AraDea

AraDea
Part 10 Pernikahan Pandan wangi


__ADS_3

Saat itu juga mereka berdua akhirnya resmi menikah. Di hadapan penghulu pria itu mengucapkan ijab qobul dengan lancar. Hanya saja saat itu penghulu merasa ada yang aneh dengan pria yang akan menikah.


Di saat pria itu tertunduk, Pak penghulu memperhatikan pria itu, lalu tiba-tiba saja wajah pria itu berubah bercahaya, sehingga Pak Penghulu merasa silau pandangannya saat itu.


“Ada apa Pak?” tanya Pandan ingin tau.


“Ah, nggak!” jawab Pak penghulu menutupinya dari Pandan.


Setelah Pandan selesai menikah dengan pria itu, Pak penghulu pun kembali ke kantor tempat dia bertugas. Mesti di dalam hatinya masih menyimpan keraguan, namun penghulu tersebut tak mau berprasangka buruk pada Pandan dan suaminya.


Satu minggu setelah pernikahan Pandan dengan pria itu, maka di laksanakanlah pesta pernikahan mereka.


Betapa terkejutnya seluruh penduduk Desa saat itu, karena Pandan yang terkenal orang paling miskin di Desa itu, mampu mengadakan pesta pernikahan lebih mewah di bandingkan dengan orang paling kaya di Desa nya.


Desas desus pun mulai berkembang di Desa itu, bahwasanya, Pandan di nikahi oleh pria kaya. Pesta pernikahan yang di laksanakan selama tujuh hari tujuh malam itu, menghabiskan begitu banyak biaya, namun pria itu tampak begitu tenang.


Ketampanan suami Pandan tak ada tandingannya di desa itu, semua kaum hawa berdecak kagum memandanginya. begitu juga dengan Pandan, selain memiliki wajah yang cantik, Pandan memiliki satu keistimewaan yang tak dimiliki oleh gadis lain, yaitu aroma tubuhnya sangat wangi.


“Siapa nama suami mu Pandan?” tanya nyai Rumpi, yang berada di sebelah Pandan saat itu.


“Askara, mbok,” jawab Pandan dengan suara lembut.


“Wah, suami mu tampan sekali ya nduk?”


“Ah, apa benar mbok.”


“Iya nduk, nggak ada tandingannya di Desa ini.”


“Ah, si mbok ada-ada saja,” jawab Pandan seraya tertawa kecil.


Di saat Pandan bicara, Askara selalu memperhatikannya, dia selalu memamerkan senyuman yang manisnya itu pada Pandan yang tampak duduk di sampingnya.


Suasana pesta yang meriah membuat Askara menjadi senang, para sinden tampak meliuk-liuk menari di hadapan para penontonnya, suara gamelan yang mengalun di malam ketujuh pernikahan mereka, telah mengusik tidurnya putri kecil Kemuning.


“Owa…owaaa….owaaa…owaaa!”


“Ada apa sayang, kenapa menangis terus?” tanya Kemuning heran.


“Kenapa dia sayang?” tanya Bondan yang saat itu ikut bangun bersama putri kecilnya.

__ADS_1


“Sepertinya ada yang aneh terjadi pada putri kita Mas,” ujar Kemuning, seraya memberinya ASI.


Mesti di beri ASI sampai kenyang, namun Ara tetap saja menangis dan gelisah. Ternyata suara jeritan Ara terdengar jelas hingga ke kerajaan angkara, yang berada di kayangan. Kabut hitam telah menyelimuti kerajaan itu, tanpa di sadari oleh Raja Dasamuka.


Makhluk yang bertubuh besar dan di palut oleh bulu yang sangat lebat itu merasa geram dengan suara tangisan putrinya. Lalu dia menyuruh seluruh dayang kerajaan untuk turun ke Bumi.


Hanya sekejap mata, dayang kerajaan pun tiba ke Bumi, mereka semua merubah wujud menjadi penduduk Desa, setelah seluruh warga Desa mereka sirap, hingga tertidur nyenyak.


“Kemuning! Kemuning! Bangun nak, ada apa? kenapa putrimu menangis terus?”


Mendengar suara ribut-ribut di luar, Bondan langsung bergegas membukakan pintu, ternyata di luar sudah banyak penduduk Desa yang berkumpul.


