
Mendengar ucapan Dea, Ara pun meredakan emosinya yang meluap. Matanya yang tadi berubah hitam dan taringnya yang muncul, kembali menghilang.
"Lain kali, kau jaga sikapmu kalau sedang marah!" ujar Dea seraya berlalu meninggalkan Ara.
Kemarahan Ara semakin memuncak. Hatinya terasa sakit, bagai dicambuk oleh gadis, yang usianya lebih kecil dari dirinya. Lalu kemarahan itu, dilampiaskannya dengan memukul tiang besi, yang berada di depan sekolah. Hingga remuk.
Melihat hal itu, seluruh teman-teman Ara yang berada di dekatnya, berdatangan ingin melihat kekuatan Ara saat itu.
"Kamu yang melakukan ini Ara?" tanya Pradana pada Ara.
"Kenapa, kau mau seperti besi itu. biar ku remukkan sekalian!" jawab Ara dengan suara ketus.
"Nggak, aku enggak berani melawanmu."
"Kenapa, kau takut ya?"
"Iya, Aku nggak berani," jawab Pradana pelan.
"Ada lagi yang ingin bertanya!" teriak Ara dengan suara lantang.
"Mendengar suara Ara yang keras dan menggema, membuat nyali semua teman-temannya menjadi ciut. Perasaan takut mulai merajut di dalam hati mereka masing-masing.
Dengan pelan, mereka semua berangsur mundur dan menjauhi Ara, yang saat itu sedang dirasuki rasa amarah.
Sementara itu, Dea yang telah menjauh dari tempat Ara berdiri, dia melihat betapa sadisnya Ara, jika marah sedang menguasai pikirannya.
Ketika Ara berdiri seraya mengepal tinju, seseorang langsung datang menghampirinya. Dia duduk tepat di belakang Ara yang sedang berdiri.
"Kemarahan yang sedang kita alami, harus bisa dikendalikan. Kalau nggak, dapat merusak ingatan kita. Kau harus bisa menguasai diri, jika kau sedang marah."
"Kau nggak perlu menasehatiku, aku bisa mengendalikan diriku sendiri!" jawab Ara seraya menoleh ke belakang.
"Aku utusan dari raja Dasamuka. Kau terlalu bernafsu untuk menanggapi sesuatu. Cobalah belajar untuk mengendalikan diri, agar rahasia siapa dirimu tidak diketahui oleh orang banyak."
"Tapi gadis kecil itu, telah membuat emosiku meluap. Ingin sekali rasanya aku menghabisinya."
__ADS_1
"Jangan lakukan itu, kau belum tahu siapa Dea, dia adalah putri raja Askara dari kerajaan Parahyangan."
"Kenapa aku harus takut dengannya, bukankah aku seorang putri raja juga. sama dengan dirinya."
"Itu benar. Tapi saat ini, kekuatannya jauh melebihi kekuatanmu."
"Apa maksudmu! Jadi kau menganggap aku lemah dan kau mengira aku tak mampu melawannya!"
"Bukan begitu maksudku yang mulia Ratu. Aku hanya sekedar mengingatkanmu, betapa meruginya kau, jika tak mampu mengendalikan nafsumu."
"Kau nggak perlu menasehatiku, enyah kau dari hadapanku!" bentak Ara dengan kesal.
Di saat ucapan itu keluar dari mulut Ara, perempuan yang berada di belakangnya langsung menghilang. Lalu Ara pun bergegas memasuki kelasnya, yang saat itu semua temannya sudah berada di dalam.
Di saat proses belajar mengajar sedang terlaksana, tiba-tiba Ara dan Dea sama-sama mendengar satu bisikan gaib di telinga mereka.
Tanpa berpikir panjang lagi, Dea langsung keluar dan menghilang di balik pintu. Begitu juga dengan Ara, dia juga keluar dan menghilang entah ke mana.
Di jagat raya, mereka bertemu dalam postur tubuh berbeda. Ara dan Dea mereka bertemu dalam keadaan sama-sama dewasa.
"Tapi Ayah, aku belum pernah melakukan hal ini. Apa menurut Ayah, aku mampu berperang melawan kerajaan Parahyangan?"
"Kenapa kau mesti gentar putriku, bukankah ilmumu lebih kuat dan lebih tangguh dari putri kerajaan Parahyangan!"
