
Didikan yang diberikan oleh Pandan wangi dan Yeni, sangat berarti sekali bagi Dea, di saat Dea sudah berusia enam tahun dia udah bisa dengan lancar membaca Alquran dan mengerti cara mengerjakan shalat bahkan dia tak pernah meninggalkan shalatnya.
Malam itu, ketika Dea sedang melaksanakan ibadah bersama Mamanya, tiba-tiba saja Dea mendengar bisikan gaib di telinganya. Lalu dengan berkonsentrasi penuh, Dea mendengarkan setiap kalimat yang dibisikkan tersebut.
Dalam perintah yang ditujukan kepadanya dia disuruh ke Nirwana untuk melakukan rapat para petinggi kerajaan.
"Baik, aku akan segera datang," jawab Dea dengan suara pelan.
"Dea sedang bicara dengan siapa Nak?" tanya Pandan wangi pada putrinya.
"Sepertinya ada perintah dari Nirwana untukku Ma," jawab Dea dengan suara lembut.
"Perintah! siapa yang memberi perintah kepadamu sayang?"
"Belum jelas, Ma."
"Apakah kau berangkat ke Nirwana nak?"
"Iya Ma, sepertinya ini perintah langsung dari Papa."
"Benarkah, itu perintah langsung dari Papamu?"
"Sepertinya begitu, Ma."
"Mama nggak akan mengizinkanmu pergi, kalau Mama nggak tahu siapa yang telah memerintahkan kamu ke Nirwana saat ini."
"Baiklah Ma, aku akan bicara dengan Papa," jawab Dea seraya berkonsentrasi penuh menuju Nirwana lewat mata batinnya.
Saat itu, Dea memang melihat, begitu banyak para petinggi kerajaan sedang duduk di sebuah balairung. mereka sepertinya hendak melakukan rapat kerajaan. Di hadapan mereka, telah duduk Askara dengan memakai mahkota kerajaan di kepalanya.
"Benar Ma, ini perintah Papa," jawab Dea.
"Kalau begitu, pergilah. Hati-hati! karena Mama, hanya bisa mendoakan mu dari sini."
"Iya Ma, aku akan ingat selalu pesan Mama."
__ADS_1
Setelah selesai mereka bicara, Dea langsung menghilang dan seketika itu pula, Dea pun tiba di kerajaan Parahyangan.
ketika Dea baru memijakkan kakinya di balairung istana Parahyangan, kehadirannya langsung disambut oleh puluhan dayang istana dan Dea di rias sehingga wajah cantiknya terlihat begitu merona.
Setelah selesai dirias, lalu Dea dipasangkan pakaian kerajaan Parahyangan. Walau Dea masih berusia enam tahun, tapi kehebatan dan kelincahan daya pikirnya melebihi manusia dewasa.
"Ketika pintu gerbang balairung dibuka oleh pengawal istana. Dea langsung masuk ke dalam ruangan itu, dengan diiringi oleh beberapa dayang istana. Para petinggi kerajaan menyambutnya dengan bersujud dihadapan Dea.
Saat para petinggi itu bersujud, menyambut kedatangan Dea. Gadis kecil itu langsung mengangkat tangan kanannya.
Melihat hal itu, seluruh petinggi kerajaan merasa heran, mereka saling beradu pandang satu sama lainnya. Mereka bingung, karena selama ini setiap junjungan mereka yang datang, mereka selalu memberi penghormatan dengan bersujud.
Namun kali ini, Dea tak menginginkannya. Dea melarang seluruh petinggi kerajaan memberi hormat dengan bersujud kepadanya.
"Kalian semua sudah berusia lanjut. Sebagai petinggi kerajaan, saya menghormati kalian semua. Untuk itu, kalian tak perlu bersujud di hadapan saya. karena bukan saya yang menciptakan kalian. Ada Allah yang wajib kalian sembah, karena dialah yang menciptakan seluruh jin yang ada di kerajaan ini."
Mendengar ucapan Dea, para petinggi kerajaan langsung kembali duduk di tempatnya masing-masing. Sementara itu, Askara yang melihat kehadiran putrinya, merasa kebahagiaan tersendiri di hatinya.
Askara begitu senang, karena putrinya tidak sombong dan angkuh, mesti memiliki begitu banyak harta yang melimpah.
Lalu, dia pun menghampiri Askara dan duduk di kursi kerajaan sebagai seorang Ratu.
