio bukanlah tipe seorang pria perokok, namun saat itu dia memilih untuk menghabiskan satu bungkus rokok dan beberapa gelas kopi.


Entah berapa gelas kopi di mejanya, namun hingga beberapa gelas. Bella belum juga menampakkan wajahnya.


"Belum," jawab Antonio.


"Ngapain" tanya Paman Ridwan.


"Paman, kenapa belum tidur juga?" tanya Antonio kepada Paman Ridwan.


"Belum, masih melihat acara drama," jawab Paman Ridwan.


"Apa yang Paman lakukan jam segini belum tidur?" tanya Antonio.

__ADS_1


"Kan sudah aku bilang, Paman masih melihat acara drama," jawab Paman Ridwan sambil melirik Antonio.


Sedangkan pria itu nampak tidak mengerti dengan lirikan Pria tua yang ada dihadapannya.


"Sejak kapan paman menyukai acara drama?" tanya Antonio kepada Paman Ridwan.


"Semenjak Beberapa bulan yang lalu," jawab Paman Ridwan.


"Ooo," jawab Antonio.


"Apa yang sedang kau lakukan disini? Apakah kau sedang menunggu Bella?" tanya Paman Ridwan kepada Antonio.


"Kenapa aku harus menunggunya," jawab Antonio sambil memalingkan wajahnya. senyum terlihat di wajah Paman Ridwan,


"Mengapa kau tidak mengerti Kalau Bella adalah wanita yang paling tepat untuk kau jadikan istri. sekarang kau baru merasakan bagaimana rasanya kalau wanita yang Kau cinta diambil orang dihadapanmu," guman Paman Ridwan dalam hati.


"Seharusnya dia pulang Paman, Kenapa dia lebih memilih untuk pergi bersama pria lain!" seru Antonio. terlihat Pria itu menggebrak meja dan tiba-tiba berteriak.


Kemudian dia meninggalkan Paman Ridwan sendiri. Langkah kaki Antonio sangat terburu-buru, nafasnya terasa sesak. Dengan langkah yang lebar Antonio pergi menuju kamarnya.


"Kau akan mati perlahan-lahan Antonio, karena perasaan yang kau pendam dengan sangat kerasnya. Apakah kau tidak ingin merasakan cinta itu, hingga kau membuat dirimu sendiri seperti ini," guman Paman Ridwan.


Kemudian pria itu pergi ke kamarnya sendiri, saat melihat Antonio sudah meninggalkannya. Entah apa yang terjadi, namun hati Antonio serasa disayat oleh ribuan pisau, saat melihat Bella dibawa pergi dari hadapannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2