"Bukankah, putri kerajaan Parahyangan itulah, yang telah membunuh jenderal kerajaan Angkara?"
"Benar putriku, tapi jenderal kita waktu itu sedang lengah dan putri dari kerajaan Parahyangan langsung menusukkan tombaknya di jantung jenderal kita. Sekarang balaskan kematian jenderal kita dan tunjukkan kepada Ayah, kemenangan untuk kerajaan Angkara."
"Baiklah Ayah, aku akan berusaha untuk meraih kemenangan itu!"
"Bagus putriku, bawalah prajurit sebanyak yang kau mau. Tumpas habis kerajaan Parahyangan. Ingat, jangan sampai ada yang tersisa termasuk putrinya."
"Baik Ayah, aku akan lakukan perintah Ayah. Sesuai dengan keinginan Ayah, akan aku tumpas habis kerajaan Parahyangan. Di hadapan Ayah, aku akan mempersembahkan kepala raja Askara."
"Bagus putriku, segeralah berangkat!"
__ADS_1
"Baik Ayah, titah Ayahanda segera saya laksanakan."
Dengan membawa begitu banyak pasukan, Ara langsung menuju arena perang dengan mengendarai kuda yang berlari sangat kencang.
Sementara itu. Di medan perang, Dea dengan ribuan pasukannya telah menunggu.
"Wahai pasukanku yang gagah berani,di hadapan kita telah berdiri ribuan prajurit dari Angkara. Mereka semua berusaha untuk menindas dan merebut wilayah yang telah dikuasai oleh kerajaan Parahyangan. Tugas kita sebagai prajurit, harus membela kerajaan kita masing-masing. Untuk itu, mari kita buktikan pengabdian kita kepada kerajaan kita, dengan cara melawan mereka semua!"
"Hu..hu..hu!"
"Suara prajurit itu menggema di seluruh jagat raya. Dea yang posisinya saat itu sebagai jenderal perang, telah siap siaga mengarahkan seluruh pasukannya untuk maju ke medan perang. dua tombak yang berada di punggungnya, pedang di sisi kanannya serta sepuluh pisau terbang siap menghujami seluruh prajurit Angkara yang berusaha untuk menyerang.
"Maju....!" seru Ara yang telah berada dekat dari prajurit Dea.
"Hu.. haha..hu... haha!" jawab prajurit itu serentak.
Maka pertempuran pun tak dapat dielakkan lagi dua ribu pasukan Dea melawan lima ribu pasukan Ara, mereka bertempur habis-habisan, tanpa memperdulikan rasa letih di antara mereka.
Dua jam berperang, kedua pasukan itu sama-sama melemah. Ara yang saat itu sebagai panglima perang melihat Dea sedang menghabisi pasukannya di tengah medan perang. Dia pun langsung berlari mengejar Dea.
Pada kesempatan itu, Ara yang selama ini merasa sakit hati dengan ucapan Dea, dia berencana akan menghabisi Dea hingga gadis kecil itu hancur.
Kekuatan keduanya sangat dahsyat, benturan-benturan pedang yang disertai dengan ilmu tenaga dalam yang kuat, membuat langit berubah-ubah warna. Cahaya cipratan dari kedua pedang yang beradu mengakibatkan angin badai yang berhembus sangat kencang.
Kilat dan petir datang menyambar, seluruh prajurit tampak gentar dan ketakutan. Namun pertempuran sengit antara Ara dan Dea tak bisa dihentikan.
Rasa dendam di hati Ara kepada Dea, membuat mereka saling adu kekuatan. Kerajaan Angkara dan kerajaan Parahyangan bergoncang kuat, ketika dua kekuatan itu beradu di medan perang.
"Hentikan...!" teriak raja Dasamuka ketika dia telah berada di bibir arena perang.
"Mendengar suara kuat dan menggema tersebut banyak prajurit yang tak sadarkan diri. Dari kedua telinga mereka mengeluarkan darah, akibat ilmu dalam yang dipergunakan oleh Dasamuka terlalu tinggi.
Mendengar teriakan itu, Ara dan Dea langsung menghentikan peperangan. tak ada yang kalah dan tak ada yang menang saat itu. Namun atas perintah raja Angkara, perang pun segera dihentikan. karena jika tidak dihentikan jagat raya akan hancur oleh kekuatan mereka berdua.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*