Dalam rapat kerajaan, saat itu Dea mengeluarkan ide-ide yang cemerlang, untuk melindungi kerajaannya, dari serangan sekelompok klan sesat yang selama ini selalu membuat resah para warganya.
"Wahai putriku Dea Chandra Maya. Hari ini di usiamu yang memasuki tujuh tahun, aku sebagai seorang raja memberi perintah kepadamu untuk mengatur siasat perang serta melatih para prajuritku untuk bertempur di medan perang.
Mendengar perintah sang raja, Dea merasa senang. Karena di usianya yang masih kecil dia sudah dipercaya mengatur pasukan perang kerajaan.
"Baik yang mulia, perintah yang mulia akan saya laksanakan."
"Bagus, bekerjalah dengan bersungguh-sungguh, karena sebagai seorang putri dari kerajaan Parahyangan kau dituntut untuk lebih sigap dan tepat dalam segala hal. Kejeniusan pikiranmu sangat dibutuhkan oleh pasukan kerajaan ini, untuk menyusun siasat perang.
"Baik yang mulia, perintah yang mulia pasti saya laksanakan!"
Setelah acara rapat selesai, seluruh petinggi kerajaan langsung menuju alun-alun. Di sana, mereka melihat para prajurit kerajaan sedang berlatih ilmu kanuragan.
__ADS_1
Seperti prajurit lainnya, Dea juga dikenakan pakaian perang. Dea yang masih berusia tujuh tahun, di kerajaan Nirwana, Dea terlihat begitu lincah dalam memainkan pedangnya dan bahkan dia lebih unggul dari seluruh pelatih prajurit kerajaan.
Semua ilmu yang dimiliki Dea tak ada yang dia tuntut dan dia pelajari. Namun, baik itu ilmu kanuragan, maupun ilmu pedang. Semua sudah tertanam di dirinya, semenjak dia berada di dalam kandungan Pandan wangi.
Sebagai seorang jenderal wanita yang akan menjadi pemimpin di pasukannya nanti. Askara mengajari seluruh ilmu yang dia miliki kepada putrinya.
Di saat mereka berlatih, tiba-tiba seorang prajurit datang menghampiri raja mereka. Saat itu Dea berada di sisi yang mulia raja.
"Ampun paduka, menurut telik sandi kerajaan, ada informasi yang rahasia, yang harus saya sampaikan kepada yang mulia raja."
"Katakan, wahai prajuritku. Informasi rahasia apa yang telah didapatkan oleh telik sandi kita."
"Ampun kan saya yang mulia, menurut informasi yang saya dapat dari kerajaan Angkara, ternyata raja Dasamuka telah menitiskan penerusnya di bumi."
"Apa! benarkah yang kau sampaikan itu wahai prajuritku!" seru Askara dengan nada amarah.
"Ampunkan saya yang mulia, itulah informasi yang didengar dan dilihat oleh telik sandi kerajaan kita."
"Sekarang pergi kalian ke bumi, cari tahu di mana raja Dasamuka telah menitipkan pewarisnya di bumi."
"Baik yang mulia, perintah yang mulia akan segera saya laksanakan," jawab prajurit tersebut, seraya meninggalkan istana Parahyangan.
Setelah prajurit itu pergi, askara tampak marah sekali. Wajahnya memerah, Askara bahkan memukul tiang istana hingga terjadi guncangan yang sangat kuat.
"Tenanglah yang mulia, jika pun raja Dasamuka telah menurunkan titisannya di bumi, aku siap membela kerajaan Nirwana sesuai perintah paduka yang mulia."
"Putriku Dea Chandra Maya. Tugasmu kali ini sangat berat nak. Raja Dasamuka adalah makhluk genderuwo yang sangat kejam dan bengis. Klan sesat yang telah didirikannya membuat kerajaan Nirwana merasa terancam."
"Katakan padaku yang mulia, siapa raja Dasamuka itu sebenarnya dan ada hubungan apa dia dengan kerajaan Nirwana?"
"Putriku Dea Chandra Maya, raja Dasamuka sudah lama menjadi musuh bebuyutan kerajaan Nirwana. Dulunya, kerajaan Angkara yang saat ini dikuasainya sebenarnya kerajaan itu direbut dari seorang raja yang bernama Patih kala."
"Ampun kan saya yang mulia, kenapa kerajaan Angkara menjadi musuh bebuyutan kerajaan Nirwana?"
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*