
"Ibu sudah berapa kali aku katakan, aku tidak akan menikah dengan wanita sembarangan seharusnya kau mengerti apa maksud anakmu ini" datar pangeran sambil fokus membaca suatu gulungan
"Apakah kau serius, kau tidak kasihan pada ibundamu ini?, ibunda juga ingin sekali menggendong cucu" kasihan ibunda ratu
Anming hanya bersikap dingin dan diam mendengar ocehan ibundanya.
"Baiklah jika kau berpikir begitu, ibu akan mencarikanmu banyak selir, kau harus memilihnya sampai saat itu terjadi, kau mengerti" tegas ibunda
"Ibunda sekarang waktunya anda menemui ayahanda dan menemaninya bersantai di pagoda taman, sebaiknya anda segera pergi, maaf aku tidak bisa mengantar" cuek Anming
"Cih, dia berani mengusir ibunda yang telah melahirkannya sendiri"
Ratu pun beranjak pergi dan meninggalkan Anming seorang di perpustakaan itu.
Terlihat seseorang yang sedang mengintip di balik jendela kayu berlapis giok murni itu.
"Keluarlah, jangan membuat masalah" ucap Anming
__ADS_1
"Hehe kakak, bagaimana bisa kau mengetahui aku sedang mengintip, ketelitianmu dalam sekitar sangat tajam" ucap Luo Chun yang keluar dari jendela kayu perlapis giok murni itu
Luo Chun pun melihat di samping kiri di sebelah gucci ada bermacam-macam hadiah.
"Woahh kakak darimana datangnya hadiah-hadiah ini, apakah para gadis-gadis itu yang menghadiahkannya untukmu?" kagum Luo Chun
"Hadiah-hadiah itu diberikan Ayahanda untukku sebagai hadiah karena aku memenangkan perang dengan negara tetangga" cuek Anming
Tiba-tiba ekspresi Luo Chun berubah menjadi sangat marah dan iri.
"Haha baiklah kalau begitu, aku akan keluar sebentar dan bersenang-senang, aku tidak ingin mengganggu kakak yang sedang membaca" Luo Chun beranjak pergi
__________
Dengan keadaan mabuk, Luo Chun mengoceh dan marah-marah tak terkendali.
"Memang sial!, bagaimana Ayahanda begitu sangat tidak adil!, aku juga mengikuti perang itu, bagaimana bisa hanya kakak yang mendapatkan pujian dan hadiah yang begitu banyak!, setiap hari aku harus berpura-pura bahagia seperti orang bodoh!, bagaimana bisa aku hidup dengan tenang!, bahkan dia tidak menggubrisku sama sekali atau bahkan memujiku!" marah Luo Chun dengan keadaan mabuk
__ADS_1
Tiba-tiba datanglah seorang gadis bunga yang duduk menggoda Luo Chun.
"Hallo tuan muda Luo, rendakan emosimu... bagaimana jika kau bermain denganku..." goda wanita bunga itu dengan lembut sambil mengibaskan dengan perlahan kipasnya
"Hahaha, memang rumah bordil adalah tempat yang membuat hatiku sejuk dan tenang untuk sesaat!" ucap Luo Chun
__________
Sekarang di suatu kamar, Yan Xin yang terikat kini sedang berbaring di kasur dengan masih kehabisan aura dan tidak bisa bergerak.
Tiba-tiba pintu itu terbuka dengan seorang tabib yang membawa kotak kayu berisikan obat-obatan.
Tabib itu duduk di bangku kecil dan menghadap di samping Yan Xin.
"Apakah ini gadis yang akan menjadi istri pangeran Anming?, memang dia sangat cantik, tapi apakah pangeran Anming akan setuju, sudah banyak gadis-gadis cantik yang ia tolak" ucap tabib itu
"Aku rasa wanita ini juga hanya penampilannya saja yang cantik, pasti pangeran Anming juga akan membuangnya, tapi aku pernah dengar desas-desus dari para pelayan bahwa pangeran Anming menyukai pria, haishh kenapa aku malah memikirkan hal itu, sekarang aku hanya perlu fokus mengobati gadis ini dan menerima hadiah dari kaisar" ucap tabib itu
__ADS_1
"Apakah yang dia katakan benar!, bagaimana bisa aku menikahi seoarang pangeran Gay!!" Yan Xin berteriak dalam hati