“Ada apa Bondan, kenapa putri mu menangis terus?” tanya Pak Desa ingin tau.


“Entahlah Pak, saya dan Kemuning juga nggak tau, tapi dia terus saja menangis, mesti Kemuning telah memberinya ASI sampai kenyang.”


“Kalau begitu, sini Ibu gendong,” ujar istri Pak Kades seraya mengambil Ara dari tangan Kemuning.


Di saat itulah, wanita itu menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Ara, agar gadis kecil itu bisa merasa sedikit nyaman dan tenang.”


“Kenapa dengan putri saya Bu Kades?” tanya Kemuning ingin tau.


“Putrimu, hanya masuk angin biasa Kemuning, sebentar lagi juga baikan kok,” jawab Bu Kades dengan suara pelan.


Mesti menaruh rasa curiga, namun Bondan tak memperlihatkannya di hadapan orang banyak, dia keluar rumah dengan membawa dua ceret kopi hangat untuk di minum para warga yang sudah begadang demi putri kecilnya.


“Silahkan di minum kopinya Pak,” ujar Bondan menawarkan kopi buatannya kepada Pak Kades dan seluruh warga yang datang.


Lalu kopi itu pun di tuangkan Bondan kedalam gelas yang telah di susunnya di dalam sebuah nampan.


Setelah menuangkan kopi hangat tersebut, tak begitu lama, Ara pun berhenti menangis. Mendengar putrinya diam, Bondan langsung bergegas masuk kedalam untuk melihat putrinya itu.


Namun ketika Bondan kembali keluar, dia tak melihat Pak Kades lagi.


“Aneh, pada kemana mereka semua ya? kok tiba-tiba saja menghilang?” gumam Bondan pelan.


Merasa ada yang aneh, Bondan pun merinding ketakutan, cepat-cepat di tutupnya pintu depan, dan dia pun langsung meringkuk tidur di dalam kamar.


“Kenapa Mas, kok seperti orang melihat hantu?” tanya Kemuning heran.

__ADS_1


“Kamu tau nggak sayang, ternyata yang datang kerumah kita tadi itu, bukan manusia.”


“Kalau bukan manusia, lalu siapa dong?”


“Mereka semua itu dedemit sayang.”


“Ah, Mas Bondan, kayaknya ngelantur nih.”


“Kok kamu nggak percaya sih?”


“Gimana aku percaya Mas, udah jelas yang menggendong putri kita itu tadi Bu Kades, kok malah di bilang dedemit sih.”


“Jangan-jangan yang menggendong Ara tadi, itu juga Bu Kades palsu.”


“Udahlah Mas, nggak usah terlalu di pikirin, yang terpenting putri kita udah tenang saat ini,” jawab Kemuning seraya menidurkan putrinya tepat di antara mereka berdua.


Hingga pagi menjelang, Ara tak lagi rewel, dia tidur begitu nyenyak sekali. Bondan melihat putrinya tidur dengan lelapnya hatinya pun menjadi tenang.


“Kau telah membuat Papa dan Mama mu cemas semalaman sayang,” ujar Bondan seraya mencium kening putri tercintanya.


Ketika Bondan hendak membuka pintu pagi itu, Bondan melihat semua kopi yang di tuangkannya malam itu, masih terletak di atas nampan, semuanya utuh tanpa ada yang menyentuhnya sama sekali.


Mesti ada perasaan aneh, namun Bondan diam saja. Setelah dia selesai berkemas-kemas, Bondan langsung sarapan bersama istrinya, kemudian dia pun langsung pergi bekerja.


Di perjalanan menuju kantor, Bondan berpapasan dengan Pak Kades, dia pun berhenti dan turun dari kendaraannya.


“Selamat pagi Pak!” ujar Bondan menyapa Pak Kades.


“Selamat Pagi. Eh ada nak Bondan, mau pergi kerja?”


“Iya Pak.”


“Gimana kabar putri mu, dia sehatkan?”


“Alhamdulillah, setelah di gendong oleh Bu Kades tadi malam, Ara udah kembali membaik dan nggak rewel lagi sampai pagi.”


“Maaf, istri saya ke rumahmu tadi malam?”


“Iya Pak, Bapak dan semua warga pada datang kan semalam kerumah?”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2